Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Karena proses itu sangat mahal, hanya Tuhan yang mampu membayarnya

Untuk kamu, dan seorang teman di sana.

Hidup itu pilihan dan takdir bukanlah satu hal yang egois dan pilihan harus diperjuangkan. Saya tersentuh begitu membaca kisah singkat anak muda yang berani menanggung beban yang sangat berat demi keluarga dan orang-orang yang dicintai.

Dia tinggal di Bumi Kartini. Kau tahu, Kartini dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Kartini memikirkan suatu perubahan yang bisa berdampak baik untuk Indonesia. Dan teman ni, sedang berjuang, mewarisi spirit of shima.

Hampir dua tahun dia pulang kampung, memilih ‘lulus’ lebih cepat tanpa ijazah dan wisuda layaknya para mahasiswa lain, bukan karena tidak mampu di jurusan psikologi.

Justru ia bisa belajar lebih cepat dibandingkan teman seangkatannya. Baginya terlalu lama di kampus itu kebangetan. Dan di usia semesternya yang masih dini, puluhan skripsi sudah ia tulis dan lolos. Meski yang lulus bukan dirinya.

Dia juga berkemampuan dalam bisa sastra, seperti puisi, cerpen dan esai. Banyak karya lahir dari tangannya, termasuk skripsi-skripsi mahasiswa lain di jurusannya. Jadi buat apa menunggu lulus? Toh ilmunya sudah ia dapat.

Teman ini sempat jadi Gubernur Fisib, dan menjadi idola di fakultas. Tapi sayangnya dia tidak suka berpolitik, apalagi hanya di kampus, dunia itu luas dan akhirnya ia pun menantang belajar pada kehidupan itu sendiri (University of life).

Kau tahu, cerita ini benar adanya, karena saya menyaksikan prosesnya sejak baru menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru. Lalu begitu aku membaca tulisan berjudul Selain Lapar, Puasa Di Bulan Ini Dipaksa Sabar aku merasa bersalah. Pikiranku jadi berkecambah. Puluhan pertanyaan bagaimana-jika berseliweran di kepala.

Sejak awal kuliah, aku memang sudah bosan. Mungkin kau akan menyebutku sombong dan apatis. Walaupun bagi saya itu sebuah pengalaman berharga, dan aku tidak menepis bahwa kejadian-kejadian di dunia ini selalu di bawah kendali Tuhan.

Intinya, saya sudah tidak peduli pada Kartu Hasil Studi saya, kemudian, saya memutuskan untuk meninggalkan ijazahku sebagai kenang-kenangan untuk Universitas.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Jadi, saya merasa bersalah sebab tidak semua orang harus berpikiran sama sepertiku, yang tidak butuh ijazah. Faktanya, jika ingin jadi abdi negara, kau tetap butuh ijazah atau jika ingin jadi karyawan, syarat administratif tetaplah ijazah.

Memang kedepannya, banyak perusahaan tidak akan menanyakan ijazahmu lagi. Nanti bukan saat ini. Seandainya temanku ini menyelesaikan kuliahnya, mungkin secara finansial sudah mapan dan bisa menikahi kekasihnya bulan depan.

Namanya hidup, butuh kepastian. Dan bergantung pada bos seakan lebih jelas daripada bergantung pada Tuhan. Kalau kau minta THR pada Tuhan, dalam hati selalu bertanya kapan. Lalu bos menjawab, tenang lebaran pasti THR-an.

Nah, saya merasa tidak membutuhkan ijazah karena Tuhan is my big boss. Apa kau pernah tau statement, bahwa, ijazah tidak dibutuhkan bagi seorang pengusaha?. Yes, saya memilih jalan itu saat ini.

Kembali ke cerita, teman saya tersebut juga menempuh jalan itu, enterpreneur. Jalan itu, sekali lagi bukanlah jalan yang mudah. Lebih baik kerja 8 jam sehari daripada kerja nyaris 24 jam sehari. Bener deh, percaya saya. Hidup dalam ketidakpastian, bisa membuatmu stroke seketika dan resikonya tidak sebercanda itu.

Selangkah saja dari garis Start, sudah banyak hal yang harus dipelajari sekaligus. Mulai dari marketing, produksi, manajemen, distribusi dan sebagainya. Ditambah mengelola mindset dan menjaga vibarasi yang susahnya bukan main. Tidak percaya? coba saja.

Jangan berharap kemapanan finansial dalam waktu singkat, jika toh semuanya masih serba belajar, trial and error. Apa yang dialami teman saya dan juga yang saya alami adalah sama. Bedanya hanya di tingkatan errornya. Hanya yang berada di jalan itu yang tahu sakitnya. Orang lain? hanya menyaksikan seraya berteriak-teriak menuntut hasilnya.

“Katanya kamu bisnis ini itu, mana hasilnya? kok tetap miskin,” begitulah kira-kira kalimatnya di lemparkan ke wajahmu serupa tai. Kau akan diserang bertubi-tubi dan kau harus sabar. Tetaplah membentangkan layar, menuju impian yang dicita-citakan. Kebesaran nama kampus, bukanlah garansi sebuah kesuksesan. Dan saya pun semakin yakin, jika hukum alamnya mereka drop out lalu dan berjuang di bidangnya sukses, maka teman saya pasti sukses.

Jadi tetaplah bertahan dan tetaplah berjuang, hai teman. Teman-temanmu mungkin sudah punya gaji pekerjaan tetap dengan gaji bulanan, sehingga kehidupan mereka sudah terbilang mapan. Tapi prosesmu sekarang, adalah jauh lebih mahal. Kenapa? karena yang kamu lakukan adalah untuk mengubah nasib keluaga, memotong mata rantai kemiskinan keluarga bahkan tetangga sekitar, dan generasi sekarang hingga generasi seterusnya. Ayo siapa lagi anak muda yang bisa berpikir dan bertindak seperti ini?

Karena proses itu sangat mahal, hanya Tuhan yang mampu membayarnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Kritik

Saya tidak anti penguasa, saya hanya hanya tidak suka gado-gado.

Kritik

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku.  Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Inspirasi

... seperti kopi dengan hitam dan pahitnya.

Labil

Hey dik bagaimana kabarmu, apakah kamu rindu tulisanku? Jika iya, maafkan saya dik. Belakangan ini, selepas keluar dari penjara (kampus), saya tak sempat dan...

Kritik

Ingatan saya tentang nostalgia ketika masih menjadi mahasiswa masih belum tuntas betul. Bagi saya kampus memiliki banyak problematika sederhana yang sifatnya makrokosmos. Itu semua...

Kritik

Kampus telah menghasilkan pengangguran, lebih baik lagi kalau mampu menciptakan alumni organisme sibernetik, ya itulah cyborg. Lulus mau ngapain?

Kritik

Negara yang menganut sistem kapitalisme cenderung bergerak lebih cepat dalam kemajuan perekonomian. Banyak sekali perusahaan-perusahaan besar yang lahir dari sebagai akibat dari pasar persaingan...

Inspirasi

Idealnya seseorang bisa menekuni karir dan profesi yang sesuai dengan jurusan saat kuliah.

Kritik

Kapitalisme sangat besar, dan menjalar. Kau tidak bisa menghentikannya hanya dengan aksi atau demonstrasi. Kau harus bekerja keras, membangun usaha, mengumpulkan kapital.

Advertisement