Connect with us

Hi, what are you looking for?

Community

Kisah Rambut Panjang dan Anak Pertama

“Baru saja pergi dari rumah Senin kemarin, Jumat sudah rindu! Masak gak bisa nahan barang seminggu atau dua minggu, biar hasil kerjanya lebih banyak?”

Herman tak bisa lagi menutupi kebahagiaanya saat ini, perut istrinya semakin membesar, bukan karena sakit perut tapi memang anak yang ada didalamnya sudah berumur 9 bulan. Atun namanya, perempuan yang sangat membuat ia girang. Hingga saat ini, bunga-bunga dalam hatinya mengalun merdu di sebuah café Dargombez tempat ia bekerja. Senandung Rhoma Irama feat Rita sugiarto dalam lagu “Kandungan”, bergeming syahdu.

“Tidakkah kau dengar, bisikan anakmu

Yang kini masih didalam kandungan

Ia menanyakan didalam bisikan

Bilakah ia akan di lahirkan”

Herman sangat riang, seriang anak kecil yang sedang hujan-hujanan. Dan hujan pertama di kemarau ini, membuatnya sumringah, bibirnya cengar-cengir, sembari menyajikan minuman ke pelanggan yang usianya rata-rata masih perjaka. Betapapun kekhawatiran menggelayuti pikirannya, semua itu tersembunyi oleh besarnya harapan atas karunia Tuhan di masa depan.

“Katakan padanya

Papanya sudah rindu menantikanya

Katakana padanya

Kelahiranya akan kusambut mesra”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Romi, teman kerja Herman, yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya mulai penasaran,

“Her, tiadakah lagu yang lain, selain lagu Rhoma? Dan kulihat langkahmu juga enteng sekali! Jangan-jangan…”

Musik terus berlanjut, Herman menjawabnya dengan singkat, “ Dengarkan saja, nanti kau juga tau apa yang aku pikirkan!”

Tidak lama lagi, kita mempunyai

Seorang bayi yang kita rindukan

Hatiku bahagia, Hatimu bahagia

Betapa kita berdua bahagia

Awan berkejaran menuju selatan, langit tak lagi berawan, debu dan asap kendaraan melayang bersama sinar matahari, lalu masuk celah-celah genteng café, hingga thermometer di atas meja menunjukkan 39°C. Zanet si kasir mengingatkan Herman dan Romi bahwa waktu sudah menunjukkan jam istirahat, “Lihat jam itu, kita makan dulu di tempat biasanya.”

Sedikit bercerita, Zanet adalah wanita kasir yang telah lama suka dengan Romi, dan sampai sekarang dia tidak berani mengungkapkan. Sedangkan Romi, meski dia tahu, tapi perasaannya harus jujur, bahwa Zanet hanyalah teman kerjanya, tidak lebih. Dan Herman adalah kutub tengah, dia menjadi titik sentral dimana semua curhat tentang Romi dan Zanet bersarang di telinganya.

“Aku telpon dulu, ibu dari anakku sudah menunggu, kalian jangan mengganggu!” Herman sengaja mengatakannya dengan frontal, berharap temannya bisa menangkap isi hatinya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kudoakan anakmu tidak segera lahir, Her. Belum jadi bapak sudah sok!” Jawab Romi dengan ketus, tapi tak serius.

Telepon tersambung, dialog dua insan yang sudah terikat janji suci berlangsung dengan syahdu,

“Sayang, bagaimana kabarmu dan juga anakku? Nanti malam seperti biasa aku akan pulang, mungkin pukul 7 sudah sampai rumah.”

“Baru saja pergi dari rumah Senin kemarin, Jumat sudah rindu! Masak gak bisa nahan barang seminggu atau dua minggu, biar hasil kerjanya lebih banyak?” gincu merah merona begitu tampak di layar HP genggam Herman. Memang, Atun adalah perempuan yang pandai bersolek, itu yang membuat Herman tak bisa lepas, meski mulut istrinya lumayan culas.

“Hal pertama yang akan kulakukan di rumah nanti, adalah menempelkan telingaku ke tempat dimana anak kita bersembunyi, bolehkah kulakukan itu?”

Bersiap-siaplah engkau

Untuk menjadi seorang ibu

Bersiap-siaplah engkau

Untuk menjadi seorang ayah

“Tentu kau boleh memeluknya, menciumnya, dan meletakkan telingamu di sana, siapa tahu dia juga bilang rindu dengan ayahnya. Tapi, dengan satu syarat.. kau siap?”

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Untukmu dan untuk anakku, aku selalu siap apapun itu!”

“Aku ingin melihatmu dengan rambut yang rapi, biar anakmu kelak tidak meniru ayahnya. Gondrong itu bukan gaya yang bagus untuk calon ayah!”

“Kenapa harus itu? Kau tahu, memanjangkan rambut perlu banyak waktu dan kesabaran. Haruskah kuakhiri dengan kepala plontos? Tiadakah syarat lain?”

“Kalau kau tidak mau, pintu rumah tidak akan kubuka. Apalagi permintaanmu untuk memelukku, menciumku, dan lainnya, emmmhh.. No, selagi rambutmu masih panjang.”

Tuuuut……tuuuut

Telepon terputus, Herman tak jadi sumringah, rambut yang sudah bertahun-tahun ia rawat sejak bujang hingga lepas masa lajang, harus berakhir di atas permintaan istri yang ngidam.

Romi dan Zanet tertawa, nasi di mulutnya tak terkunyah, tak kuat lagi menahan tawa. Membayangkan Herman yang terkenal dengan rambut sepinggang, punya anak buah banyak, yang garang dan disegani banyak orang harus plontos tak berambut seperti kakek kura-kura di kartun Dragonball.

 “Diam!”

Romi dan Zanet diam menahan tawa, dan nasi masih terganjal di atas lidah.

“Kalian belum tahu rasanya punya keluarga, apalagi menghadapi istri yang sedang mengandung anak pertama!” Herman marah, alis matanya berdekatan ke tengah, lubang hidungnya membesar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Zanet yang tadi mengajak untuk beristirahat nampaknya merasa bertanggungjawab atas ketepatan waktu untuk kembali bekerja sesuai jadwal,

“Ayo, sudah waktunnya masuk!” Sambil menyodorkan jam di tangan kirinya.

Bersiap-siaplah engkau

Untuk menjadi seorang ibuu

Bersiap-siaplah engkau

Untuk menjadi seorang ayah

Nanti kita berdua.a

Berganti menimang dia

Pasti kita berdua.a

Akan sayang kepadanya

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tidak lama lagi

Kita mempunyai

Seorang bayi yang kita rindukan

Langit merah jingga, sang surya mulai pamitan di ufuk barat. Begitupun  dengan rambut panjang, Herman sudah ikhlas demi sang istri dan anak pertama yang akan lahir, rambut panjang akan pamit di sore ini.

Di atas kursi pangkas rambut, Herman membuka ponsel dan mengetikkan pesan untuk istrinya;

“Sayang, kau tak perlu khawatir dengan rambutku, untukmu dan anak kita, aku bersedia melakukanya. Dan tunggu aku di rumah, kubawakan roti kukus tugu pahlawan, kesukaanmu.”

Hanya butuh 2 menit, pesan terjawab;

“Nah, begitu dong, pintunya akan kubuka, bahkan sebelum kau pulang. Ya sudah, pulangnya hati-hati, Cinta. Aku lanjut nyuci baju dulu.”

Herman membacanya dengan mata binar, meski gunting pangkas terus berputar menghabisi rambut yang lama liar.

Rambut sudah rapi. Roti sudah terbeli. Herman memutar gas dengan kencang, karena rindu tak bisa diajak tenang. 9 truk gandeng, 10 bus patas, dan ratusan sepeda motor, bagaikan batu-batu kecil dalam pandangan seorang calon bapak, motornya meliak-liuk di jalanan ramai.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sampai di rumah, tak disangka Herman disambut dengan banyak orang. Mereka berjejal di teras hingga masuk ke dalam kamar. Dia bahagia, “anakku lahir, anakku lahir.”

Herman masuk, dan menanyakan istri dan anaknya dengan girang,

“Bagaimana Istriku? anakku? laki-laki atau perempuan?”

Seseorang menghampiri Herman sambil berkaca-kaca,

“Kamu yang sabar ya, Herman. Istrimu terpeleset di kamar mandi tadi sore, anakmu bisa dikeluarkan dari perut istrimu, tapi..”

“Tapi apa?” Herman bergegas masuk ke kamar istrinya.

Dilihatnya sang istri dan seorang bayi tergeletak bersebelahan, keduanya ditutupi selembar jarik menutupi badan, hanya terlihat dua pasang wajah pucat. Dan itu, Atun dan bayi yang dibayangkan sepanjang jalan tadi.

“Yang sabar, Man.. Yang kuat, Man… sahut para tetangga di sekelilingnya.”

“Aku, Aku… sabar, Aku kuat, Iya.. kuat, Oh, iya.. Istriku, Anakku…” Rintihan  kata Herman mengalir, bersama pipi yang basah, mata yang merah, dan harapan yang punah.

Oh, Tuhan… Apa maumu? Apa maumu? Aku hanya ingin melihat raut istriku yang basah dalam detik-detik kelahiran seorang bayi, dan kuingin menggenggam tangannya, mengusap keringatnya, hingga kusaksikan anak pertamaku lahir, dan kudengar tangisnya, kugendong dia. Tapi kau suguhkan mereka dalam keadaan begini, Tuhan….”

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Hmm.. dasar, salafi ngacengan! Nikahilah dua, tiga atau empat janda tua miskin, agar seimbang antar zikir dan zakar.

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Inspirasi

Kamu harus punya musuh. Benar! kata pepatah; lebih baik punya 1000 teman daripada 1 musuh. Pepatah itu memiliki arti sebaiknya anda tidak punya musuh....

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Anekdot

Suara musik terus mengalun dengan kerasnya, pemuda pemudi asyik bersahut-sahutan mengobrol membicarakan semua hal yang bisa dibicarakan, tak luput dari perhatian  juga pemuda yang...

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Community

Dik, melalui surat kecil ini, kuharap engkau paham..

Community

Oh iya mas, pesanku, jangan selalu tidur larut malam ya. Tetap jaga kesehatan agar aku bisa melihatmu walaupun dari kejauhan. [Surat]

Anekdot

Memikirkan tema-tema besar itu paling enak di warung kopi. Ditemani sebatang jajan rentengan dan secangkir kopi. Bila perlu, dibarengi sedikit ledekan dan gurauan agar...

Labil

Nyatanya, janda lebih menggoda, bukan?

Advertisement