Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Hidup anti sambat

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat.

Sssttt.. sudah, cukup. Hidup jangan sambat terus. Lelah itu biasa, pusing apalagi. Mikir utang? Itu juga biasa, banyak orang yang utangnya lebih besar dibanding kamu. Capek kerja? Justru kamu bersyukur, karena banyak orang mengalami keanehan, dia tidak kerja, nganggur sehari-hari, tapi badannya capek-capek. Dirimu masih sangat enak, capek, dan menghasilkan.


Begitulah, nasib itu dialektika, kamu berusaha, Tuhan yang memberi. Sebesar apapun perhitunganmu, jika Tuhan berkehendak tiga ya tiga, lima ya lima, sepeluh ribu ya sudah segitu syukuri. Tuhan lebih tahu kebutuhan perutmu, dan yakin bahwa kamu, keluargamu, tidak mungkin kelaparan, Tuhan tidak setega itu, yakinlah.


Ini hanya sekedar cerita, bisa jadi akan sedikit nyambung dengan tulisan yang sebelumnya tentang, “Seseorang bertanya padaku, apa enaknya hidup di desa?.”


Kamu kan sudah tahu, selama dua tahun ini, di desa, aku mencoba bertahan, tidak kemana-mana. Beberapa kali kawan datang, “ayo pak, kerja sama saya?” Ada yang ngajak ke Semarang, Demak, Pati, Madura dan kota-kota lainnya. Maaf, biar tidak ada kesan takabur, sekalian kujelaskan bahwa aku menolak tawaran itu bukan karena hidupku sudah terlalu mapan, sehingga tidak butuh penghasilan, bukan.


Siapa yang bilang? Di rumah, lha wong namanya hidup, ya pasti butuh uang. Kadang pengeluaran banyak, tak sebanding dengan pemasukan, utang sana-sini, ya tak jalani. Dan bayangkan, aku tidak punya pekerjaan tetap.


Alhasil, coba-coba dagang lah, dikit-dikit. Di sela-sela waktu juga bantu bapak ibu ke sawah, bantu kuli di rumah, pokok yang penting tidak diam di rumah. Selain itu juga dilengkapi dengan aktivitas menulis, berkarya dalam sastra, karena dengan sastra aku bahagia.


Ya begitu, diriku. Cukup menjawab ya.. aku pasti kerja. Tapi di rumah. Biar lingkungan bisa memanfaatkan diriku untuk segala keperluannya. Di masjid, lingkungan sosial, adiminitrasi pemerintah desa, dan sebagainya.


Satu hal yang ingin kukatakan, bahwa kebahagiaan hidup, ternyata sangat luas, dia hinggap dimana-mana, dirasakan dengan sangat sederhana, bersinar di wajah para tetangga, yang kuli, tani, supir truk, pedagang, guru, pegawai, buruh pabrik, dan masih banyak lagi kawan, kerabat serta saudaraku yang profesinya tak mungkin kesebutkan satu per satu.


Contoh saja, panggil saja namanya Lek To. Seorang buruh kuli tukang batu yang sehari-hari bekerja membangun rumah. Panas matahari, semen, batu bata, kerikil, besi, baja ringan, sudah menjadi makanan sehari-hari.


Terlepas dari keseluruhan hidup seorang Lek To, entah dia punya hutang atau tidak, punya masalah atau tidak, pengeluaran besar atau kecil, dan persoalan-persoalan lain yang aku tidak berhak nengetahuinya, tapi aku melihat keceriaan selama dia bekerja.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Bayangkan, seorang kuli batu, di bawah matahari sekitar 38 derajat celcius, selain dia harus kerja membereskan bangunan di bawah, dia juga kerja di atas, seperti memasang rangkaian besi, ngecor, memasang atap baja ringan, serta pekerjaan lain yang tak kalah melelahkan, tapi semua pekerjaan itu dijalani dengan wajah yang sumringah, pagi siang sore. Hanya bermodalkan hiburan musik dangdut dari sound yang disediakan pemilik rumah.


Kulihat tangannya begitu lihai menggunakan alat tukang, mulutnya juga tak tinggal diam, mengikuti alunan lagu yang terdengar lumayan syahdu. Sesekali bercanda dengan teman kuli lainnya, mengejek dan diakhiri tawa. Sungguh, kenikmatan hidup yang sama sekali tidak didustakan.


Pekerjaan demi perkerjaan, dari sudut depan hingga belakang, tak terasa begitu cepat selesai. Kulihat tiada sambat dari mereka. Apakah tidak lelah? Rumangsamu. Coba kau kuli sehari saja. Ya lelah.. ya capek.. tapi lelah dan capek itu tak berarti, karena kepayahan hidup sudah sirna, hilang dengan sebatang rokok yang melekat di bibirnya, alunan kepala sudah penuh dengan irama musik yang menetralkan segala gundah rasa lelah.


Tak percaya? Coba kau tengok tetanggamu, atau mungkin bapakmu yang kerja kuli, atau tukang batu, atau petani, atau lain-lainnya. Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat, mungkin sekilas saja dia merasa capek di malam hari, menjelang tidur, tapi sudah hilang dimakan malam. Lalu dia kembali sedia kala di pagi buta.


Jika harus kuceritakan bagaimana orang-orang di desa meraih kebahagiaan, niscaya ribuan halaman akan habis dan tak mungkin menampungnya. Sesederhana itu mereka bahagia. Kuli, kalau capek, sudah pasti hilang capeknya usai suguhan jaminan datang, minum teh hangat, pisang goreng, 15 menit duduk, langsung kerja lagi. Enak.


Hal serupa juga dirasakan para petani. Badan capek, di siang hari makanan datang, niscaya rasa lelah dalam sekejap berubah kenikmatan, lalu hilang kerja lagi sampai sore hari. Pulang sampai rumah bawa rumput untuk hewan ternak, lihat kambing dan sapi sudah makan lahap, sudah.. lega sampai malam hari. Usai mandi, nonton tipi, ngobrol dengan anak cucu, hingga terlelap tidur sampai pagi hari.


Duh, Allah… Betapa indah melihat orang-orang di desa. Dengan kesederhanaan, dengan kebahagiaan yang tak banyak ideal, yang tak banyak menuntut, hidup sekedarnya, karena mereka sadar, bahwa kehidupan tak mungkin mereka rasakan selamanya, dan pasca kematian harta yang mereka kumpulkan tak mungkin dibawa.

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Berbuat baiklah pada mereka. Hanya itu modalnya, modal rasa kemanusiaan. Maka Madura akan jauh memperlakukan dirimu sebagaimana manusia yang istimewa.

Inspirasi

Kamu harus punya musuh. Benar! kata pepatah; lebih baik punya 1000 teman daripada 1 musuh. Pepatah itu memiliki arti sebaiknya anda tidak punya musuh....

Labil

Tapi tidak, aku tidak ingin sakit hati. Kukembalikan lagi pada hari-hari yang biasa dengan amarah. Kucoba untuk sabar, ikhlas dan diam.

Community

Selamat kuucapkan. Berbahagialah rencana Tuhan lebih besar dari keinginanmu. Berbahagialah seperti bayi - bayi ibu yang terlahir.

Inspirasi

Selamat ulang tahun di hari ini, harapan demi harapan sudah terwujud satu demi satu, teruslah berjalan, berjuang, dan berdoa untuk masa depanmu, orang tuamu,...

Inspirasi

"Sedangkan di tangannya sendiri hanya tergenggam kehampaan sebagai anak yatim yang tidak dinafkahi oleh bapaknya."

Kritik Serius

Perihal kita hari ini yang sedemikian canggih dengan berbagai teknologi modern berbasis internet. Menjadikan perubahan adalah bagian hidup itu sendiri. Seperti hitung-hitungan dalam matematika...

Kritik Serius

Orang kecil selalu menggigil dalam balutan masalah yang tak berkesudahan. Perutnya semakin mengecil sedang kakinya semakin besar.

Kritik

Manusia terdiri dari badan dan nyawa, hidup di dunia adalah anugerah besar dari Tuhan yang maha esa. Sungguh indah dinamika di dalamnya seperti pelangi...

Kritik Santai

"Woalah, mas. Gak merana gimana to, lhawong saya ini jadi ganteng bisa, jadi wangi bisa, apalagi sekedar jadi pejabat, ya mudah. Kok tega sekali...

Advertisement