Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Hilangnya Kesaktian Izor

Suara musik terus mengalun dengan kerasnya, pemuda pemudi asyik bersahut-sahutan mengobrol membicarakan semua hal yang bisa dibicarakan, tak luput dari perhatian  juga pemuda yang berada dipojok warung.

Mereka sedang bermain permainan asyiknya sendiri dengan wajah coreng moreng belepotan penuh bedak, dikawal dengan gelak tawa  yang meledak-ledak yang dilontarkan dari kerongkongan leher mereka tanpa takut tersedak.

Entah sampai kapan hari-hari kosong seperti ini selalu saja mengganggu pikiran Izor yang ingin berkonsentrasi menyelesaikan tugas yang sudah mulai menumpuk akibat tak pernah “nang gage” dikerjakan, maklum Izor mahasiswa yang agak malas dalam mengerjakan tugas, kalo sudah mepet-mepet deadline pasti baru ngerjakan, katanya.

“kalo dikerjakan mepet pasti fikiranku encer, kalo dikerjakan jauh-jauh hari males dan selalu buntu gak ada hasilnya” tak tanggung-tanggung malam ini ia mengerjakan 2 tugas individu dan 2 tugas yang sudah dijatah oleh kelompoknya, pesanan minumnya kepada warung tergolong unik dan jarang dipesan oleh pelanggan warung lain yaitu air putih ditaruh gelas beling dan butiran jajan pilus renyah rentengan harga lima ratusan, yaaaah namanya juga Izor kalo tidak aneh penampilanya yah aneh perbuatanya, tiap ia ditanya maksud terkait hal itu pasti dengan santai menjawab “MAATAAAMU”.

Mungkin ini adalah sebuah kebetulan mungkin juga sebuah kesengajaan, tetapi setiap dipantau dan direnungkan oleh Kak Kien (pemilik warung), saat Izor mengunjungi warungnya, seakan-akan warung langsung digeruduk ramai damai dengan pengunjung lain yang tak ia sangka dan duga-duga, sampai ia sendiri heran dan bertanya apakah Izor ini pembawa keberuntungan atau penjebol kebuntuan?.

Apakah Izor memang benar seperti yang dikatakan semua orang ia adalah Imigran dari Surga ? atau kah yang sebaliknya ia diDeportasi dari Neraka ? Hal ini bag menambah rangsangan adrenalin Kak Kien, dengan siasat sangat teliti Kak Kien mengobservasi setiap gerak gerik Izor setiap ia datang ke warungnya.

Tiba-tiba penjaga warung yang ikut memperhatikan gerak-gerik Izor nyeletuk dengan pelan

“Saya bersumpah saya melihat Izor melakukan hal itu lagi tadi” kata penjaga warung membisiki telinga Kak Kien

“Maaaaasak ?” Kak Kien terkaget, ia menarik alisnya kuat-kuat ke atas dan memelototkan matanya yang bulat .

Ia kak saya tadi melihatnya” diulanginya lagi ekspresi meminta-minta, berharap bosnya percaya dengan apa yang ia saksikan

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Ya sudah biar saja, jadi kita sudah tahu toh apa yang menyebabkan warung kita begitu ramai apabila Izor kesini,,,,,,Sssssst dan tolong jangan bilang-bilang kewarung sebelah, ini adalah formula kita untuk mendapatkan untung,” menunjukkan satu jari telujuk didepan bibir yang mencucu.

Sebenarnya yang difikirkan dan dibingungkan Izor hingga pucat wajah dan bibir bukan hanya banyaknya tugas yang akan ia kerjakan, melainkan beberapa deret masalah yang belum terselesaikan.

Pertama memang Ujian yang ia anggap sesuatu yang tidak tepat tetapi karena memang tak kuasa untuk merubah system pendidikan yang ada di kampusnya ia mengikutinya deengan menggerutu, beberapa kali  mengelus rambutnya yang panjang sambil mengeluh.

“Masak iya nilai dalam Ujian dijadikan Tolak ukur untuk pemahaman kemampuan mahasiswa, dapat nilai A, B+, B, C+, C dianggap lulus dan telah faham sedangkan D, E, F, G, H tidak lulus dan harus mengulang, toh berarti apabila dosen yang mengajar tidak suka dengan mahasiswanya atau mahasiswa yang akrab dengan dosenya, tetep saja dapat nilai yang tidak sesuai dengan pemahamanya,” berulang kali ia fikirkan dan sesalkan.

Yang kedua nampaknya arus perpolitikan didalam kampus yang deras mulai menyeret-nyeret Izor untuk terlibat kedalamnya, bagaimana tidak ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak berkepentingan didalam perpolitikan kampus, kini diminta untuk menjadi tim sukses salah satu kandidat yang penuh gelagat manfaat. Izor sebenarnya beberapa kali menolak untuk ikut andil didalamnya karena dinilai hal ini sangat bertentangan dengan pedoman hidup yang selama ini ia jalankan yaitu “tidak mau punya musuh meskipun sebentar dan kapan saja”.

Namun pada akhirnya semangat kepedulian memanaskan darahnya seakan-akan mendidih dan melelehkan semua yang dilaluinya bag pepatah “Tidak ada logam yang tidak meleleh dalam api” tidak ada pantangan maupun pedoman yang tidak dapat ia langgar mulai saat ini.

Izor mengetahui persis bagaimana kondisi perpolitikan rumahnya (Himpunan Mahasiswa Program Studinya) yang sudah dicampur mampuri dicarut maruti dengan kepentingan salah satu golongan saja, sedang golongan tersebut masih memaksakan kehendak dengan menyiapkan pion-pion catur yang tidak bisa mundur demi terus bisa mencengkram tatanan sandiwara ngelantur bubur, seolah-olah tidak ada apa-apa dengan menggaruk-garukkan kepalanya Izor memutuskan bertempur.

Selang tiga hari entah dari mana sumber celanya, berita tentang Izor yang pembawa kemujuran semerbak mewangi meledak menyaingi berita Hoax yang banyak dihembus nafaskan dimedia maya, banyak café, warung, kedai-kedai sebelah yang ikut penasaran dan sangat ingin membuktikanya, mereka menyembunyikan maksud dengan mengamanati teman lama Izor yang berlangganan di tempatnya untuk mengirim beberapa pesan ajakan ngopi lewat WA.

“mas nanti malam ngopi di Warung Dragombez ya, saya ada perlu dengan mas Izor”.

“ini mas Izor ya, jangan lupa ngobrol sambil ngopi dulu di Café Lestari, Gratis mas”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“posisi dimana?, ayo ngopi ke kedai puji”.

Pertama tama Izor merasa kaget, kawan-kawan lamanya yang dulu menghilang ketika ia susah ternyata mulai ingat satu persatu dengannya, tak tanggung-tanggung semua pesan dibalas.

“OKe OTW”

Kini masalah pertama yang ia hadapi telah usai dengan mengerjakan tanpa mengeluelukan  tugas dan pemikiran liar mengenai ujianya, tinggalah masalah kedua yaitu perpolitikkan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua rumah abdinya, ia mengerahkan semua kekuatan jiwa dan raga, pikiranpun mulai ditata fokuskan untuk mengatasi kecemasan setelah semua teman dalam timnya berpesimis ria terhadap kaum mager (males gerak) yang tidak mau berangkat mencoblos kandidatnya atas dasar “tidak ada jam ujian dihari itu ngapain kesana”.

Izor bergumam sebentar dan dengan lantang meyakinkan ia berdiri didepan mata teman-teman yang penuh keputusasaan “saya Izor bernadzar akan merapikan rambut saya yang sudah berumur 1 tahun 3 bulan ini apabila paslon kita menang”.

Suara lantang Izor nampaknya memberi hentakan harapan baru, semua mata mulai memancarkan sinar kehidupan baru ditengah gelap yang berlapis-lapis “hiyaaaaaaa ayoo semangat”, keputusan yang dibuat Izor memang sudah gila karena rambut panjangnya begitu ia sayangi, tetapi hal yang lebih mulia untuk rumah abdinya mendasari kebulatan tekad Izor.

Sementara Nadzar dicetuskan, permintaan Café, Warung dan Kedai semakin marak menghiasi beranda WAnya, kini permintaan tidak lagi berasal dari daerah sekitar, ada dari luar kota, luar pulau, bahkan beberapa tempat di Mancanegara penasaran pula dengan jimat kedatangan Izor, nampaknya jimat ini terbukti ampuh, apabila Izor telah duduk ditempat dagangan mereka maka tak lama tempat itu akan ramai damai. 

Malam keesokan harinya Kak Kien dan penjaga warung yang merasa bertanggung jawab atas fenomena kesaktian Izor menelpon dengan semangat menggebu-gebu.

“halo aku Kak Kien, datanglah ke warung ku sebentar Zor  kami pengen ngobrol,” berharap si anak emas segera ke warung kerjanya.

“OKe OTW”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Perpolitikan dan pemilu rumah abdinya telah usai keajaiban datang satu persatu mulai dari diwajibkanya mahasiswa rumahnya untuk memilih oleh Dosenya dan juga hasil suara kandidat yang ia dukung telah benar-benar melebihi target suara yang ia perkirakan, Janji adalah hutang pemenuhan Nadzar adalah bentuk dari sebuah jalan ketaatanya, sempat ia berpikir liar “halaaaah kalo gak tak penuhin Nadzar ku Tuhan mau apa ? masak Tuhan perlu rambut ? hehehe,” tapi pikiran itu hanyalah wujud dari keakraban dan candaan nya dengan Tuhan. Izor menghubungi Lia (Ketua yang ia dukung) dengan maksud menjadi saksi Nadzarnya dan yah inilah Izor yang baru dengan rambut pendek cepak bagai jamur tiram yang sedang mekar.

Di warung kekagetan Izor memuncak, yang tadinya Kak Kien menelpon dikira hanya ingin ia datang ngopi sebentar, ternyata membawa wartawan seAntero jagad raya dengan maksud membuktikan asumsinya apabila Izor datang tak akan lama pasti ramai damai pengunjung berdatangan menyusulnya.

“loh rambutmu mana Zor?,” kaget melongo.

“Sudah tak potong Kak ini ada apa kok ramai damai seperti ini banyak wartawan juga mau Gosipin aku dengan Lia kemaren ya,”.

Semua yang ada disana sontak berseru dengan keras.

“MAAAAAATTTTAAAAAMUUUU”

Comments

Kamu juga membaca..

Community

"Baru saja pergi dari rumah Senin kemarin, Jumat sudah rindu! Masak gak bisa nahan barang seminggu atau dua minggu, biar hasil kerjanya lebih banyak?”

Advertisement