Connect with us

Hi, what are you looking for?

Labil

Ayu yang Hilang saat Lelaki Tegang

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Diantara kita bertujuh, kaum cabarisme, Lek Ipung lah yang paling memikat hati kita karena kesabarannya. Nama lengkapnya Syaifur Rahman, kita akrab memanggilnya “Ipung”. Lek Ipung memang tak secerdas apalagi seganteng kita berenam, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar sampai ke luar tanah kelahirannya Sumenep.

Pada suatu malam, saat adik-adik Mahasiswa Baru (MABA) sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk Ospek besok, kita justru sibuk menghakimi Lek Ipung yang tak kunjung laku di Warung Depan Kampus (WDK). “Setiap kali kumpul mingguan, kamu kok sering datang terlambat, Pung”, tegur Kang Rasyiqi mu’assis Cabarus.com kepada Lek Ipung yang baru saja memesan kopi. “Betul, malah hanya dia satu-satunya anggota cabarus.com yang tidak taat aturan”, sambung Dinda Syair membenarkan teguran Kang Rasyiqi tadi.

Tapi karena lek Ipung bukan tipikal orang yang mudah tersinggung, selalu santai tapi serius dan serius tapi santai, baginya teguran Kang Rasyiqi seperti air yang jatuh diatas daun talas.

Malah Lek Ipung makin nikmat dengan sebatang rokok eceran dan secangkir kopi yang baru dipesannya, membuat kita makin heran kenapa Lek Ipung bisa sekuat itu. Padahal, tidak ada pendamping disampingnya yang dikala rapuh ia dapat bersandar. Bung Rudy yang dari tadi fokus mantengin laptop miliknya, tak tahan seolah-olah ingin juga membully Lek Ipung.

Bung Rudy bergumam cukup lama, seperti sedang mencari bahan bully-an yang lebih mencekik sanubari Lek Ipung. “Ndak punya pacar, tak punya urusan penting, tapi masih saja kau sering terlambat, Pung”, uneg-uneg Bung Rudy akhirnya tumpah, berhasil meruntuhkan sikap Lek Ipung yang sejak awal memilih diam membisu. Suasana yang begitu ramai di WDK jadi semakin tak karuan setelah kita berupaya membujuk Lek Ipung agar menggubris semua pertanyaan itu dengan tawa.

Waktu kumpul mingguan kita ternyata sudah termakan oleh bullying yang tak ada hasil. Bulan purnama yang mulanya lurus diatas bilik WDK, rupanya semakin menyinggir ke sebelah barat lebih tepatnya diatas lantai 10 gedung rektorat.

Itu pertanda, Gubernur Anwar harus segera membuka meeting mingguan kaum cabarisme. Hilanglah harapan Lek Ipung untuk berbicara, memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan miring terhadapnya. Dengan ekspresi sedikit memelas, Lek Ipung memaksakan diri untuk berbicara tertatih-tatih tapi penuh kepastian. “Loh, dari tadi didesak suruh bicara, begitu mau bicara, malah mau memulai acara. Kalian waras?”

Kendati wajah Lek Ipung dirundung kekecewaan, tapi tak sedikitpun mengurangi semangat Pak Gubernur Anwar untuk melontarkan salam pembukaan. Agar kelihatan netral, saya sengaja diam, tak memberikan komentar apapun tentang Lek Ipung. “Padahal memang betul, Lek Ipung memang seperti yang diungkapkan kawan-kawan sejak awal”, pembenaran saya dalam hati. Gubernur Anwar pun melanjutkan salamnya setelah beberapa menit dipending gara-gara ulah Lek Ipung.

Seperti biasanya, kawan-kawan meminta saya untuk sekedar bertausiyah bak Abdul Somad yang sempat ditolak Ormas beberapa bulan yang lalu di Semarang. Dengan cukup santai tapi serius dan serius tapi santai saya pun bertausiyah mengambil tema “kelemahan seorang jomblo dan kelebihannya”.

Jangankan melanjutkan tausiyah, mendengar temanya saja semua mata sudah menyoroti Lek Ipung yang terlihat cuek dari tadi. Maklum, namanya juga jomblo sejati, wajarlah disoroti banyak mata.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Secara perlahan, gerak-gerik tubuh Lek Ipung yang semakin tak terkendalikan, membuat Dinda Islamuddin yang duduk disampingnya harus ngalah-pindah lalu mengambil tempat duduk lain. Mungkin karena Dinda Islamuddin merasa juniornya di Prodi Hukum Bisnis Syariah, sehingga ia harus ngalah dengan seniornya itu.

Usai saya bertausiyah selama kurang lebih 5-6 menit, Gubernur Anwar nampak sangat jenius menjelaskan “manajemen isu”. Sebuah trik atau metode dalam kepenulisan, untuk selalu sigap menangkal isu-isu yang sedang viral belakangan di media sosial maupun media mainstream.

Di tengah kobaran api semangat Gubernur Anwar memaparkan materi sampai ke akar-akarnya, handphone Lek Ipung tiba-tiba berdering, “tuuuuutt…tuuutt…tuuuuutt”. Saya pun mulai penasaran, siapa sebenarnya orang yang berada dalam panggilan masuk di handphone Lek Ipung itu.

Dengan cara mengintai di celah-celah asap tebal, ternyata Fawaid anak Sumenep yang juga pernah menjadi Bendum saya sedang memanggil Lek Ipung via telepon. Ada apa gerangan, kok Fawaid yang pernah dikabarkan jadi muncikari salah satu mahasiswi tiba-tiba nelfon tepat malam minggu. “Semoga Lek Ipung walau sedang dalam tekanan psikis jombloisme tetap kuat, tak termakan oleh tindakan amoral Fawaid”, harapan saya membatin.

Akhirnya saya mengambil handphone Lek Ipung yang berkali-kali berbunyi dengan nada dering musik arab lalu mengangkat panggilan masuknya, “halo..!! Apah, cak? Dengan suara tergesa-gesa Fawaid langsung menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan, “dimmah Ipung? Kabhele soro jhe’ bit abit kowah, eantosah e kosan” (dimana Ipung? Bilang sama dia jangan lama-lama, aku tunggu di kosan).

Kita tidak ingin Lek Ipung pergi meninggalkan forum sebelum acara mingguan ini kelar. Kita pun sepakat untuk memutar balikkan fakta kepada Fawaid, bahwa Lek Ipung tidak bisa kemana-mana malam ini. Ia wajib mengikuti kumpulan ini sampai selesai. Sesaat setelah itu saya tekan kolong merah di handphone Lek Ipung lalu meletakkannya di tempat semula.

Fawaid tak ingin nyerah sama sekali, ingin membujuk kawan silangnya itu agar segera memenuhi panggilannya di kosannya. Selang beberapa detik handphone Lek Ipung kembali berdering untuk kesekian kalinya, sebagai pertanda panggilan masuk dari Fawaid. Tapi sebagai pendiri sakte, Kang Rasyiqi tak mau kalah. Ia pun berusaha merampas handphone Lek Ipung agar pemaparan materi tetap berlangsung khidmat. Kata Kang Rasyiqi, “jhelen lah mon ondhureh, Pung” (Sana kalau mau pergi, Pung), dia mulai kesal.

“Apa iya Ipung akan benar-benar pergi?”, tanya Bung Rudy penasaran. “Bisa jadi”, timpal Dinda Islamuddin yang sejak tadi hanya mendengarkan.

Maka, ketika kemudian Lek Ipung melepaskan duduk silanya, kita pun geger, terutama Kang Rasyiqi yang bertanggungjawab penuh atas perubahan sikap Lek Ipung. Mula-mula Lek Ipung menghilang berjam-jam. Kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia pada umumnya.

Dia benar-benar menghilangkan sifat pendiamnya dan membantah pernyataan-pernyataan miring yang dialamatkan kepadanya. Dia menjadi lebih santai tapi serius dan serius tapi santai. Dan, dia kembali dengan seorang gadis cantik yang kita pun tak tahu asal-usulnya. Ringkas kata, dia benar-benar bertambah keistimewaannya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Jangan-jangan ilmu mas Ipung bertambah pada saat dia menghilang itu”, komentar Dinda Syair penuh kebahagiaan. “Waaah, hebat sekali ! Apa gerangan yang terjadi pada dia?” Timpal Bung Rudy yang baru saja nonton video syur ala barat di laptop miliknya.

“Kemana dia pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu,” kata Pak Gubernur Anwar. “Kalau saja kita tahu kemana dia pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi padanya dan mengapa dia kemudian berubah.”

“Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya”, ujar Dinda Syair. “Paling tidak, kini kita mempunyai teman yang tak lagi sendiri seperti dahulu kala”. Maka, tidak perlulah kita mencari tahu kemana mas Ipung pergi dan kemudian sikapnya berubah, sebaiknya kita langsung saja membiarkan dia berbicara”.

Sesuai usulan Dinda Syair, sesudah Lek Ipung menyingsingkan lengan bajunya, kita kembali merasakan keakraban Lek Ipung, jauh melebihi sebelumnya. Mungkin karena kali ini tidak ada lagi sekat-sekat berupa hasrat membully dan menghakimi dia dengan sikap barunya itu.

Akhirnya Kang Rasyiqi berterus terang mengungkapkan rasa penasaran kita sejak Lek Ipung kembali. “Pung, di samping bertanya seperti biasa, kali ini kami bertanya juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikapmu.”

Perubahan apa?” tanya Lek Ipung sambil tersenyum penuh arti. “Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah.”

“Sebelumnya sampean kan sering di-bully karena tak laku-laku dan suka diam ketika di-bully”, tukas Dinda Islamuddin, “kok sekarang tiba-tiba datang bersama seorang gadis, sampean tak mau lagi diam, bahkan dibujuk pun tak mau.”

Oh, itu,” kata Lek Ipung seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam sejenak. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, “ceritanya begini”. Dia berhenti lagi, membuat kita tidak sabar, tapi kita diam saja.

Kalian ingat, saya tadi sempat menghilang?” Akhirnya Lek Ipung bertanya, membuat kita yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kita mengangguk. “Tadi itu Fawaid nelfon saya dan sudah ada janji sebelumnya. Saya disuruh datang ke sebuah kost mahasiswi megah bertingkat tiga dan berwarna hijau yang jaraknya dari kampus sekitar 20 M ke arah barat. Namanya Ayu. Kata Fawaid tadi, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendekati mahasiswi yang usianya satu tahun dibawah saya ini. Semua laki-laki yang pernah mendekatinya pun rata-rata ditolak mentah-mentah”.

Terus terang, sejak saat itu, saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat. Makanya dengan diam-diam dan tanpa pamit ke kalian, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan Fawaid dengan niat jihad fii sabiilillah serta menjaga kehormatannya. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua cowok yang sedang ngapeli ceweknya mengalihkan pandangannya ke arah saya mematung.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Saya kembali mengingat sosok gadis yang digambarkan Fawaid tadi”. Dan betul, di kost lantai 2 tepat dari jendela kamar A12, saya melihat seorang perempuan yang rambutnya nampak berantakan, masih lengkap dengan baju tidur warna pink. Dia menatap saya dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari hidupnya. Lalu dia meneriakkan tentang dirinya sekencang-kencaangnya ke arah saya berdiri, “maaaaaas..!! Aku sudah tahu maksud tujuanmu”. Aku Ayu, mas.

Saya menjadi yakin bahwa inilah isyarat baik. Dan kalian tahu? Ternyata gadis itu sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang asing. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulutnya bermuatan kata-kata hikmah.”

Tiba-tiba Lek Ipung berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, “hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Setelah saya berkedip, seketika Ayu sudah berada dihadapan saya berpenampilan seperti putri kayangan, sambil menarik tangan kanan seolah-oleh ingin mengajak saya ke suatu tempat. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang tadinya sedang dalam kamar, belum mandi, tiba-tiba menampakkan dirinya dihadapan saya. Aneh. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa.

“Akhirnya niat saya untuk mendekati Ayu, meskipun secara lisan memang belum tersampaikan, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjalan ini.

“Baru setelah beberapa menit kami berjumpa, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti kemauan Ayu. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu”.

Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan aspal menuju kampus, Ayu terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana dia pergi? Jalanan semakin ramai; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Ayu menjerumuskan saya ke tengah jalan”.

“Setelah melewati sebuah warung makan dan counter kecil, dia berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata kami sudah kembali ke sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Ya, itulah WDK, tempat kaum cabarisme ber-dhauroh.

“Begitulah ceritanya. Dan Ayu yang telah berhasil mengubah sikap saya ini tetap merupakan misteri.” Begitu kata “misteri” Lek Ipung lontarkan, sontak Ayu pun menghilang dari pandangan kita. Semua tercengang. Sebab, Ayu memang sosok misterius yang datang tak diundang dan pulang tak diantar.

Lek Ipung sudah mengakhiri ceritanya, tapi kita yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung atas hilangnya sosok Ayu, sampai Lek Ipung kembali menawarkan rokok gratisannya.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Hmm.. dasar, salafi ngacengan! Nikahilah dua, tiga atau empat janda tua miskin, agar seimbang antar zikir dan zakar.

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Inspirasi

Kamu harus punya musuh. Benar! kata pepatah; lebih baik punya 1000 teman daripada 1 musuh. Pepatah itu memiliki arti sebaiknya anda tidak punya musuh....

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Anekdot

Hijrah jangan jauh-jauh, entar tersesat!

Community

Kuliah itu ada enaknya dan ada ndak enaknya, iya to?

Kritik

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku.  Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

"Baru saja pergi dari rumah Senin kemarin, Jumat sudah rindu! Masak gak bisa nahan barang seminggu atau dua minggu, biar hasil kerjanya lebih banyak?”

Kritik

Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi...

Advertisement