Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Utang Indonesia, ya Terserah Indonesia

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah ekonomi.

Aku jadi semakin shock, tak kurang pengetahuan yang saban hari kita diskusikan, tak sedikit kata-kata perjuangan yang menggetarkan dada. Anda boleh pintar dalam retorika dan kata-kata, tapi jangan gagal dalam mengelola negara.

Soal utang, Indonesia masih menanggung 6.444 triliun. Anda jangan percaya angka itu, itu bukan angka pasti, kadang suka berubah-ubah. Sebaiknya cek lagi menjelang 2024.

Benar anda tidak serius berbangsa dan bernegara hai para pemerintah, hai pejabat, hai orang-orang tua ‘disana’?

Demi Tuhan uang, Indonesia telah terjebak dalam kondisi middle income trap. Mungkin untuk selamanya, dikutuk untuk terus bermental ‘utang’. Dan anak cucu kami diwarisi utang triliunan rupiah.

Dulu, ketika ketika ditanya, kenapa utang, maka akan menjawab begini, “Jadi bukan kita melakukan utang karena senang, tapi tactical investment untuk apa yang dibutuhkan republik. Investasi manusia, investasi infrastruktur untuk mobilitas masyarakat, efisiensi dan menghilangkan biaya ekonomi yang besar, dan memperdalam sektor keuangan,” ciyahh pinternya ibu Sri Mulyani. Jika ada ibu seperti ini di rumahmu, bagaimana?.

Scenaider, orang tua di Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) memberikan penjelasan bahwa utang sebagai salah satu instrumen dilakukan karena negara melakukan belanja dalam rangka pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Artinya, utang adalah kebutuhan.

Alhasil, tahun ini utang Indonesia sudah lampu merah. Saya sih, bukan ekonom. Tapi menurut Ekonom saudara sepupu saya, Bhima Yudhistira, angka utang pemerintah sudah hampir lampu merah apabila dilihat dari kemampuan bayar utang atau debt service ratio (DSR).

Namun Ibu Sri Mulyani, sebagai Kutang (Kementrian Utang) ini mengatakan bahwa kebijakan tersebut relatif cukup hati-hati. Kemudian ia membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain dan seterusnya dan seterusnya. Kasihan, Indonesia ngutang karena ‘butuh’ sedangkan (jangan-jangan) negara lain ngutang hanya karena pura-pura butuh.

Perekonomian Indonesia dibangun di atas utang. Pendapatan nasional tidak sebanding dengan kebutuhan pembangunan yang besar. Utang adalah jalan keluarnya. Ini sudah terjadi sejak zaman Presiden Soekarno.

Sebagai generasi penerus, selain menjadi penonton dari apa yang dilakukan oleh tetua, juga menerima akibat dari segala tindakannya. Jika sistem yang dijalankan buruk maka anak muda menerima akibatnya, jika sistem yang dijalankan baik maka anak muda menikmati manfaatnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Utang luar negeri bagi Indonesia adalah kecelakaan sejarah, kecelakaan yang membuat pemerintah keenakan. Padahal ibu Sri pernah berkata dulu (Kompas, 11 September 2001) bahwa utang luar negeri sebagai beban dan akhirnya berimbas langsung pada APBN Indonesia lalu menjadi masalah krisis ekonomi yang panjang dan berat.

Apa yang bu Sri katakan itu benar dan cenderung normatif. Tapi kok sekarang ya tenang-tenang saja toh. Tenang negara kita masih kaya kok, tinggal jual satu dua pulau, beres. Jokowi gimana sih, yang dipilih milenial kok makin jauh dari harapan.

Memang, dalam sejarah utang luar negeri Indonesia memang sudah ambyar. Sejak jaman Sukarno hingga jaman SBY dan sejak dibentuk IGGI dan hingga CGI dibubarkan, masalah ini semakin parah.

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah ekonomi.

Jika Indonesia mengalami krisis ekonomi, dan utang terlanjur bertumpuk-tumpuk,  dan sudah tak mampu bayar lagi. Itu malah bagus, artinya sudah masuk jebakan utang (debt trap) .

Hal itu bukan fenomena baru dalam diplomasi politik, salah satu yang menggunakan debt trap diplomacy adalah China mulai era Hu Jiantao hingga Xi Jinping, contohnya adalah proyek Cina dengan Sri Lanka dalam proyek pelabuhan laut Hambantota. Habis dimaakan China.

Jadi, sekali.lagi, ada kepentingan dibalik utang, membuat Indonesia ketergantungan terhadap negara-negara kreditur. Akibatnya, negara gali lobang tutup lobang dan ini menimbulkan lingkaran utang yang semakin sembelit.

Utang ke satu kreditur boleh lunas, tapi utang tetap menjadi penopang ekonomi Indonesia. Begitu terus, kita tidak pernah merdeka dari utang. Sesuai narasi awal, bahwa negara ini butuh utang, seakan-akan pemerintah tidak punya cara lain untuk keluar dari masah tersebut.

Toh meski pinjaman terus bengkak, pemerintah selalu meninabobokan, bahwa utang Indonesia masih dalam kategori batas aman. Negara yang berhutang kan tidak cuma Indonesia. Aman, rasio utang ke GDP belum 60% kok. Padahal, untuk bayar bunganya saja, angka nominal belanjanya tertinggi, mengalahkan bansos.

Saya tidak paham cara pikir pemerintah, keinginan untuk membangun infrastruktur tetap tinggi, sedangkan anggaran tetap kecil.  Pengelola negara ini bikin jalannya bagus, sementara kakinya masih terluka. Akhirnya, ngutang lagi dan lagi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Membangun Indonesia raya seharusnya alat perang utamanya adalah uang. Bukan alutsista yang ujung-ujungnya dibiayai dari utang. Uang dikategorikan sebagai weapon system dan bahkan, ekonomi telah berubah arah menjadi bentuk pertempuran konstitutif, tidak hanya sebagai pelengkap perang konvensional atau sebagai bagian dari rekonstruksi pasca-konflik.

Uang digunakan sebagai ‘sistem senjata’ dalam kategori militer yang berbeda dan jenis perang yang berbeda. Uang bisa melakukan apa saja, membeli pasal dalam undang-undang, menyuap pejabat negara, alat diplomasi, menciptakan ketakutan, me-frame media massa, alat dominasi negara, dan lain-lain khususnya menjajah negara debitur.

Kuasai uang, maka Indonesia bisa menguasai dunia, begitulah kira-kira. Namun terserah Indonesia, silakan pejabat sak karepmu. Teruskan ‘alarm utang’ masih diperkirakan 47% PDB, sedikit lagi menyentuh 50%. Jika masih dikatakan aman, ya keterlaluan.

Dah lah, basa-basi saya. Sekedar catatan kegelisahan wong cilik yang tak berarti apa-apa.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Anekdot

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet… Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement