Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Kesepakatan yang Berakhir

“Ada beban dalam pikiran yang selalu menjadi hantu dalam mimpi. Lalu menjadi nyata setelah bangun.”

***

Perjalanan kala itu membawaku ke sebuah tempat. Melalui sebuah celah di atas genting, kuintip gerombolan orang sedang berkumpul di ruangan dengan meja persegi panjang yang di atasnya berserakan map-map berwarna merah, kuning dan hijau. Kuintip, ada kertas-kertas di dalamnya.

Seorang yang paling menjadi perhatian beberapa kali merapikan jas. Hidung mancungnya terlihat serasi dengan kulit putih dan rambutnya yang kekuning-kuningan. Aku menebak, orang yang paling diperhatikan itu pimpinan rapat. Ada beberapa orang dari golongannya. Itu terlihat dari warna kulit dan ciri-ciri tubuh yang lain. Sementara itu, dua orang berkulit sawo matang yang berhidung tak mancung, mereka lebih banyak mengerutkan dahi dan terlihat tidak tenang.

Meja persegi panjang pinggirnya dikelilingi orang-orang penting itu. Pemimpin rapat sudah mulai berbicara. Matanya menajam kepada dua orang berkulit sawo matang.

“Kesepakatan wajib kalian taati.” Kata pemimpin rapat.

Orang-orang mengangguk dan dua orang berkulit sawo matang tidak mengikuti orang-orang yang kepalanya mirip seperti perkutut saat sedang manggung. Dua alis kedua orang berkulit sawo matang seperti akan ditempukkan. Kalian bisa membayangkan rias wajah mereka seperti wajah orang mendorong kotoran di kakus. Merah. Menahan kotoran yang sudah kebelet keluar.

“Diam berarti sepakat. Begitukan arti bahasa tubuh kaum kalian?” tandas pemimpin rapat. Dua orang berkulit sawo matang tahu kalau itu bukan pertanyaan dan mereka tetap kukuh tidak menjawab pertanyaan apapun.

Di atas meja ada makanan di sajikan dan tak satupun sudi menyentuhnya. Pembicaraan berlanjut searah: pemimpin berbicara dan semua memasang kupingnya. Orang-orang penting memang sering terlihat serius dan tidak terlihat harmonis.

Rapat itu berakhir setelah dua orang yang membisu menandatangani map-map yang disuguhkan ke depannya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dua orang berkulit sawo matang. Mereka menuju ke selatan, ke daerah pegunungan, mengendarai mobil Jeeb hitam berpelat ‘AB’.

Bau daun cengkeh disuling menyebar bersama asap-asap sisa pembakaran yang merangsek ke dalam hidung. Hamparan sawah dan kebun terasering melengkung-lengkung, membentuk garis-garis tak beraturan yang indah. Petani berkebaya dengan caping bambu terlihat sedang menyiangi rumput di sela-sela palawija dengan ketelatenan. Anak-anak laki-laki bermain apa saja yang bisa dipermainkan, anak-anak perempuan, dengan suara masih melengking, saling sahut menyontohkan cara memasarkan dagangan saat memerankan permaianan ‘pasar-pasaran’.

Aku terbang. Mobil Jeeb hitam terlihat tidak terburu-buru. Dari jalan besar, masuk ke jalan-jalan kecil berbatu. Ada tempat di tengah hutan: sebuah gubuk bambu beratapkan tatanan ilalang yang sudah reot. Mobil Jeeb hitam itu berhenti. Mereka keluar, berjalan melewati jalan kecil ke arah puncak dan menapaki undakan demi undakan dengan rias wajah yang tidak menyenangkan dan tetap membisu. Hutan yang terlihat perawan tampak tidak begitu menggairahkan untuk dinikmati.

“Bagaimana kiranya jawaban si Mbah?” seorang mengajukan pertanyaan.

“Lihat saja nanti,” jawab orang satunya dengan tetap menginjaki rerumputan.

“Apa si Mbah tidak akan marah?” lagi, dia mengajukan pertanyaan. Satu orang lagi tetap menjawab dengan kalimat yang sama: lihat saja nanti.

Sejak percakapan pertama itu, dugaanku kalau mereka orang yang bisu terpatahkan. Di situ, pikirku, mereka adalah orang yang tidak banyak bicara. Atau, mereka sedang berhati-hati ketika bicara. Kalau tidak mencemaskan ucapan yang diselewengkan, mereka ibarat stempel pengesahan yang bisa digunakan untuk melabeli hal-hal tertentu untuk kepentingan-kepentingan yang penting.

Di sebuah pondokan tengah hutan mereka berhenti. Seorang tua membuka pintu setelah mereka mengetuknya. Tanpa pembicaraan apapun, mereka bertiga masuk setelah sempat celingukan ke sana- kemari. Aku membuntutinya. Masuk melalui celah di bawah kayu bantalan atap.

Tikar dari anyaman daun pandan terjabar di tengah ruangan berukuran sekitar tiga kali enam. Di pojok ruangan, lampu minyak baru saja dinyalakan, pertanda mulai surup, mulai petang.

Dipersilakannya duduk dua tamu itu. “ Nak Minto, larut dalam kesedihan tidak menjadi solusi saat ini,” kata si Mbah sambil mengangkat kendi air, lalu menuangkannya pada dua gelas bambu dan menyodorkan pada dua tamunya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kesepakatan itu merusak dan merugikan siapapun, Mbah,” jawab orang yang di panggil Minto itu.

“Apa kau setuju kalau itu kutukan, Nak Miran?” kata si Mbah. Miran menganggukkan kepala.

“Kesepakatan yang dipaksakan sama dengan bersepakat dalam ketidaksepakatan. Bukankah begitu aturan mainnya?” si Mbah bertanya.

“Kita sudah menandatangani kesepakatan itu, Mbah. Bagaimana mungkin bisa dibatalkan?” sela Miran.

“Hanya kesepakatan yang tidak memiliki wujud atau bentuk yang bisa abadi, nak. Selebihnya, kesepakatan yang berbentuk, yang tercatat, akan musnah dalam tenggat waktu yang ditentukan, atau tertumpuk catatan lebih baru, perjanjian baru.” si Mbah memaparkan.

Suasana menjadi hening. Minto, Miran dan si Mbah sampai bisa mendengarkan nafasnya keluar-masuk. Beberapa saat, Minto memainkan jemari dan menggeser pantatnya, seolah-olah mencari posisi yang nyaman. Miran memilih menggosok-gosokkan kedua telapak tangan dan menempelkan ke mukanya.

Si Mbah berdiri, berjalan ke pinggir, menuju jendela. Dia menyurukkan gagang pada daun jendela dan mengaitkan tali penahan.

“Lihatlah, nak!” kata si Mbah sambil menunjuk tengah hutan yang gelap.

Mula-mula si Mbah mengatakan bahwa di hutan ada banyak kehidupan. Binatang ternak, jika di hutan, akan menjadi binatang liar.

Si Mbah menceritakan sebuah kejadian. Begini: pada suatu masa, seekor rusa berhasil melarikan diri dari kejaran harimau. Sesampainya di hutan, rusa itu kelaparan dan kehausan. Sekonyong-konyong, dedaunan apa saja dimakan si rusa. Sebagaimana tabiat hewan, setelah kenyang, rusa pergi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Beberapa saat kemudian rusa merasakan pusing. Tubuhnya terasa sedikit kaku dan tulang-tulang terasa ngilu. Dia berjalan gontai dan terlihat tidak bertenaga. Tanpa dugaan, seekor singa menikamnya dari depan. Tak tanggung-tanggung, taring dan cakar singa yang tajam mencabik-cabik tubuh rusa tanpa ampun. Tulang dan dagingnya, dalam waktu cepat, tercecer ke mana-mana. Sebagaiman tabiat hewan, setelah kenyang, singa pergi.

Beberapa saat kemudian singa merasa pusing. Tubuhnya terasa kaku dan tulang-tulang terasa ngilu. Dia berjalan gontai dan terlihat tidak bertenaga. Tanpa dugaan, setelah pandangan menjadi gelap, dia kejang-kejang dan mati seketika.

“Kaliantahu, dedauanan yang dimakan rusa itu beracun,”

Si Mbah juga mengatakan kalau ada manusia yang sengaja menyampur daun-daun dengan racun. Tentu, sesungguhnya dedaunan itu baik dan aman dikonsumsi. Minto menjawab, katanya, rusa itu terlalu ceroboh. Sebagai hewan dengan indra penciuman cukup tajam, harusnya bisa membedakan mana daun yang beracun dan tidak.

“Apa kau tak berpikir manusia sudah memikirkan itu?” si Mbah melempar pertanyaan.

“Lantas?” kata Miran.

“Racun itu tak bisa dicium hidung rusa dan hewan-hewan berhidung tajam lainnya,” jawan si Mbah.

Minto mulai merasa dirinya sedang dipermainkan. Cerita si Mbah sama sekali, menurut pikirannya, tidak berkaitan dengan urusan kedatangannya. Sebenarnya tidak hanya itu, suasana di pegunungan yang dingin menusuki tulang-tulang, membuat dia mulai ingin menggigil. Sudah bertubrukan gigi Minto seperti suara tak-tak yang terus-terusan.

“Lantas?” muka Miran mengepung si Mbah.

“Yang salah yang memberi racun,” jawab si Mbah. Tumbuhan dimakan rusa, lanjut si Mbah, dan rusa dimakan singa. Itu namanya siklus. Siklus itu sudah disepakati oleh alam dan penghuninya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Racun pada dedaunan adalah usaha manusia menghianati kesepakatan siklus alamiah. Dan racun itu punya bentuk dan punya tenggat waktu.” Lanjut si Mbah.

“Maksudnya tak abadi?” tanya Minto.

“Lantas apa yang harus dilakukan dan apa yang akan terjadi?” Miran menambahkan.

“Daun-daun beracun itu habis sama sekali dimakan binatang-binatang. Sepuluh persen binatang pergi, ketakutan melihat anak, adik, istri dan orang tua yang tanpa dugaan mati mengenaskan. Setelah semua mati, sisa empat puluh persen penghuni hutan.” Papar si Mbah.

“Cicit-cicitku, nak Minto, nak Miran, sisa empat puluh persen itu, setengahnya karena beruntung dan sisanya karena tidak memiliki kaitan apapun dengan racun itu dan ada pula yang sengaja tidak ingin mengaitkan diri mereka. Carilah yang tidak berkaitan dengan kesepakatan kalian, atau sengaja tidak mengaitkannya. Ceritakan masalah kalian, mereka tahu cara menyelesaikan,”

Angin yang dingin membuatku mengerut. Suara jangkrik dan suara apapun menjelma menjadi musik dengan irama yang menginginkanku lebih tenang. Tak sadar, mataku telah menutup. Tubuhku terasa melayang-layang. Kudapati pagi harinya, tubuhku berada di atas tikar pandan yang kumal dan bredel-bredel anyamannya.

Rumah kayu reot di mana-mana sudah penuh laba-laba dan sarangnya.

Aku terbangunkan setelah debu yang ditiup angin menyelip di kelopak mata. Kelilipan. Oh, tidak begitu saja. Aku mendengar suara pintu terdobrak. Ramai orang-orang dari luar. Aku bangun tepat di tengah orang-orang yang tertegun, bingung.

Ramai suara orang menanyakan keadaanku. Aku masih malas dan lemas dan tidak berminat bicara. Tepat di mulut pintu, kulihat sekeliling sudah menjulang gedung-gedung bertingkat. Jalanan ramai dan gunung sudah rata entah dikeruk dengan apa dan di bawa kemana. Aku lemas. Mataku mulai buram. Remang-remang, seorang berpakaian rapi mendekat dan mulutnya menuju telingaku.

“Sudah waktunya menyudahi kesepakatan itu,” ucap orang rapi dengan jas dan songkok hitam.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Aku pingsan.

Comments

Kamu juga membaca..

Community

Mendengar cerita Ayu yang ditinggal merantau suaminya, aku teringat kisah ju’ Arsima. Puluhan tahun lalu ditinggal merantau suaminya ke Arab Saudi. Aku turut berduka...

Kritik

Merokok Sakit? Daya tahan tubuhmu saja yang lemah. Kau yang begitu pasti batuk saat kehujanan.

Community

Guyub Rukun kembali mengadakan Sayembara Tulisan sastra berupa puisi, cerpen dan esai. Sayembara ini bertujuan untuk mengasah kemampuan penulis yang ada di Indonesia, memberi...

Anekdot

"Cewek yang tiap pagi ngopi di sini ke mana, Mak?"

Kritik Serius

Ibu-ibu penjual cabe tertawa melihat bayi dungu mengemut jempolnya. Bayangkan jika kau melakukan itu, masih lucukah?

Kritik Serius

“Hei, Elena. Kini kau sudah mapan. Impianmu sudah tercapai, bahkan terlanjur lewat. Lihatlah! Langkahkan kakimu keluar dari hotel bintang lima yang glamor dan ramai...

Kritik Serius

Mengerikan, Memang! Pertikaian itu penuh dengan sikut dan kaki. Kedua kubu saling mengerutkan dahi, hampir sudah alis menyatu. Satu pun dari mereka, enggan mengalah....

Kritik Serius

Takbir, Tahmid, dan Tahlil sedari sore sudah berkumandang. Sebagai umat yang taat, serta sekaligus sebagai pacar yang taat juga, tak lupa ku kumandangkan Kebesaran...

Kritik Serius

Tubuhku menggigil oleh terpaan angin malam lereng Medini. Dingin menusuk, masuk melalui pori-pori kulit hingga tulang lupa akan rasa hangat. Semarak malam terlengkapi oleh...

Kritik Serius

  “Duh, kang, pelan-pelan kang..!” desah Iyem tergeletak lunglai di atas kasur tanpa temaram lampu. Sedang Sidrun masih perkasa dengan keringat yang pelan-pelan mengucur...

Advertisement