Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Gus Muwafiq, Salah Saya Dimana?

Seorang Gus yang sedang populer di jagad Youtube rupannya sedang dikecam banyak pihak. Pihaknya dilaporkan ke Bareskrim soal isi ceramahnya oleh Amir Hasanudin dari DPP Front Pembela Islam (FPI). Namun meski Gus Muwafiq (GM) telah mengklarifikasi dan meminta maaf, Salman al-Farisi yang entah siapa tetap tidak terima. Lalu dilaporkan lagi. Seharusnya begitu seterusnya. Minta maaf lagi, lapor lagi, minta maaf lagi, lapor lagi; maka jadilah lelucon.

Dan nyatanya ini berlanjut serius, GM menjadi sorotan publik. Para otoritas keagamaan seperti para dai kondang yang wajahnya sering nongol di beranda kamu pun ikut komentar. Ada memberikan simpati dan dukungan, ada yang menolak sekaligus membully-nya dan mungkin ini pertama kalinya, efek samping dunia maya menimpa GM setelah sebelumnya menimpa para daitube lainnya.

Gaya selengean GM di mimbar ceramah bermaksud menjelaskan bahwa peristiwa lahirnya nabi Muhammad tidaklah seperti di film-film. Tanpa Color Grading, tanpa efek dan animasi futuristik dan ini yang bikin banyak orang gerah, lantaran sangat bertentangan dengan keyakinan umum yakni Nabi muhammad lahir bercahaya. Coba anda bayangkan, mungkinkah itu keajaiban?

Bagi tuhan, tidak ada yang tidak mungkin. Tapi bagi kita sebagai manusia, itu hanya sekedar ide, bukan kenyataan (empiris). Sedangkan dalam beriman kita membutuhkan hujjah (tanda, bukti, dalil, alasan atau argumentasi) baik secara akal ataupun dari sumber naqli.

Dalam ceramah GM ada tiga poin yang dibahas dan menjadi sorotan,  Pertama, soal cahaya Nabi pada momen kelahiran. Kedua, soal Nabi di masa kanak-kanak yang “rembes”. Ketiga, soal kondisi masa kanak-kanak Nabi yang disebut-sebut tidak begitu terurus oleh kakeknya, Sayyidina Abd Muththalib RA.

Izinkan saya untuk sok tahu sedikit dan berpendapat dengan salah. Karena kita membutuhkan data dari berbagai perspektif. Perspektif yang salah ini mungkin bisa jadi benar. Dari persepektif lagu. Saya mengutip lagu Matahari Dunia Feat Qasidahria sebagai dalil. Dalam liriknya berbunyi:

Nabi muhammad mataharinya dunia
Yang bersinar abadi sepanjang zaman
Nabi muhammad bagai purnama di tengah malam gelap gulita
Nabi muhammad bagai pelita cahayanya di atas cahaya
Wahai kaum muslimin muslimat sampaikan shalawat salam
Di langit ada matahari bersinar menerangi bumi
Di langit ada matahari bersinar menerangi bumi
Cahayanya yang tajam, menembus kegelapan
Menerangi seluruh alam

Lagu di atas mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu mataharinya dunia, tapi bukan matahari dalam tata surya kita. Penulis lagu, menggunakan unsur matahari untuk menggambarkan sesuatu yang cahayanya di atas cahaya (nur min nur). Sebab nur (Bukan Gus Nur) itu bermakna nisbi, bermakna petunjuk. Bahkan al-Ghazali membedakan antara makna nur bagi orang awam dengan orang khusus. Maka fungsi lagu tersebut adalah agar kamu menikmatinya, menambah cinta kepada nabi tanpa perlu berpikir lagi.

Selanjutnya adalah persepektif hadist:

Berkata Muhammad bin Ishaq: Tsur bin Yazid bercerita, dari khalid bin ma’dan dari para sahabat Rasulullah, mereka berkata “Wahai Rasulullah, tolong beritahukan kepada kami tentang dirimu. Maka beliau bersabda, “(Aku adalah hasil) doa ayahku (Nabi) Ibrahim dan kabar gembira (Nabi) Isa. Dan ibuku bermimpi ketika beliau mengandungku, seakan keluar cahaya darinya menyinari istana Bushra di negeri Syam.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Imam at-Thabari juga mengatakan: “Ibuku melihat dalam tidurnya bahwa keluar di antara kedua kakinya cahaya yang menyinari istana Syam.”

Diriwayakan Ahmad, (16700) dari Irbatd bin Sariyah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda.“Bahwa ibunda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika melahirkan beliau, dia melihat cahaya yang menyinari istana negeri Syam.”

Itu beberapa hadist yang saya temukan (disini) silahkan anda pelajari, sebab penulis tidak cukup ilmu untuk membedah hadist. Lupa untuk belajar Ilmu takhrijul hadist, rijalul hadist dan cabang-cabangnya seperti Talfiqil Hadis, Fannil Mubhammat, Ghoriebil Hadits, Tawarikhir Ruwah, Mukhtaliful Hadits.

Untuk mengeksplorasi persalinan ibunda Nabi Muhammad, GM sesungguhnya tidak salah jika ingin meninjaunnya dengan penalaran logis dengan lebih filosofis dan metaforis. Namun nyatanya, GM memaknai cahaya sebagai sinar yang empiris. Lebih terkesan menafikan narasi-narasi metafor yang selama ini hidup dalam paradigma umat islam di Indonesia, lebih-lebih metafor diimani sebagai kebenaran apa adanya.

GM mencoba menggali peristiwa kelahiran nabi dengan narasi yang logis, dan berlebihan jika peristiwa tersebut dibayangkan bahwa nabi bercahaya jasmaniah dan beliau lahir seperti manusia biasa saja, dan justru tampak semakin berlebihan jika kita membaca teks barzanji “Pelataran-pelataran tanah Haram dan pelosoknya menjadi terang; dan bersama (kelahirannya) keluar cahaya yang membuat gemerlapan istana-istana kekaisaran Syam,”.

Tentu yang dimaksud bukan cahaya dalam pandangan jasmaniah. Makna yang digali dari dalil naqli (hadist) menyebut  ibunda Aminah melihat cahaya itu dalam mimpi, sebagai kabar gembira atas kelahiran putranya dan teks barzanji cenderung kepada adalah bashirah (pandangan bathin) atau kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide (imajinasi). Imajinasi ini yang sulit dipahami oleh orang kebanyakan khususnya milenials karena berada pada level Haqq al-Yaqin.

Ada unsur hiperbolik dalam ceramah GM, melebih-lebihkan bahasa walau hanya ingin menunjukkan sisi kemanusiaan nabi yang mengalami masa-masa kacil dipenuhi duka-nestapa, namun beliau tidak telantar dan senantiasa memperoleh pengasuhan terbaik dari orang-orang di sekelilingnya. Nabi pun bisa sakit sebagaimana anak-anak pada umumnya, namun tidak merusak fitrah kenabiannya sebab mendapatkan perlakukan khusus dari Allah. Lalu salahnya dimana? Disitu letak kesalahan GM. Gaya slengean dan kurang radikal tidak terlalu cocok untuk ditayangkan di Youtube. Kalau di cap murtad, dan syahadatnya tidak diumumkan melalui medsos, tetap dikafirkan.

Lalu apa dampaknya yang terjadi? Lihat saja muncul tagar #kamibersamagusmuwafiq vs #kamibersamarasulullah. Saling ejek, saling bully, saling melaporkan. Pelan-pelan bertabrak menjadi isu golongan dan ormas dan seterusnya, bukan malah tabayun. Lalu salahnya dimana? di tulisan ini, semoga.

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Inspirasi

"Sedangkan di tangannya sendiri hanya tergenggam kehampaan sebagai anak yatim yang tidak dinafkahi oleh bapaknya."

Inspirasi

Tunggu saja waktunya, dimana UAS akan mendeklarasikan diri sebagai "penantang khilafah" dan menyatakan bahwa NKRI sudah final.

Labil

Oddyoesta Permana, dia mencoba untuk menjadi pakar hukum. Memang, saya tidak begitu tahu, apa latar belakang dari kang Oddy ini. Jika kau bisa menebak,...

Inspirasi

Lahir sebagai anak pengusaha tentu punya peluang lebih besar untuk sukses di dunia bisnis dibandingkan aku, yang lahir sebagai anak petani.

Kritik

Siapa yang kuat, ia yang berkuasa. Keadilan menjadi visi, kesejahteraan menjadi misi, simbol dan jargon menjadi kebanggaan diri sekaligus sebagai identitas jati diri kelompok.

Kritik

Hati-hati cabarisme itu lebih radikal daripada yang itu-itu.

Anekdot

Salah satu desa kemarin sempat geger, ramai dengan bunyi petasan. Tapi sayangnya aku tidak begitu paham, terbuat dari apa petasan itu. Salah seorang warga...

Kritik

Tahun 1928 di Ismailiyah, organisasi Ikhwanul Muslimin berdiri dan dua tahun sebelumnya NU sudah berdiri ada tahun 1926. Bedanya, kalau NU berdiri di Jawa...

Advertisement