Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Jangan Gunakan Cinta untuk Negerimu

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Eits.. judul yang sembrono. Kamu jangan langsung tegang, kita kan belum apa-apa. Jadi, simak cerita ini sampai kasmaran.


Sebagai bangsa Indonesia, kita tidak pernah kehabisan kisah dramatis. Bukan hanya kisah pahlawan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Kartini, Fatmawati, dan semua pahlawan proklamasi, Alfatihah buat beliau. Minimal kita berharap, meski mereka kecewa dengan anak cucunya saat ini, semoga surga tetap menjadi rumahnya.


Kenapa perlu dikirim doa? Sudahlah, kirim saja. Asal kau tahu; mereka itulah yang benar-benar terbukti cintanya pada Indonesia. Apa susahnya kirim doa? Sekarang, doakan.


Maaf, cerita ini ditulis dengan sedikit sensi. Bukan karena datang bulan, tapi siapa yang tak kesal, jika bangsa yang diperjuangkan dengan darah dan air mata; kini musnah. Kita hanya hidup ugal-ugalan, tak punya sopan, apalagi cinta.


Bahasamu lho cuk, koyo aktipis ae. wkwk. Demi bangsa dan negara.. pinjam ekspresinya Mbah Presiden Jancukers.
Asu tenan.


Ini serius. Kau tahu, aku sangat serius saat bicara soal cinta. Dan kisah yang masyhur pasca reformasi, adalah kisah orang-orang yang begitu cinta pada bangsanya, tapi mereka berakhir terbuang, cintanya tak laku di kursi pemerintahan.


Sudah menjadi rahasia umum bukan? Siapa yang tidak kenal dengan Gus Dur? Atas dasar apa dia dilengserkan dari kursi presiden? Woy, jawab cuk.. bangsa pengecut. Kan, marah lagi.


Tuhan memang adil, orang yang mulia, akan terbukti setelah dunia berpisah dengannya. Maka seluruh alam akan bercerita tentang semua kebaikannya.


Gus Dur sudah bersemayam, tidak cukupkah bangsa ini belajar padanya? Kini, semua orang jujur mengakui, bahwa dia adalah orang yang mulia. Bagaimana tidak, seorang mantan pejabat mana, yang dia tiba-tiba datang ke rumah anaknya, lalu mau pinjam uang. Saat ditanya sang anak, “buat apa Pak, berapa?” Kurang lebih Gus Dur menjawab, “5 juta, buat pegangan!”. Itu terjadi sekitar tahun 2009.


Bayangkan, seorang mantan presiden. Harusnya, seorang mantan presiden, kekayaannya tak habis dimakan tujuh turunan. Apakah kejadian seperti itu terjadi pada pejabat-pejabat masa kini? Saat para pejabat berlomba-lomba menumpuk kekayaan, lewat cara apapun, khawatir segala keinginannya tidak terpenuhi, tapi Gus Dur; memberikan gajinya pada seorang menteri,”sana beli baju, masak menteri bajunya begitu” hal serupa sering terjadi pada orang-orang lain di sekitar Gus Dur.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Tapi sayang, cinta Gus Dur tak terbalas. Terhitung hanya sekitar 17 bulan, dia dilengserkan, secara paksa. Kisah tuntas pelengseran itu silahkan baca di buku “Menjerat Gus Dur” yang baru terbit tahun kemarin.


Kita ini, sebagai bangsa hanya berlomba-lomba menjadi Sengkuni. Di atas sana, duduk para Sengkuni yang beradu kekuatan. Sekalipun ada sosok seperti Karna, atau Pandawa, dia tidak mungkin bertahan lama, percayalah.
Jika tak percaya, kau boleh tanya langsung pada 75 orang pegawai KPK yang tak lolos tes wawasan kebangsaan, bulan kemarin.


Kayaknya, mereka bukan orang yang bodoh perihal kebangsaan. Bagaimana tidak, pegawai KPK yang sudah mengabdikan diri bertahun-tahun, berhasil mengusut tuntas kasus-kasus besar tindakan korupsi para pejabat tinggi negara, tiba-tiba ikut tes kebangsaan, tidak lolos. Ini lelucon macam apalagi?


Nama-nama senior di tubuh KPK, yang integritasnya cukup terbukti seperti penyidik senior Novel Baswedan, penyidik Ambarita Damanik, Direktur Pembinaan Jaringan Kerja antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) Sujanarko, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Giri Suprapdiono, penyelidik Riswin, Kepala Bagian Perancangan dan Produk Hukum KPK Rasamala Aritonang, lalu Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi Herry Muryanto, apakah mereka bodoh perihal kebangsaan?


Melihat kisah itu, lagi-lagi mengulang cerita cinta yang selalu kandas. Di kursi-kursi sana, memang terlalu panas untuk orang-orang yang jujur, independen, berintegritas, dan tulus mendedikasikan diri untuk negara. Mereka terlalu baik di KPK, itulah maka; skenario berkedok tes kebangsaan, menyudutkan nama mereka sebagai pegawai yang tidak paham kebangsaan, dan seolah dianggap tidak layak diangkat sebagai aparatur sipil negara.


Siapa lagi? Banyak, sangat banyak pemilik cinta di negeri ini, yang mereka baik budinya menjadi orang terlarang. Mereka hanya akan menjadi benalu, karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Anekdot

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet… Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement