Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Indonesia Masih Pandemi: Rakyat kok Ngeyel?

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Sudah setahun lebih, kita hidup dalam keadaan yang mungkin bagi semua orang berat menjalaninya. Hidup di tengah wabah, pandemi, corona, katanya. Mungkin saja benar copid itu ada, itulah kenapa saat bepergian bawalah masker, dipakai dan jangan cuma dikantongi. Masker tempatnya di muka, bukan di saku.


Ah, copid lagi copid lagi. Eh.. jangan macem-macem sama copid, kasusnya makin hari, makin menggila. Kita punya presiden, punya menteri kesehatan, punya gubernur, bupati, camat, kades dan Pak Erte. Manut sama beliau-beliau itu. Rakyat kok bandel.


Oh Tuhan.. ampuni kami, jika wabah ini benar ada, dan jika semua ini benar Kau turunkan sebagai pengingat, maka sadarkanlah kami semua; bahwa manusia hanya mahluk lemah, tak berdaya.


Tapi beberapa malam kemarin, saya nonton bola, piala eropa. Kok penontonnya berjubel-jubel, gak pakai masker? Waaah.. pada gak takut copid mereka itu. Itu kan di eropa.. di sana sudah aman. Sekarang ini, yang masih ada copid itu di Indonesia, India, Filipina dan beberapa negara lain yang masuk kategori A1.


Bahkan, di Cina, yang dipercaya sebagai sumber (biang kerok) nya copid pun sudah aman. Di sana acara publik yang gimanapun, kerumunan sebanyak apapun, sudah aman. Copidnya sudah bermigrasi ke negara-negara A1 itu, ya termasuk kita; Indonesia.


Kalau pemerintah masih bilang Pandemi, ya pandemi.. kamu rakyat; Jangan Ngeyel. Pakai uplod-uplod pideo yang profokatif, sampai bilang covid itu gak ada juga.. kan, ujung-ujungnya ditangkap, terus bikin pideo dobel? Bikin ucapan klarifikasi permohonan maaf karena sudah lancang bilang covid gak ada. Kapokmu kapan?


Sudahlah. Manut saja. Apa susahnya diam di rumah?
Yo ora kerjo cuk, anak bojo ra iso mangan. Kok disuruh diam di rumah. Rumangsamu duit tinggal cetak?
Wah wah.. salah pertanyaannya. Boleh, silahkan keluar rumah, silahkan kerja. Tapi pakai masker ya.. please..


Masker harganya murah, satu pack isi 5 cuma 10 ribu di apotek. Atau kalau malas beli, minta ke Pak Erte, kalau masih bandel, tunggu operasi pak polisi aja, setiap malam biasanya keliling patroli, nah, yang gak pakai masker, nanti dikasih pak polisi, tapi push up dulu.


Pak polisi, sabar ya.. maklumi rakyat kita. Mereka kadang suka bandel, disuruh pakai masker masih gak mau. Nanti kalau ketularan copid, baru tau rasa. Rumah sakit sudah sampai teras pasiennya, tabung oksigen sudah makin tipis, mau dirawat dimana? Mbah dukun juga angkat tangan lho.. mereka bukan ahli penyakit copid. Makanya, manut.


Saya paham. Bangsa kita ini; tangguh, banyak orang kebal, biasa sakit, sangat kuat hidup dalam tekanan apapun. Itu artinya, rakyat kita ini punya daya imunitas yang cukup kuat. Yakin. Itulah kenapa, masih banyak orang yang masih merasa aman ketika dia lalu lalang tanpa pakai masker. Bebas berjabat tangan dengan siapapun, tapi mereka masih bilang, “insyaAllah, sehat.”

Advertisement. Scroll to continue reading.


Tapi, kalau anda pakai masker, nanti tambah ganteng lho.. serius, pakai ya. Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan, dan dengan begitu; kita masih taat sama pak presiden. Sesekali manut lah ya…


Nah, masker sudah dipakai. Bagus.. gitu kan enak dipandang. Meskipun anda kadang ragu-ragu sama copid, minimal tidak kena debu ketika naik motor, enak kan? Apalagi yang wajahnya pas-pasan, begitu pakai masker; anda kelihatan ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Beneran, bikin orang penasaran.


Terus, sekarang ini soal vaksin. Yang diyakini pemerintah sebagai upaya penangkal copid secara masal, tolong lah.. hargai usaha beliau-beliau itu. Vaksin sudah dibeli dengan biaya sangat mahal. Anggaran yang cukup fantastis digelontorkan untuk membelinya, untuk siapa? Ya untuk rakyat lah..


Makanya, mumpung vaksinasi masal ini masih diberikan secara gratis, anda jangan buang kesempatan itu. Datanglah ke posko-posko vaksin di desamu, kan sudah diumumkan sampai desa-desa? Datanglah, biar kita kompak mematuhi arahan pak presiden.


Kalau anda tak mau vaksin. Jangan nyesel ya.. nanti tiba-tiba di beberapa instansi pelayanan, atau syarat-syarat kepegawaian, dan recruitment pekerjaan, ada syarat keterangan “sudah mengikuti vaksinasi”. Bagi mereka yang tidak punya, maka siap-siap menanggung resiko, tidak bisa jadi pegawai, tidak bisa masuk kerja, kalau belum divaksin.


Eh, terus anda kalang kabut ke puskesmas, ke rumah sakit, minta vaksin. Sialnya, vaksin tidak lagi gratis, anda harus bayar. Terus ngomel lagi, protes lagi.. salah siapa, Bambang? Kan kemarin-kemarin sudah disuruh vaksin gratis.. giliran bayar malah anda datang.
Bandelnya gak ketulungan..


Jika anda tidak percaya dengan beliau-beliau, tidak percaya copid, gak mau pakai masker, gak mau vaksin. Lalu anda percaya siapa?
Nah loh.. aku yo bingung cuk. Ruwet.


Intinya, selagi pakai masker itu bisa membuatmu aman, pakailah. Meskipun anda tidak percaya, setidaknya anda menghargai bahwa kita ini masih diatur sama pemerintah, cari yang simpel dan gampang saja to..
Dan jika anda tak percaya vaksin sekalipun, setidaknya anda tidak kontra, tidak provokatif. Gak setuju, diem, daripada anda nanti rugi, moral maupun sosial.


Akhirnya, rakyat kita tinggal pilih; diam karena manut, atau diam karena takut?

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Anekdot

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet… Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement