Connect with us

Hi, what are you looking for?

Community

Akal Bulus Expo Kampus

Kuliah itu ada enaknya dan ada ndak enaknya, iya to?

Minggu akhir di bulan Desember dan satu bulan di bulan Januari, adalah minggu dan bulan dimana mayoritas perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi yang ‘sudah tidak familiar namanya’ ditelinga kita, mulai libur akhir semester ganjil. Libur yang didamba-dambakan bagi mahasiswa baru dan mahasiswa semester ganjil 3 dan 5.

Setelah kurang lebih sekitar 7 minggu melaksanakan kuliah rutin sarta berbagai kegiatan tanpa henti, diselingi dengan Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester yang menguras banyak tenaga, fikiran dan hati, belum lagi kegiatan-kegiatan diluar perkuliahan yaitu pemilu dalam kampus, kegiatan organisasi intenal kampus, eksternal kampus yang diikuti.

Banyak hal yang mungkin dilakukan mahasiswa semester ini mulai mencari tempat magang yang tidak wajib dari kampusnya, bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan di semester berikutnya, wisata atau plesir bersama keluarga besar, ikut kursus untuk meningkatkan skilnya, atau mengekspos kampusnya ke sekolah-sekolah yang berada disekitarnya atau sekolah yang pernah ia tempati dulu sebelum menjadi mahasiswa

Namun berbeda dengan yang dialami dan dirasakan mahasiswa tingkat akhir (semester 7, 9, 11, 13 mungkin), mereka sibuk mengetik, mencetak, meneliti skripsi, sidang skripsi, seminar proposal skripsi, berkali kali revisi, tes toefel yang tanpa henti, bahkan ada juga yang baru ngambil KKN atau magang yang wajib sebagai syarat memenuhi SKS di semester ganjil ini. Namun tidak usah berkecil hati, tak jarang setelah melaksanakan itu semua hasil yang dicapai sangat membanggakan dan memuaskan, contoh pada saat setelah KKN banyak mahasiswa yang menemukan pasangan hidupnya/cinta lokasi dan berakhir di jenjang pelaminan, yang selesai sidang berhak mendapat revisian dan setelah itu membawa keluarga besarnya ke kampus guna menyaksikan anak atau keponakannya memakai toga wisuda.

Sudah menjadi fakta umum bahwa ketika siswa yang duduk di bangku kelas 12 sekolah SMA-MA-SMK akan lulus dan membaur kembali dengan keluarga dirumah sebelum menentukan memilih bekerja atau melanjutkan mengejar cita-cita yang diimpikannya. Untuk mewadahi masa peralihan ini banyak inisiatif yang diberikan oleh guru disekolah, mulai dari mengadakan expo kampus, campus fair atau pun job fair. Mereka dengan bangga mendatangkan alumni-alumni yang terlebih dahulu mencicipi rasanya perkuliahan di perguruan tinggi atau bekerja dengan gaji tinggi.

Tak kalah kreatif dengan guru disekolah, mahasiswa yang membentuk aliansi mahasiswa sekota memang menaruh program kerja turun temurun di organisasinya, memperkenalkan kampus dari sekolah hulu hingga ke sekolah hilir, dari madrasah dipusat kota hingga madrasah dipinggiran desa, semua itu guna menyebarkan semangat “jangan berhenti belajar dan mengenalkan apapun yang ada dalam kampus yang ia tempati”.

Jas-jas almamater yang berwarna warni nampak menambah semaraknya kedatangan mereka, meski sebenarnya almamater hanya digunakan saat demo dan acara-acara formal

Dengan bergerombol bagai tentara pembawa misi perdamaian, memasuki ruang-ruang musuh, siswa yang kerdil akan pengalaman di bangku perkuliahan, mulut-mulut manis bergincu dan rambut rapi klimis menambah kepercayaan diri menghancurkan barak-barak pemikiran siswa yang beranggapan kuliah itu tidak penting. “Pokoknya kita jangan sampai kalah argument”.

Untuk sekolah yang tergolong namanya tersohor di kota atau setidaknya domisilinya tidak jauh dari kota. Pemikiran siswa yang remeh seperti diatas sangat jarang ditemui lantaran memang budaya di kota adalah budaya berkependidikan, dan berkemajuan mereka tahu sendiri bagaimana dunia kerja sangat sulit untuk dicapai apabila tidak memiliki gelar dan ketrampilan. Tidak itu saja kuliah sudah dianggap sebagai rukun pendidikan sehingga amat gengsi apabila masuk ke PTN/PTS yang tidak ternama.

Lain dengan di desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dan perlombaan duniawi. Pola pikir siswa disana sangat sederhana bahkan terkesan menggampangkan pendidikan “gausah kuliah toh akhir-akhirnya kerjanya jadi guru, mending langsung kerja, ya kalo disini ga ada lowongan ya merantau ke negara orang. Argumen ini menjadi tantangan yang tidak main-main bagi mahasiswa yang mau ngexpo kampus disana,

Advertisement. Scroll to continue reading.

Saya tidak bermaksud menganggap expo kampus untuk siswa kelas 12 tidak perlu, tapi memang sudah saatnya berbicara adil, bijaksana dan apa adanya adalah sebaik-baiknya penyampaian.

Dari tulisan saya kali ini, saya sangat menyoroti cara teman-teman mahasiswa dalam mempromosikan kampusnya ataupun menggugah semangat siswa dengan membuat beberapa statement dan perilaku yang saya rasa tidak apa adanya dan berkesan menyesatkan

Contoh:

“ kuliah itu enak, jadi kalian harus kuliah, apapun kendalanya kalian harus kuliah…….”

Sejak kapan kuliah jadi seenak statement diatas.? Saya pernah menemui kawan mahasiswa yang sudah diterima oleh PTN tetapi tidak lolos beasiswa. Ia tergolong tidak mampu ditambah tidak direstui orang tua tetapi tetap memaksakan untuk kuliah dengan usahanya sendiri. Ia beranggapan nanti ada beasiswa dan juga bisa ngurus penurunan UKT (Uang Kenaikan Tingkat) yang harus dibayar tiap semester.

Dalam mewujudkan mimpi tersebut ia sangat berjuang keras bertahan hidup diperantauan dengan membuat usaha serabutan, cuci pakaian milik teman-teman, menjual gorengan, pulsa, token, membawa tremos dan jual kopi keliling kampus. Belum lagi saat banyak tugas dan tidak memiliki uang untuk bertahan hidup sehingga ia harus berpuasa, tak jarang untuk berbuka ia hanya makan roti gepeng dan minum air putih.

Sedang yang saya ketahui untuk mendapat beasiswa saat sudah menjadi mahasiswa juga tidak gampang, ia harus mengurus administrasi dan birokrasi yang amat njelimet, belum lagi kuota dan pendaftarnya juga amat seret.

Sama halnya untuk penurunan UKT, untuk bisa dipertimbangkan oleh pimpinan syaratnya tidaklah sepele, harus ada yang terjadi didalam keluarganya, misal salah satu orangtua meninggal, mempunyai saudara baru lahir atau mahasiswa terkena bencana seperti rumahnya kebakaran, tanah longsor, gempa bumi dll

 Agar tidak berlebihan mending toh diganti, “kuliah itu ada enaknya ada enggaknya, jadi kalian musyawarahkan dahulu dengan keluarga, yakinkan mereka bahwa kalian layak untuk berangakat kesana”

Yang ke dua, “kalau kalian tidak kuliah kalian ngapain ? jadi petani, atau kuli?”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sudah saya pastikan mahasiswa yang sering beargumen kalimat diatas adalah mahasiswa yang ngawur, suka merendahkan orang lain, dimana pun dan kapan pun padahal sudah jelas jika negara tidak punya petani tidak akan mandiri, jika negara tidak punya kuli bangunan kampus-kampus megah tidak akan berdiri.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku.  Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Kritik

Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi...

Community

Sudah hampir seminggu ini dan kemungkinan seminggu depan mahasiswa psikologi UTM banyak tugas dan banyak kuliah pengganti untuk mengganti kuliah yang diganti. Karena program...

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Inspirasi

Tuhan telah meniupkan ruh-ruh perdamaian pada setiap insan yang mengatakan dirinya sebagai manusia NU.

Inspirasi

Dan kau, wahai anak bangsa. Bangkitlah dari keterpurukanmu; yang mudah sakit tipes, yang mudah kena debede, padahal makanmu sudah enak-enak.

Inspirasi

... seperti kopi dengan hitam dan pahitnya.

Kritik Santai

“Iya memang seharusnya begitu bung, iya nggak harus begitu juga kali sahabat, memangnya harus seperti itu yah kakanda”

Tips

Tenanglah, ini bukan soal Take Home yang harus membuat makalah 15 halaman, dengan ukuran kertas A4, font Times New Roman 12, rata kanan-kiri, dan...

Advertisement