Connect with us

Hi, what are you looking for?

Tips

Kenapa Menghargai Orang Lain itu Penting? Ini Jawabannya!

Harga diri tak semurah harga cabe di pasaran. Cabe di pasar mungkin beberapa ribu per-kilonya. Tapi harga diri, jangankan ribuan, ratusan hingga jutaan ribu pun tak bisa tertaksir. Itulah kenapa, harga diri begitu pentingnya untuk dijaga. Apalagi masyarakat Madura soal harga diri; “angoan poteh tolang atembeng poteh matah” pun jadi.

Sek sek sek…

Nanti dulu, ada angin apa sebenarnya hari ini. Tiba-tiba jari ini tanpa sengaja meraih keyboard pada laptop dan secara spontan mengetikkan paragraf di atas, tentang harga diri. Aku bingung! Mudah-mudahan kamu tidak ikut-ikutan bingung.

Salah seorang teman di kelasku pernah marah, semarah-marahnya. Meja diangkat, kursi dilempar, sapu dibuang, untungnya pacarku yang cantik tak sampai dicium. Bukan karena guru yang memberikan nilai ulangan jelek yang membuat ia marah seperti itu, dan juga bukan karena diputus pacar atau ditolak gebetan. Tapi… (ya, sebenernya aku juga memaklumi dia marah seperti itu!) karena ulah si Jono (salah seorang temanku juga di kelas) yang dengan vulgarnya ia mengatakan kepada si Burdan (temanku yang sedang marah) seperti ini,”Bur! Koen gak usah gaya dadi wong! Bocah gak duwe bapak gak duwe mbok kok gaya-gayaan!”

Pertengkaran antar teman itu bermula dari sebuah candaan-candaan ringan yang biasanya tidak pernah terjadi keributan. Sama halnya ketika aku mengatakan, “raimu koyo bokong panci” kepada temanku yang bernama Sigit yang kebetulan mukanya hitam pekat, pokoknya hampir mirip lah, dengan bokong panci yang sudah mengkerak. Tapi, hal itu tidak menimbulkan apa-apa di antara kami, fine-fine saja. Berbeda dengan cerita Jono dan Burdan, yang ujung-ujungnya menimbulkan salah satu dari mereka harus sakit hati, dan marah luar biasa. Karena candaan yang digunakan sudah lebih dari batas kewajaran. Kira-kira, jika bisa kuulang lagi memori tentang percakapan mereka, kurang lebihnya seperti ini;

Jono: Bur!

Burdan: iyo Jon!

Jono: gak mandi kamu yo?

Burdan: Ngawur! Kamu paling sing gak mandi?

Jono: Kok mukamu masih item dari kemarin?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Burdan: Lha dalah… apa mukamu putih? Sama-sama item gitu kok?

Jono: Haha… tapi setidak e, aku masih ganteng dibandingkan kamu Bur!

Burdan: Lha dalah… ganteng dari mana to Jon?

Jono: Ya jelas dari warisan bapakku to ya..

Burdan:  Haha… Lha wong bapakmu yo gak ganteng gitu kok Jon.. Jon.., warisan ganteng dari sisi mananya yang bisa diwariskan bapakmu?

Jono: Bur! Koen gak usah gaya dadi wong! Bocah gak duwe bapak gak duwe mbok kok gaya-gayaan!

Begitulah kira-kira percakapan mereka. Yang berakhir pada kesakit hatian yang dialami Burdan atas sikap Jono yang seperti itu. Mengatakan dengan terang-terang tanpa berfikir panjang bahwa apa yang akan dikatakan itu akan menyakiti hati lawan bicara. Padahal, semua sudah tahu, bahwa Burdan memang sudah tidak punya bapak dan ibu. Tapi tidak harus seperti itu dalam bercanda. Setidaknya, harus ada batasan-batasan ketika berbicara, apalagi bercanda dengan orang lain, sekalipun ia adalah teman.

Nah, sekarang aku baru sadar. Kenapa aku harus meraih keyboard dan menuliskan sebuah uraian tentang harga diri. Karena aku tidak mau, kejadian serupa terjadi kepada teman-temanku yang lain, terutama kamu yang sekarang sedang membaca.

Kita tahu, bahwa setiap orang mempunyai kecenderungan untuk berharap agar setiap sisi-sisi pribadinya dihargai oleh orang lain.  Coopersmith (1997) menjelaskan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan bahwa individu tersebut meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga. Hal ini membuktikan, bahwa segala sesuatu yang diterima dari orang lain dalam proses interaksi (komunikasi), tentunya tidak boleh bertentangan dengan evaluasi yang telah dibuat masing-masing individu.

Jika aku sudah menetapkan beberapa hal (privasi) yang tidak bisa direndahkan oleh orang lain, maka kamu jangan sekali-kali melewati batas itu, karena aku bisa saja marah, karena merasa harga diriku sudah direndahkan olehmu. Dan jika aku sudah marah, maka bentuk kemarahanku akan lebih hebat lagi ketimbang kemarahan Burdan. Tidak hanya meja atau kursi yang ku lempar, gedung sekolah mungkin bisa saja aku robohkan, pohon ku tebangi, gunung ku daki, lautan ku sebrangi, aku tak peduli. Kok mirip lagunya Roma Irama gais… haha.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Artinya, dalam proses komunikasi dengan orang lain, entah yang sudah kenal baik atau yang belum kenal baik, seyogyanya mematuhi rambu-rambu sebagai berikut:

  1. Pahami terlebih dahulu etika dalam berkomunikasi. Seseorang tidak diperkenankan menyinggung SARA dalam proses komunikasi berlangsung. Karena kita tahu, bangsa ini adalah bangsa dengan masyarakat multikultural, sehingga alangkah lebih baiknya jika kita mau menghargai orang dengan agama, ras, atau budaya lain.
  2. Perhatikan lawan bicara kita. Apakah ia adalah orang yang sudah akrab dengan kita atau belum. Jika belum akrab, maka kita harus hati-hati dalam melontarkan perkataan, tidak boleh sevulgar perkataan antara aku dan sigit. Begitupun jika lawan bicara kita adalah teman akrab, harus dipahami betul, hal-hal yang bisa membuat dia marah jangan sampai kita angkat sebagai bahan pembicaraan.
  3. Jika kita hendak bercanda, alangkah lebih baiknya memahami terlebih dahulu; sejauh mana intensitas kita dalam berhubungan. Karena semakin dekat hubungan seseorang, maka semakin besar rasa saling menerima. Begitupun sebaliknya, semakin kurang dekat hubungan seseorang maka peluang untuk saling menerima juga semakin kecil. Takutnya, kamu sok-sok an pengen bercanda sama aku, eh, jadinya krik-krik!

Sudah, mungkin itu saja yang bisa aku ceritakan kali ini. Aku senang sekali karena kamu sudah mau membaca pesan-pesan yang aku berikan. Mudah-mudahan kamu dimudahkan rejekinya, disehatkan badannya, dan dipanjangkan umurnya, aamiin.

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Advertisement