Connect with us

Hi, what are you looking for?

Labil

Ini Bukan Nasehat Pernikahan

Kalo cocok, pas, bagus.. ya sudah komit, jalani hubungan serius, tancap gas, kawin.. sehidup semati. Eh, beranak pinak, jadi aku, jadi kamu.

Diperkirakan, bulan syawal ini; undangan numpuk di meja tamu, kalender penuh dengan lingkaran merah, bukan hari libur, tapi hari bahagia para pasangan yang menikah.
Nanti, habis bulan syawal, akan ditunda sejenak, di bulan apit (dzulqo’dah); di bulan ini orang-orang bisa menghela nafas, karena undangan mungkin berkurang, bahkan tidak ada.


Lalu… Sasi Besar (Bulan Dzulhijah), kalender akan diborong lagi. Rentetan pasangan menikah sudah pasti padat. Selamat.
Yang punya usaha dekor, tratak, sewa kamera, tukang foto, jasa fotografi dan videografi, catering, selamat ya.. rejekinya sudah pasti melimpah. Kalender kalian sudah pasti penuh bokingan sana-sini.


wkwkwk.. yang jomblo-jomblo, sabar mblo.. yang pacaran tapi belum siap tabungannya? Sabar ya bro.. kita niat sodaqoh aja di bulan-bulan itu. Meski dompet agak seret, tapi kalo ada undangan teman, masak nggak datang? Haluaaaah.. rejeki Allah melimpah ruah, aamiin.
Menikah itu nasib, sedangkan mencintai itu takdir. Kau boleh mencintai siapapun, tapi tak bisa kau rencanakan pernikahan dengan siapa. Kata Mbah Sujiwo Tejo.


Memaknai kalimat itu, kayaknya memang iya, berapa banyak orang pacaran, saling mencinta, dengan berbagai macam intrik pendekatan dan janji manis, tapi mereka tak mampu sembunyi dari kata pisah?


Maka beberapa nasehat ada benarnya juga. Jangan berlebihan mencintai perempuan, jika dirimu belum sanggup meminangnya. Dan jangan kau berikan hatimu seutuhnya, jika dia belum kau yakini sebagai pendamping hidup seutuhnya.


Seorang kawan yang sudah beristri, juga sempat bilang, pernikahan itu adalah langkah memilih dan menjalani, bukan menjalani lalu memilih.


Pilihan yang matang, harus menjadi prioritas utama. Setiap manusia juga punya asas pertimbangan yang berbeda-beda. Bisa berdasarkan selera hati, selera orang tua, atau selera keluarga besar.


Bahkan manusia jawa, selain pribadi dan keluarga, juga ada selera primbon; mencari kecocokan pria wanita berdasarkan weton lahir. Hiyaaa


Contoh, ada sebuah hitungan, yang sangat tidak dianjurkan seperti kelahiran wage dan pahing (pasaran hari di jawa). Menurut kepercayaan orang tua, pasaran itu jika bersatu, maka terlalu banyak celaka dan bahaya selama kehidupan rumah tangga. Jadi, mending cari pasangan yang hari kelahirannya sesuai, dan sedikit pantangan.


wkwk.. repot ya?
Tidak kok. Kembali lagi pada persoalan memilih. Pertimbangan seperti weton itu; tidak harus diimani sebagaimana iman pada Tuhan dan Nabi. Tapi, bukan berarti weton adalah suatu dosa yang perlu dihindari. Artinya, kamu tentu punya kebijaksanaan untuk menimbang.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Entah ini hanya sebuah kebetulan atau bagaimana, tapi sepengalaman orang-orang tua di Jawa, ketika dia punya i’tikad serius pada seseorang, dan dirasakannya getaran hati, maka; sebelum ada kata serius, dipertimbangkan dulu pada awal-awal perkenalan, “lahirnya, hari apa, pasarannya apa?” Kalo cocok, pas, bagus.. ya sudah komit, jalani hubungan serius, tancap gas, kawin.. sehidup semati. Eh, beranak pinak, jadi aku, jadi kamu.


Itu kalau pakai weton. Hanya alternatif pertimbangan saja. Tak perlu kau pikir berat-berat. Banyak juga orang menikah yang pertimbangan untuk memilih; hanya modal yakin dan iman sama Tuhan. Sudah istikhoroh berulang kali, dan yang diyakini adalah wajah Siti, tidak ada yang lain; maka ini cinta suci, ya sudah Paijo tancap gas KUA, Siti tersenyum pasrah, mereka bahagia.


Gimana?
Yang penting adalah ikhlas dan ridho antar kedua pasangan, juga antar keluarga pasangan. Mau pakai apapun pertimbangannya, asal baik dan bijaksana, hasilnya juga baik kok. Yang paling penting jangan tinggalkan Tuhan dalam urusan apapun.


Duh, dari tadi ngomong apa ya? Maaf kalo ngawur.. lain kali kusambung lagi. Semoga tema tentang nikah-nikah tidak kadaluwarsa. wkwk.

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Advertisement