Connect with us

Hi, what are you looking for?

Community

Dulu Saling Mempertahankan, Kenapa Kini Memilih melupakan?

Oh iya mas, pesanku, jangan selalu tidur larut malam ya. Tetap jaga kesehatan agar aku bisa melihatmu walaupun dari kejauhan. [Surat]

Teringat masa kecil dulu, sebelum ada HP, kita tidak bisa berkirim pesan atau kabar kepada seseorang yang selalu dirindukan sepanjang malam. Maka ia harus mengirim surat. Surat ini dikirim oleh seorang perempuan bernama Luluk Illiyah, ditujukan kepada lelaki yang telah membawa belahan hatinya. Semoga dia akan membaca dan akan membalas surat ini. Berikut isi suratnya yang kami terima, tentu saja untuk si dia. (Redaksi Cabarus)


Mas kamu baik?

Sudah hampir seminggu kau tak menghubungiku. Bolehkah aku berkata mas? Aku ingin berkata sungguh aku benar-benar rindu kamu mas. Aku selalu ingat janji suci yang kau ucapkan padaku bahwa kau tak akan pergi meninggalkanku.

Sebelum kau tiada kabar kita sempat bersua berdua. Saat itu aku menangis di sampingmu lalu tak lama dari itu kau memelukku. Masih tetap ku rasakan pelukan kasih sayang itu mas, aku masih ingin ada di sampingmu.

Mas, malam ini dan detik ini, aku tulis surat ini bersamaan dengan turunnya hujan. Mengapa? Karena aku suka hujan. Hujan membawa semua amarahku pada suasana kedamaian dan kesejukan pada jiwaku yang kian memendam, sebuah perasaan yang bisa aku katakan.

Selamat malam mas, kamu lagi apa mas malam ini? Oh iya mas, pesanku, jangan selalu tidur larut malam ya. Tetap jaga kesehatan agar aku bisa melihatmu walaupun dari kejauhan.

Kemarin aku tak sengaja melihatmu, mas, akan tetapi kita sama-sama menghindar. Dulu kita saling mempertahankan, akan tetapi kenapa sekarang kau malah memilih untuk melupakan?

Kamu sudah bosan dengan ku ya mas atau aku sudah tidak cantik lagi menurutmu. Hehe katakan mas cantik itu butuh biaya yang mahal.

Gini mas, aku ingin bercerita banyak hal yang terjadi saat kau tak menghubungiku lagi. Salah satunya aku seperti kisah Qais dan Laila. Aku rasa sudah pantas dijuluki ‘Majnun’ oleh orang-orang di luar sana, yang sedikit banyak sudah melihat kebenaran menurutku, akan tetapi kebodohan menurut orang yang melihatnya.

Pernah aku sampaikan salam rindu pada sang malam yang penuh dengan awan pekat. Bahkan saat itu aku merasa, bintang yang bersinar paling teranglah yang menjadi saksi; aku menyampaikan kerinduanku lewat sang malam.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Saat siang tiba, pun tetap dengan keanehan yang sama. Aku selalu melontarkan syair-syair yang menurutku penuh makna untukmu. Ku kirimkan lewat debu yang berterbangan di sekelilingku. Aku yakin itu akan tersampaikan padamu. Bodohnya aku mas, aku sudah buta dan terlena oleh cinta yang fana.

Tak hanya itu, soreku hanya dihabiskan tuk melihat keindahan senja. Bahkan ku bayangkan saat itu aku bisa menikmati senjaku bersamamu mas. Tapi sekarang aku tau arti senja yang sesungguh nya, dari senja aku faham dengan arti ‘merelakan’.

Keindahan yang tampak sekilas pandangan saja.
Memandangan wajahmu cerah, membuatku tersenyum senang indah dunia. Tentu saja kita pernah mengalami perbedaan. Kita lalui. Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam ke dalam cintamu.

//Ku tak akan berubah, ku tak ingin kau pergi selamanya. Ku ‘kan setia menjagamu. Bersama dirimu. Sampai nanti akan slalu bersama dirimu//. Begitu kira nya lirik lagu yang kau sampaikan padaku saat ini dan sekarang aku merindu.

Kembali pada setiap malamku yang telah aku habiskan untuk membalas pesanmu. Sungguh aku selalu menunggu malam, karena setiap malamku penuh dengan perasaan berbunga-bunga.

Walaupun hanya sebatas kata “Sayang Ily..” Sungguh hal itu membuat aku semakin merindu. Kembali kubuka pesan singkatmu via WhatsApp. Ki baca setiap kalimat. Secercah harapan untuk kembali merangkai cerita bersamamu aku harap kamu pun begitu.

Kiranya hanya ini surat dari ku. Jangan lupa bahagia ya, walau kita sekarang sedang diuji untuk berjauhan. Sabar ya mas aku disini masih dengan rasa yang sama dan harapan yang selalu ingin untuk merangkai kembali cerita bersama.

Dariku: Luluk Illiyah

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Hmm.. dasar, salafi ngacengan! Nikahilah dua, tiga atau empat janda tua miskin, agar seimbang antar zikir dan zakar.

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Inspirasi

Kamu harus punya musuh. Benar! kata pepatah; lebih baik punya 1000 teman daripada 1 musuh. Pepatah itu memiliki arti sebaiknya anda tidak punya musuh....

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Community

"Baru saja pergi dari rumah Senin kemarin, Jumat sudah rindu! Masak gak bisa nahan barang seminggu atau dua minggu, biar hasil kerjanya lebih banyak?”

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Community

Dik, melalui surat kecil ini, kuharap engkau paham..

Anekdot

Memikirkan tema-tema besar itu paling enak di warung kopi. Ditemani sebatang jajan rentengan dan secangkir kopi. Bila perlu, dibarengi sedikit ledekan dan gurauan agar...

Labil

Nyatanya, janda lebih menggoda, bukan?

Labil

“Ceritakan saja apa yang kau mau dan apa yang telah terjadi dan kenapa kau semakin cantik kalau menangis.”

Advertisement