Connect with us

Hi, what are you looking for?

Community

Arsima, Gadis yang Malang

Mendengar cerita Ayu yang ditinggal merantau suaminya, aku teringat kisah ju’ Arsima. Puluhan tahun lalu ditinggal merantau suaminya ke Arab Saudi. Aku turut berduka atas perkara yang menimpa rumah tangga Ayu dan ju’ Arsima. Mereka tidak lagi mendapat surat dari suaminya dari perantauan.

Aku masih ingat betul kejadiannya. Tak seorang pun peduli. Selain karena alur bicaranya tidak jelas, juga karena setiap kali ia bicara, air liur merah sisa minah  bercipratan kemana-mana. Namun entah mengapa, aku melihat ada pedih yang luar biasa pelik dari matanya. Sepasang kejora yang seringkali membesar saat melihat pemuda Jepang melintas di depannya. Tak tanggung-tanggung, acapkali ia pun meludah jijik begitu saja. 

Berhari-hari dan berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, aku dibuat penasaran tentang beban yang dipikul oleh ju’ Arsima ini. Bahkan pak Mahwi, tetua desa mengaku ada banyak hal dalam masa lalu ju’ Arsima. Namun tidak banyak yang ia ketahui, mengingat  ju’ Arsima merupakan pendatang sekitar empat puluh tahun silam. Tak terasa, usiaku sudah dua puluh tahun saat tubuhnya sudah lapuk dimakan usia. 

Berkali-kali aku coba  mendekatinya, namun sebanyak itu pula aku gagal. Kesal, memang. Sebab untuk menemuinya saja aku harus melewati suatu badai yang entah orang mengistilahkannya apa. Panas dan mengundang tabah. Penuh tantangan. Sebab bapak, hanya membolehkanku keluar saat siang hari saja. Selebihnya, aku harus mengarang alasan untuk menghindari dua alisnya yang akan menyambung menjadi satu. 

Sepotong langit yang kebiru-biruan mengkilat berhias awan tebal yang menggantung membentuk pola-pola gunung, gadis, rumah, buku, bayi, dan semuanya. Lumayan terik. Pohon perdu yang tumbuh entah sejak kapan itu seolah tak pernah bosan menyambutku datang untuk kembali menemui ju’ Arsima di kediamannya. Bisa kupastikan, bangunan berdiameter 6×12 itu, tak kalah lebih rapuh dan lapuknya dari tubuh ju’ Arsima yang sudah merunduk seperti padi saat siap dipanen para petani.

Kurasakan angin berdesir was-was menerpa wajahku, kerikil-kerikil marah dan gusar dibawah sandal saat aku telah tiba tepat di halaman rumahnya. Aneh. Tidak seperti biasanya. Ju’ Arsima keluar dan bergegas menarikku ke balkon rumahnya. Napasnya seolah akan segera berakhir beberapa detik lagi. Memandang bibirnya yang mulai berseru-seru aneh, seketika membuatku merenung.

“Dengar! Dengar oi!” ada banyak hal yang ingin disampaikan ju Arsima. Namun  bibirnya kelu saat tiba-tiba ada banyak tatapan mengejek mengarah pada kami dari tetangga yang lewat berlalu lalang di jalanan depan rumah ju’ Arsima. Kebetulan, rumahnya persis bersinggungan dengan jalan simpang tiga kampung Jabal Ali.

Aku melengkungkan kedua sudut bibirku membentuk bulan sabit. Berharap, ia akan berangsur tenang dan melanjutkan ceritanya yang terpotong sekat lara. Perih kulihat perempuan setegar ju’ Arsima, mampu bertahan di tengah sunyi yang melolong-lolong ditelan waktu. Nyaris tak ada seorang pun yang berinteraksi, pun berbicara dengannya. Aku memasuki matanya hingga ke relung-relung terpencil sekalipun. Aku berasumsi, jalan keriput wajahnya mengandung banyak misteri yang luar biasa pelik. 

 “Tenang ju’, kauleh tak ma’ kaemma’ah Khawatirlah dengan wajar!” ia tersenyum dan menepuk punggung tanganku. Seolah tak ada beban sama sekali dalam hidupnya. Seketika, aku dijalari perasaan tentram luar biasa. Sebuah kenangan yang tak pernah mati dari mata ju’ Arsima telah terhidu dan tak lama lagi akan menerpa nafas batinku. 

Tadha’ se taoah, aku teramat benci manusia berjenis lelaki. Tetapi bertahun-tahun lamanya aku  menyembunyikn rahasia ini dengan sangat hati-hati. Lelaki yang paling aku benci adalah mereka yang berusaha menasihati atau yang berkata kepadaku bahwa mereka ingin menyelamtkanku dari kehidupan yang aku jalani,” matanya menyala-nyala saat mengucapkan kata LELAKI. 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Aku menyimaknya begitu cermat. Sayang, suaranya tiba-tiba tercekat. Entah apa yang membuat perempuan bersampir hijau lumut tua itu tidak melanjutkan ceritanya. Lagi-lagi, aku meyakini adanya sebuah misteri yang badai dan berat sekali untuk dinyatakan.

Tanpa kusadari, mata ju’ Arsima berkaca-kaca. Dari air muka dan keringat yang jatuh berbondong-bondong, aku menangkap sebuah bencana besar yang belum tuntas. Bencana yang bahkan mengalahkan hebatnya kedahsyatan gempa Aceh 2004 lalu. Jalan-jalan keriput di wajah dan di tangannya seolah-olah berteriak pilu saat kenangan lima puluh sembilan tahun lalu datang menyerang dan memenuhi setiap inci memori otaknya. Terlonjak aku menyaksikannya. Aku tak ingin memaksanya bercerita. Namun diburu penasaran, terpaksa aku menautkan telapak tangannya pelan ke tangan kananku dan ku rapal mantra untuk membaca masa lalu dalam pejam yang tuntas.

Peristiwa yang benar-benar tidak pernah Jepang akui sebagai salah satu bentuk kekejiannya terhadap rakyat Indonesia pada Maret 1942-1945. Gadis berambut pirang sebahu dengan kacamata minus tebal itu melihat, Arsima begitu rupawan saat kira-kira usianya  empat belas tahun. Tiga tahun lagi, Indonesia akan dinyatakan merdeka. Semangat belajar dan darah muda nampak berkobar-kobar dari mata para gadis Indonesia saat itu. 

Dengan senang hati, pak Asnawi menyerahkan Arsima ke tangan Dai Nippon agar dikirim ke Eropa untuk belajar tuntas. Kelak, Arsima akan menjadi orang penting di Nusantara, begitu harapnya. Beribu-ribu tangan rakyat tengadah mengamini harapan para gadis muda yang akan segera dikirim ke Tokyo, Jepang dan negara lainnya. 

Mula-mula, mereka diangkut truk menuju dermaga untuk menyebrang, sebab untuk fasilitas pesawat terbang, Indonesia sangat tidak memadai kala itu. Rakyat Indonesia dengan mudah percaya. Bukannya keluar negeri, mereka malah di tempatkan di bekas rumah De Boer di jalan Bungur dekat Stasiun Senen Jakarta. 

Perasaan para gadis itu terbuncah bukan main. Janji hanyalah janji. Tiada tempat untuk belajar dan bermain. Yang ada hanyalah teriak. Ingin sekali rasanya bunuh diri dan mati. Namun selalu ada tangan-tangan keriting yang menahan niat mereka. Sejak saat itu, mereka hilang kuasa atas tubuh dan raga mereka. 

Baru Almera mengerti, rupanya inilah alasan Arsima seringkali meludah setiap kali seorang lelaki melintas dari hadapannya. Ia tidak menyangka, begitu besar derita yang bergumul dalam masa lalu perempuan di hadapannya itu. Ia terpaksa melayani berpuluh-puluh tentara Jepang yang datang silih berganti setiap harinya. Menjerit pun rasanya percuma. Hanya ada sekat yang diam-diam tak bisa ia ungkapkan dalam dilema hari-harinya. Sungguh jahannam manusia-manusia berjenis lelaki itu.  

Tiada lagi purnama yang tenggelam dalam gulita. Apalagi, senja yang terbungkus cahaya sepia di langit yang merana. Hanya ada berkotak-kotak dinding putih di antara batas yang terbatas. Satu lagi, tiada seorang pun dari para orang tua yang tahu bagaimana nasib anak gadis mereka. inilah yang  paling Arsima sesali dari masa lalunya.

Tiga tahun berlalu bagai berjalan sepanjang detil jalanan bumi yang membentang luas. Malam dan siang. Sunyi dan benderang. Bendera merah putih berkibar dimana-mana. Para gadis itu dilepas begitu saja. Terlunta-lunta sendiri di negara yang bahkan menjadi asing dari pandangan mereka. Inilah penderitaan yang tiada duanya. Tidak ingat dimana alamat rumah. Dan jikalau pun ingat, rasa malu ketidak sanggupan yang tak terkira menghalangi niatan mereka pulang. Gelandangan di negara sendiri. Satu persatu dari mereka gugur tanpa perlawanan. Kering dan kemarau menggerogoti tubuh ringkih mereka. Dan sekarang, barangkali para gadis buangan itu telah menjadi nenek-nenek buyut atau bahkan lebih dari itu.

Arsima sangat beruntung diselamatkan seorang pria tua asal Madura yang mau berbaik hati menikahinya. Trauma memang. Namun Arsima tak diberi pilihan lain. Dua bulan di Surabaya, akhirnya ia dibawa pulang ke Madura. Keras dan penuh ambisi. Bau garam menyengat penciuman. Remaja cantik sepertinya jelas mengundang tanda tanya para tetangga. Atas dasar apa ia mau dinikahi lelaki tua yang bahkan tidak punya kasab berarti di tanah kelahirannya sendiri. Apalah pedulinya? Toh, hanya lelaki tua bernama Ahmadain lah satu-satunya orang yang mau berbaik hati padanya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hidup susah berdua rasanya sangat menyiksa tanpa tangisan bayi yang merobek-robek kesunyian malam-malam mereka. Ahmadain lama-lama gusar istrinya tidak kunjung hamil. Jelas sekali di wajah Arsima mengutuk kejadian lima tahun lalu saat ia dibuat mandul selama-lamanya oleh Dai Nippon kala pemerkosaan itu dilakukan.

Berat hati Arsima merelakan suaminya merantau ke Saudi Arabia. Setahun, dua tahun, ia memang mendapat kabar dari suaminya. Namun, bukan Arsima namanya jika tidak diterpa badai bertubi-tubi dalam hidupnya. Suami sekaligus orang yang ia punya satu-satunya menikah lagi dengan TKI perempuan yang merupakan salah seorang tetangga. Pantas saja tak lama setelah Ahmadain tiba, segera ia berangkat. Jiwa raganya terpukul bukan main. Hanya tinggal sepotong baju kumal lelakinyalah yang paling mengerti arti marah dan sakit yang tak pernah sepi.

Begitu besar luka yang membara di muara hatinya. Sejak itulah, rasa benci pada lelaki hadir membabi buta. Terlebih, setelah mendapat perlakuan tidak senonoh dari mertuanya yang telah renta. Cuih. Tak ada pilihan lain. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan membunuhnya diam-diam. Setiap nafas beratnya keluar masuk dari rongga hidungnya, Arsima mengutuk dan membatasi interaksi apapun dengan lelaki manapun juga.

Benarkah? Dimana letak keadilan Tuhan untuknya? Aku terengah sesaat setelah membuka kembali mata yang terpejam sejak satu jam yang lalu. Kudapati ju’ Arsima gemetar jatuh berkeping-keping. Napasnya naik turun tak beraturan. Wajahnya tampak sangat puas dengan bola mata yang mengejar arah langit-langit. Sontak aku menggigil dan merasa sangat bersalah telah begitu penasaran dengan menguras memori masa lalunya. Aku melepas genggaman tanganku dan memeluk tubuh senjanya haru. 

Tiba-tiba ia terguling ke tanah berkerikil tepat di bawah kakiku begitu aku melepaskan pelukan. Astaga! Perlahan pancaran matanya padam dan terpejam membawa masa lalunya yang kupaksa dirasainya kembali. Ah, ju’  Arsima. 

Annuqayah, 2019.

Comments

Kamu juga membaca..

Anekdot

“Ada beban dalam pikiran yang selalu menjadi hantu dalam mimpi. Lalu menjadi nyata setelah bangun.” *** Perjalanan kala itu membawaku ke sebuah tempat. Melalui...

Community

Guyub Rukun kembali mengadakan Sayembara Tulisan sastra berupa puisi, cerpen dan esai. Sayembara ini bertujuan untuk mengasah kemampuan penulis yang ada di Indonesia, memberi...

Anekdot

"Cewek yang tiap pagi ngopi di sini ke mana, Mak?"

Anekdot

Menunggu sama dengan memerpanjang waktu. Perpindahan dari Senin ke Selasa terasa lebih panjang dari pada seminggu. Tapi waktu tidak berhenti, apalagi mundur.

Kritik Serius

Ibu-ibu penjual cabe tertawa melihat bayi dungu mengemut jempolnya. Bayangkan jika kau melakukan itu, masih lucukah?

Kritik Serius

“Hei, Elena. Kini kau sudah mapan. Impianmu sudah tercapai, bahkan terlanjur lewat. Lihatlah! Langkahkan kakimu keluar dari hotel bintang lima yang glamor dan ramai...

Kritik Serius

Mengerikan, Memang! Pertikaian itu penuh dengan sikut dan kaki. Kedua kubu saling mengerutkan dahi, hampir sudah alis menyatu. Satu pun dari mereka, enggan mengalah....

Kritik Serius

Takbir, Tahmid, dan Tahlil sedari sore sudah berkumandang. Sebagai umat yang taat, serta sekaligus sebagai pacar yang taat juga, tak lupa ku kumandangkan Kebesaran...

Kritik Serius

Tubuhku menggigil oleh terpaan angin malam lereng Medini. Dingin menusuk, masuk melalui pori-pori kulit hingga tulang lupa akan rasa hangat. Semarak malam terlengkapi oleh...

Kritik Serius

  “Duh, kang, pelan-pelan kang..!” desah Iyem tergeletak lunglai di atas kasur tanpa temaram lampu. Sedang Sidrun masih perkasa dengan keringat yang pelan-pelan mengucur...

Advertisement