Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik Serius

Khotib dan Anomalinya

Sebagai Muslim yang baik, tentulah tidak rela membiarkan simbol-simbol agama dijadikan tempat untuk menebar kebencian hanya karena dangkalnya ilmu pengetahuan.

Sesampainya di dalam masjid, saya langsung menempati bagian depan yang masih terlihat kosong. Demi keutamaan sholat jumat di satu sisi, dan mencari titik dingin (bantuan kipas angin) disisi yang lain, terpaksa saya melangkahi jamaah lainnya yang (mungkin) sedang berdzikir, sambil bilang “nyu’un sewu”, kata orang Jawa. Khotib jumat menaiki mimbar. Tubuhnya gagah, dibalut jaz warna hitam, membuat semua jamaah terdiam-disamping “berbicara” pada saat khotbah berlangsung memang dilarang oleh syariat. Saya yang baru saja mengakhiri sholat qobliyah juga tak mau kalah. Diam seribu bahasa, menunduk, lalu menyimak sang khotib yang mulai berbicara.

Sang khotib sesekali menunduk-seperti sedang membaca sesuatu-lalu berbicara. Setelah menunduk, ia mengembalikan pandangannya ke arah jamaah, lalu berbicara. Begitu seterusnya. Ayat-ayat suci al-Qur’an dan beberapa hadits Nabi ia lontarkan. Termasuk (Q.S. Fasholat: 30) yang menjadi pokok bahasan khotbahnya kali ini turut ia sampaikan; tema istiqomah. Tiba-tiba saya mulai curiga, lalu membatin; kenapa si khotib harus menunduk terlebih dahulu ketika hendak menyampaikan dalil? Mungkin untuk memastikan dalil yang ia sampaikan tidak keliru, lebih-lebih untuk membacakan terjemahannya sekaligus (pikiran nakal saya benar-benar tak dapat dibendung).

Kecurigaan saya terus menyertai perjalanan sang khotib selama khotbah berlangsung. Dengan penuh rasa curiga, saya mencermati secara seksama setiap kata dan kalimat yang ia sampaikan. Materi khotbahnya sangat literal, tekstual, datar dan berpangkal pada subyektivitas. Tentu saja, pendapat para ulama yang memiliki otoritas di bidang ilmu tafsir dalam hal ini terabaikan begitu saja. Ini berbahaya, dan membuat saya justru semakin panas dibawah kipas-kipas itu.

Sang khotib mencoba untuk mengeksplorasi tema “istiqomah” (sebagaimana yang terkandung dalam surat diatas) sejauh mungkin, sampai-sampai ia tersesat. Bahwa betapa pun seseorang alim ilmu agamanya, bergelar Prof. Dr. KH, pemimpin perguruan tinggi Islam Negeri, dan pengasuh pondok pesantren dengan ratusan bahkan ribuan santri sekalipun, tetapi suka mempermainkan agama Allah, mengubah hukum-hukumNya, niscaya ia tidak dapat dinamakan orang yang istiqomah dan tidak perlu diikuti.

Secara tekstual tidak ada yang salah dengan pernyataan sang khotib, sebab paling tidak ia tidak menyebut identitas manapun. Kendati pun demikian, teks yang ia bangun sesungguhnya sangat ekspresif, tendensius, dan secara kontekstual, akan mudah ditebak orientasinya kemana. Apalagi, misalnya, belakangan sedang viral pernyataan salah seorang tokoh yang ciri-cirinya sangat melekat dalam redaksi sang khotib.

Tetapi sudahlah kita abaikan saja soal singgung menyinggung, ciri-ciri, tidak terlalu penting. Yang terpenting, bahwa menempatkan mimbar agama bukan pada tempatnya merupakan sebuah kedhaliman yang tidak dapat dibenarkan oleh dalil agama manapun. Menyampaikan firman-firmanNya sembari main senggol pihak lain dengan kemarahan tentulah bukan ajaran agama. Mimbar agama adalah simbol kesucian, bukan kebencian.

Salah satu peristiwa keagamaan mutaakhir di Indonesia adalah eksploitasi mimbar-mimbar agama. Mimbar seketika disulap menjadi tempat menghasut, menyampaikan pesan-pesan kebencian dan agitasi politik. Dalam konteks ini, para penguasa negeri atau lebih tepatnya orang-orang yang tidak ia sukai sedang berkuasa, dan bukan bagian dari golongannya, adalah sasaran tembaknya. Seberapa sering kesucian masjid harus ternodai oleh sikap khotib model begini? Berapa jumlah mimbar agama yang dimanfaatkan untuk sekedar menebar kebencian? Silahkan lacak sendiri jejak digitalnya!

Sesungguhnya jika kita amati secara seksama, peristiwa-peristiwa senada bukan hal baru di negeri ini pada khususnya. Sekurang-kurangnya sejak pra-kemerdekaan sampai era reformasi sekarang ini, sentimen agama dalam menyikapi setiap persoalan masih tetap berlangsung tiada hentinya. Salah satu alasan yang selama ini kuat dijadikan faktor maraknya penyalahgunaan simbol-simbol agama adalah perbedaan pandangan politik, ideologi, budaya dan yang paling esinsial adalah minimnya bekal pengetahuan tentang agama. Defisit pengetahuan ini yang pada gilirannya akan melahirkan konservatisme dalam beragama.

Naiknya kelompok-kelompok Islam konservatif di ruang publik menegasikan apa yang kita sebut dengan ‘rahmatan lil alamin’ sebagai doktrin tertinggi dari Islam itu sendiri. Kelompok ini kerap menghakimi orang lain yang berbeda (baik secara politik, ideologi, budaya, apalagi agama) dengan justifikasi teks-teks suci yang ia pahami secara sepihak. Apalagi, misalnya, ia tidak memiliki bekal ilmu yang memadai untuk berbicara seputar ke-Islaman beserta kitab sucinya al-Quran, persis seperti si khotib tadi. Maka dalam kondisi inilah, sebenarnya, hukum Islam akan bias dan dalam waktu yang bersamaan Islam akan kehilangan nilai-nilai kelembutannya. Ngeri!

Zuly Qodir mengutip pendapat Luthfi as-Syaukanie dalam bukunya yang berjudul ‘Wajah Liberal Islam Indonesia’ terbitan 2002, bahwa sekurang-kurangnya ada tujuh pendekatan dalam memahami agama, agar agama terus relevan dan capable atas persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umatnya; pendekatan antropologis, sosiologis, feminis, fenomenologis, filosofis, psikologis, dan pendekatan teologis (Zuly Qodir; 29: 2007). Teori yang ditawarkan oleh Luthfi yang merupakan hasil dari petualangan intelektualnya ini perlu diarusutamakan, disamping juga terdapat sekian banyak kitab-kitab tafsir yang cukup otoritatif sebagai pijakan ilmiah memahami kitab suci al-Quran.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tetapi sayangnya, sekian banyak perspektif yang ditawarkan oleh para ulama/ilmuwan kita, rupa-rupanya tidak disambut baik oleh sebagian pemuka agama kita. Implikasinya, jelas akan menghasilkan eksklusivisme dan kejumudan dalam memahami ayat al-Quran, seperti kisah khotib diatas yang cenderung tekstualis, misalnya. Padahal, pendekatan tekstual gagal memberikan keadilan yang utuh atas ayat-ayat tertentu yang ditafsirkan. Akibatnya, ayat-ayat al-Quran akan dianggap kehilangan relevansinya dengan konteks masyarakat Muslim kontemporer, dan pada gilirannya justru akan merusak prinsip-prinsip dasar al-Quran itu sendiri (Abdullah Saeed; 12: 2016).

Dalam satu fase dimana kelompok-kelompok Muslim tekstualis-konservatif ini sedang naik-naiknya, disajikan secara virtual dengan framing sedemikian masifnya, maka upaya preventif dan sikap kritis-konstruktif dari pihak eksternal perlu ditekankan. Menyajikan ceramah keagamaan dengan lebih inovatif, melakukan counter attack secara arif mungkin adalah salah satu caranya. Sebagai Muslim yang baik, tentulah tidak rela membiarkan simbol-simbol agama dijadikan tempat untuk menebar kebencian hanya karena dangkalnya ilmu pengetahuan.

Khotib turun dari mimbar. Si muadzin menyambutnya dengan lantunan iqamah yang menyeruak kemana-mana. Para jamaah yang berada di samping kanan-kiri dan depan-belakang mulai berdiri membentuk shaf-shaf sedemikian rapi. Dan saya, harus mengakhiri tulisan ini. Allahu akbar..!

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Tunggu saja waktunya, dimana UAS akan mendeklarasikan diri sebagai "penantang khilafah" dan menyatakan bahwa NKRI sudah final.

Inspirasi

Tuhan telah meniupkan ruh-ruh perdamaian pada setiap insan yang mengatakan dirinya sebagai manusia NU.

Kritik

Dan yang terjadi di negeri ini dalam beberapa bulan terakhir yaitu meningkatnya jumlah keributan, baik dalam soal agama, politik dan ekonomi. Ribut dalam artinya...

Inspirasi

Islam yang sebenarnya itu ramah, rahmah, toleran dan rahmatan lil’alamin. Dan itu direpresentasikan dengan ‘Islam Nusantara’.

Kritik

Kau tidak perlu keluar, sebab kau memang tidak pernah masuk. NU bukan pintu lokalisasi JPL, yang bebas kau buka kapan saja tergantung petuah hawa...

Kritik

Kamu yang Pernah Pergi, Bukan Aku dan Kambalilah, Aku Masih yang Dulu

Anekdot

Sudah lama kupikirkan tentang ini: tentang Islam; tentang kopi; dan, tentang penjual. Biar lebih mudah kau baca, atau aku lebih kalem menulisnya, kusebutkan satu...

Kritik

Hati-hati cabarisme itu lebih radikal daripada yang itu-itu.

Advertisement