Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Inilah Proposal Perjuanganku

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku. 

Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU yang menuai konflik, dan aku hanya menyaksikannya melalui daring. 

Aku membiarkan pikiranku tetap dalam lagu, sambil menatap kosong dinding-dinding kusam kamarku. Aku tidak bergerak, pikirnya. Dan aku menahan untuk menuliskan peristiwa yang terjadi, ku undur hingga saat ini anda bisa membaca tulisan saya. 

Hari itu, warung-warung kopi sepi, tak banyak teman-temanku turun ke jalan, mendemo DPR. Hari-hari yang membosankan, saat ‘ngopi’ tanpa ditemani kawan atau kekasih

Tapi dalam keadaan malas, aku pun masih memikirkan Indonesia. Aku tidak tahu banyak soal perjuangan dan aku tidak melakukan apapun untuk Indonesia. Aku tidak bisa menjadi senjata yang membunuh dan aku tidak bisa menjadi tameng penghalau musuh.

Aku hanyalah Neutrino. Sesuatu yang tidak kau lihat, bahkan bisa dianggap tidak ada. Sialnya, tindakanku takut tidak seperti dengan kebesaran mulutku. 

Kondisi ini mengingatkan pada tahun 1998 saat ribuan mahasiswa turun ke jalan di berbagai kota hingga lahirlah gerakan reformasi melengserkan rezim Soeharto, tapi pasca reformasi, kondisi itu tidak kunjung membaik. Dua dasawarsa malreformasi, sebutkan saja, salah satunya korupsi makin beranak-pinak. 

Gerakan hanya berhasil menumbangkan rezim, perekonomian tetap buruk, kesejahteraan makin naif, pemerintah tetap oportunis. Yang lupa adalah reformasi dalam alam pikiran mereka hanyalah ‘menggulingkan rezim’ dan lupa menyiapkan pengganti yang ideal ‘berbeda’ dari rezim Suharto. 

Setelah lelah, demo-demo di jalan mulai selesai, semua kembali ke aktivitasnya masing-masing. Kembali ke kesejatian perjuangan, memaknai kembali langkah tujuan dan mimpi kita bersama dan aku akan mengingatkanmu; ayo semangat, karena sejatinya perubahan itu dimulai dari perubahan sikap dan perilaku. 

Hidup ini begitu sederhana, tidak butuh berbab-bab teori untuk melakukan revolusi bahkan reformasi. Terkadang aktifitas dan malas men-trap kita untuk tetap menjadi bangsa yang tidak maju. Terkadang saat-saat tertentu saja semangat kita berapi-api, pada jam-jam pagi kita ‘mati’. Terlalu banyak ilusi dan paradox.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pepatah Madura, “lekas depa’ banni polana santa’, tape polana ta’ buambuan”. Artinya, cepat sampai bukan karena cepat, tapi karena tidak berhenti-berhenti. Dan kita butuh skenario perjuangan, skenario yang kita sepakati, skenario yang semua orang pahami. Skenario yang kita percayai dan skenario yang kita tidak saling curigai. 

Mari duduk dan bicara. Sampaikan idemu, sepakati cetak birunya dan lakukan, tanpa tapi, tanpa nanti. Jangan hanya duduk diam atau berdebat tanpa bukti tindakan yang terus menerus. Perjuangan itu sains, bang!. 

Cetak biru itu komitmen, prioritas dan motivasi. Ini akan menjadi cerminan masa depan. Kenapa perjuangan itu sains banget, perjuangan butuh strategi dan manajemen. Gak kayak wedus ngamuk nyeruduk tanpa perencanaan. Seperti kata Lenang Manggala, kita tidak akan jatuh oleh hadangan gunung. Tetapi kerikil, justru yang paling kerap membuat kita jatuh terhuyung.

Mau mengadakan seminar di kampus saja butuh proposal, masa aktifis tidak punya proposal perjuangan. Nilai dari sebuah perjuangan adalah keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Aku hanya perlu kamu mempersiapkan tanganmu. 

Cetak biru, mungkin menurutmu tidak penting. Tapi  orang menyala api untuk menerang jalan. Tapi tak kurang pula yang mati terpijak baranya (Darma Mohammad, Merinci Ufuk). Mau demikian?. 

Tujuan akhir Skenario Perjuangan itu bukan pencapaian, ia hanya 30%. Tapi bagaimana pertahanan (50 %) dan kebahagiaan (100 %).  Mulai sekarang ubah diri anda, dan upgrade dari versi lama ke versi terbaru (4.0). Tak beda di setiap masa, kolonialisasi-reformasi-revolusi adalah tentang perubahan sikap dan identitas.

Mengapa anda ingin tampak berkeringat? Tantangan kita adalah bagaimana menciptakan karya yang berguna di tengah masyarakat, inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Ubah sikap kritis menjadi problem solver. Misalnya menciptakan teknologi baru yang membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat.

But, itu tidak bisa dilakukan sendirian. Harus kumpul dan melakukannya bersama-sama. Itulah yang disebut dengan Equity Crowdpower dan membutuhkan proses secara bertahap. Tidak ada keajaiban. Tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri, untuk melepaskan diri dari ego mengambilnya keuntungan diri sendiri, sebab untuk menjadi pejuang kehidupan, kita harus memiliki keamanan finansial, bebas dari ambisi kekuasaan dan bermental berdikari. 

Cita-cita bangsa negara yang tercantum dalam alinea ke-2 Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang berbunyi “.. bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” mandeg sebab pada dasarnya bangsa ini secara mental tidak memiliki cita-cita. Menjadi bangsa paling loss dan santuy dan reaksioner. 

Anda jangan peduli dulu pada negara, pedulilah pada diri sendiri. Agar satu orang kamu tidak menambah daftar kegagalan bangsa ini. Lalu mengapa anda ingin tampak berjuang? 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Aku tunggu proposal perjuangannya.

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Untuk kamu, dan seorang teman di sana. Hidup itu pilihan dan takdir bukanlah satu hal yang egois dan pilihan harus diperjuangkan. Saya tersentuh begitu...

Community

Kuliah itu ada enaknya dan ada ndak enaknya, iya to?

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Kritik

Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi...

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Inspirasi

Tuhan telah meniupkan ruh-ruh perdamaian pada setiap insan yang mengatakan dirinya sebagai manusia NU.

Inspirasi

Dan kau, wahai anak bangsa. Bangkitlah dari keterpurukanmu; yang mudah sakit tipes, yang mudah kena debede, padahal makanmu sudah enak-enak.

Inspirasi

... seperti kopi dengan hitam dan pahitnya.

Kritik Santai

“Iya memang seharusnya begitu bung, iya nggak harus begitu juga kali sahabat, memangnya harus seperti itu yah kakanda”

Advertisement