Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Ini Penyebab Tulisan Membosankan

Sudah empat bulan saya tidak memublikasi tulisan. Ini gara-gara di suatu malam, saya membaca tulisan-tulisan saya, dan tidak menemukan beberapa hal penting dalam tulisan itu, seperti “untuk apa”, “kenapa” dan “mengapa”.

Selama empat bulan itu saya gunakan untuk tiga hal: pertama, menikmati tulisan orang, seperti novel, majalah, bahkan tulisan di dinding kantor mahasiswa yang aneh dan tetap saja tidak lucu. Kedua, belajar cara menikmati tulisan, dan terakhir, memulai kembali menulis.

Kalian mungkin berfikir saya orang yang beruntung bisa membuat jadwal sedemikian rupa. Padahal, tiga hal itu hanya alasan saja. Itu tidak benar-benar saya lakukan, dan alasan seperti itu sudah sering kita dengar. Dengan bahasa lebih simpel, kita bisa mengatakan kepada orang seperti saya dengan umpatan: “bunyi tong kosong bisa merusak telinga!”

Pada tahun 2018, saya sempat semangat mengajak teman-teman menulis ini-itu dengan menyumpalkan motivasi keuntungan menulis ke telinga mereka. Beberapa orang bahkan menganggap saya sebagai mentor. Saya senang; saya tidak menafikkan hal itu. Kemudian, setelah saya melakukan pertimbangan beberapa hal, saya menyesal melakukan hal itu.

Beberapa hal yang membuat saya menyesal antara lain:

Kualitas Tulisan

Saya mengikuti perkembangan teman-teman yang suka menulis. Beberapa orang, menurut saya, memiliki kualitas tulisan yang baik. Mereka mampu menulis yang bukan itu-itu saja. Dengan ide yang segar, penyajian renyah, dan tentu, cara menulis yang sesuai kaidah kepenulisan.

Beberapa kualitas yang buruk dan tidak bertanggungjawab sering kita jumpai. Saya ambil contoh tema sosialisme, kapitalisme, negara, pendidikan dan tema lain yang berjarak tak lebih dari satu inchi dari telinga, yang dengan mudah kita seruput di warung kopi, atau dengan kurangajar membuat telinga bising ketika berjalan di trotoar, tempat muda-mudi berkerumun menghabiskan matahari dan bulan untuk membual.

Burung kakak tua berjambul emas milik Pak Herman, ia dilatih menyebutkan nama tuannya dan beberapa kata lucu lainnya. Kini burung itu fasih melafalkan kata-kata itu. Tentu, kalian bukan burung kakak tua yang hanya bisa berbunyi itu-itu saja. Meskipun peringaimu hampir saja mirip burung beo: sebanyak apapun berbunyi, isinya sama saja; sama-sama tidak berisi.

Bagaimana seorang penulis berbunyi, memang perlu dimasukkan pada bagian ini. Sebab, bagaimana ia berbunyi, sama dengan bagaimana tulisannya bernyanyi. Burung beo atau kakak tua yang bisa berbunyi banyak, tetap tidak akan dianggap sebagai penyanyi, dan tidak akan bisa bernyanyi, meskipun beberapa orang hiperbola menganggap burungnya bisa berjoget sambil menggerutu. Ah,…

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sifat buruk

Kau akan mendebat seorang pencaci yang tiba-tiba datang dan memberi nasehat padamu agar berhenti mencaci, atau memberikan motivasi keagamaan tentang pahala bagi orang-orang yang tidak mencaci. Itu sama saja jika penulis menulis tentang “pahala dan keutamaan orang yang memberi” tapi selama hidupnya ia hanya menjadi peminta, bahkan dianggap perampok yang meneror segala bentuk ketenangan.

Di era yang sangat mudah mengintip informasi, orang yang selalu membicarakan solusi gampang ditemukan. Celakanya, banyak yang kebablasan hingga menjadikan dirinya sebagai motivator, sementara prolem diri sendiri tak kunjung terselesaikan.

Beberapa orang menelan mentah-mentah dogma “undzur ma qola, wala tandzur man qola,”, melihat apa yang dibicarakan, bukan melihat siapa yang bicara.

Hemat saya, apa yang dibicarakan memiliki kaitan erat dengan siapa yang bicara. Itu seperti bayi menirukan suara ayam atau gorila, yang dianggap sebagai prestasi atas “apa” yang bisa ia bunyikan. Lantas, jika “siapa” di situ digantikan oleh manusia yang berjengggot dan berkumis, menirukan suara ayam atau gorila, atau bahkan mampu dengan fasih menirukan suara anjing lengkap dengan cara anjing menungging, itu menjijikkan, bukan!

Pemikiran yang cupet

Seperti sifat, pemikiran juga demikian.

Pertanyaan yang pasti sama-sama kita pertanyakan adalah bagaimana mungkin seorang menuliskan sesuatu yang tidak sesuai dengan cara otaknya berputar?!

Terbongkarnya beberapa penulis yang isi otaknya berseberangan dengan tulisan-tulisannya menjadi hal yang menjengkelkan. Meski pun kedalaman laut tak ada yang tahu, metode membuat perkiraan dengan ilmu yang telah terverifikasi sudah ditemukan. Kenyataan ini membuat kalimat husnudzan seperti “barang kali penulis punya rencana baik yang dirahasiakan” menjadi utopis dan patut dikencingi.

Saya menganggap tulisan sebagai pertunjukan sirkus yang disajikan dalam ragam garis berbentuk-bentuk, yang dijajarkan, dengan pembaca sebagai penonton yang kapan saja siap bertepuk tangan, atau pulang meningalkan pertunjukan, atau mungkin melempar kursi, mengutuk penyajian sirkus yang membosankan. Di sini, penulis diberikan beban untuk menata kalimatnya dengan apik, atau mengisi kalimatnya dengan “nilai” yang tidak bisa dirupiahkan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Untuk membuat hal tersebut, pemikiran cupet penulis menjadi tembok besar yang membatasi perkembangan tulisannya. Proses kreatif penulis tidak akan bisa ditemukan dengan modal otak gurun, otak udang, apalagi tanpa pakai otak.

Semua orang membutuhkan eksistensi. Nafsu yang memburu terlalu cepat tanpa terkendali membuat otak kita seperti comberan: tak elok disajikan pada publik. Kita perlu menyadari bahwa ejakulasi dini dari gagasan akan membuat bualan yang berbusa-busa.

Salah satu gejala awal sebelum penyakit kurang waras menjangkiti penulis adalah ke-pede-an. Bayangkan ketika tulisanmu bagus dan orang-orang bertepuk tangan ke arahmu seperti menepuki burung merpati. Kau tak akan bisa banyak berkutik, paling-paling pura-pura malu, atau diam-diam mengharapkan seseorang minta tandatangan.

Kebiasaan buruk penulis yang membosankan adalah kegemaran menganggap pembaca bodoh. Penulis model ini biasanya menyumpalkan deskripsi secara membabi buta, secara rinci: panjang-lebar, seolah-olah mendikte para pembaca. Padahal, dengan hal itu, tulisan menjadi sangat tidak menggairahkan.

Saya beri satu  contoh tulisan yang saya ambil serampangan dari sebuah laman daring di suatu media lokal. Saya pencet kolom opini. Begini tulisannya:

“Tanah merupakan kebutuhan pokok dalam memenuhi gejolak peningkatan pengembangan sektor pembangunan. Pembangunan yang dilakukan bertujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pada era revolusi industri 4.0.”

Permainan diksi memang penting. Tapi membuat sirkus dengan kalimat bukan urusan yang gampang. Saya yakin, kepala kalian bisa pecah memahami tulisan di atas.

Kita bisa mulai mengupas kalimat pertama. Saya menangkap, intinya begini: “tanah penting untuk pembangunan”. Ada dua kata yang seharusnya mengggunakan kata hubung, yaitu “peningkatan” dan “pengembangan”. Mungkin penulis tak mengerti tentang hal ini, atau lebih buruk lagi, tak mau mengerti.

Pada kalimat ke dua, kita boleh tertawa sekeras mungkin. Saya akan menulis ulang, begini: Pembangunan yang dilakukan bertujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pada era revolusi industri 4.0.

Jika menafikkan substansi tulisan, seharusnya ditulis seperti ini: “Pembangunan tersebut untuk mendukung era industri 4.0”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Selain pengetahuan yang minim tentang kepenulisan, kabar yang paling buruk adalah kebiasaan penulis ‘kacangan’ memperpanjang kalimat yang harusnya pendek, dengan alasan umum: ‘biar tulisannya keren’. Kita bisa melihat itu pada semua karya penulis ber-madzhab ‘cinta kalimat ruwet’.

Sampai di sini, saya sebenarnya ragu memublikasikan tulisan ini. Namun harus saya urungkan. Kita akan segera tahu mana yang suka ‘masuk angin’ dan mana yang bisa diajak beneran belajar. Dalam khazanah sosial, nyatanya mendengarkan lebih sulit dibandingkan bicara.

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Hey dik bagaimana kabarmu, apakah kamu rindu tulisanku? Jika iya, maafkan saya dik. Belakangan ini, selepas keluar dari penjara (kampus), saya tak sempat dan...

Labil

Santai terkadang bikin orang mikir serius. Lalu saking seriusnya, gak sadar ternyata juga terlalu nyantai. Seperti orang bertahi, kadang serius ngeluarinnya. Padahal, itu acara...

Inspirasi

Sudah sekian lama, tim cabarus bergulat dalam ring yang tertutup, untuk membangun citra kepenulisan ala cabarisme yang selama ini sudah anda nikmati. Frame website...

Advertisement