Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Manusia.. Oh Manusia

“Sedangkan di tangannya sendiri hanya tergenggam kehampaan sebagai anak yatim yang tidak dinafkahi oleh bapaknya.”

Pada saat kau membaca tulisan ini, bayangkan bahwa uraian yang akan kau tuntaskan hingga kalimat terakhir, adalah rangkaian kata yang kuurai pada tengah malam, saat kawan sudah mulai pamit pulang, dan orang-orang di rumah sudah istirahat di kamar masing-masing, sedangkan aku masih terjaga dengan mata yang sangat binar. Lalu kutulis secarik surat ini, setelah sekian lama namaku tidak tampil di beranda Cabarus.

Maka kubuka lagi jendela kata, untuk menyapa semesta alam yang begitu indah, yang memang sengaja Tuhan hadirkan untuk semua mahluk, baik yang ingat, yang kadang-kadang ingat, atau bahkan tidak ingat sama sekali.

Kau tahu, Tuhan hadir setiap saat. Menemanimu dimanapun dan kapanpun, saat kau memikirkannya atau pun tidak, saat kau merasa butuh ataupun tidak. Maka, betapa sedihnya dirimu, jika hari-hari yang kau lewati, hanya lewat begitu saja, tanpa hasil, tanpa makna, tanpa rasa yang hakiki, bahkan tanpa syukur yang mendalam.

Memang, kau bisa menjadi apapun, bisa membeli apapun yang kau inginkan, bisa singgah di tempat manapun yang kau anggap nyaman, bisa bekerja, dapat uang, lalu belanja, lalu bersenang-senang  dengan kawan dan sanak saudaramu.

Tapi berapa lama kau merasakan kebahagiaan itu? Tanpa melibatkan Tuhan, yang selama ini berada di balik itu semua. Dia yang selama ini menjaga tubuhmu agar tidak sakit, menjagamu setiap malam saat kau tertidur pulas agar tetap nyaman dan aman, hingga kau kembali utuh jiwa dan ragamu saat bangun di pagi hari. Dan Dia yang menjaga harta bendamu agar tetap utuh, tidak dirampas orang, sehingga di pagi hari kau masih bisa makan dengan keluargamu, dengan nasi dan lauk yang cukup mengenyangkan perut, sampai kau bisa bekerja mencari uang lagi, hingga pulang lantas tidur lagi.

Hidup, serasa begitu saja, berjalan monoton, berputar pada lingkaran yang sama, dan akhirnya kau merasa jenuh. Lalu kau merasa susah dan sedih, karena hidup yang hanya cukup bisa makan, cukup bisa bekerja dengan gaji yang pas-pasan, kau rasakan itu semua adalah keadaan yang membosankan bahkan tidak maju sama sekali. Hingga akhirnya kau berkata, “Ya Tuhan, sampai kapan aku hidup mlarat seperti ini?”

Lalu, kau tahu, pertanyaanmu itu kemudian dijawab dengan keadaan serba tidak mengenakkan. Kau jatuh sakit, tidak bisa bekerja seperti biasanya, lalu kau terpaksa berobat dengan biaya yang lumayan mahal. Bahkan gajimu dan keuanganmu yang tersisa tidak cukup untuk membayarnya, dan akhirnya terpaksa hutang dengan temanmu.

Seminggu berjalan, badanmu belum cukup sehat dan belum siap untuk dipaksa bekerja lagi, padahal keuangan sudah sangat menipis, uang sisa berobat yang kau peroleh dengan hutang sudah mulai habis. Hingga akhirnya kau terpaksa menjual beberapa barang yang dulu kau beli dan kau miliki dengan riang gembira, kau jual dengan harga seadanya yang penting laku.

Kau merasa sangat menderita, badanmu belum pulih, keuanganmu merosot, anakmu, istrimu, keluargamu butuh makan, butuh uang jajan, butuh segala sesuatu yang dulu selalu diinginkan dan mampu terbeli saat itu. Kau menderita, sangat menderita, dan benar, kau benar-benar menderita.

Saat itu, kau mulai sedikit demi sedikit mendekat dengan Tuhanmu. Kau perbaiki solat lima waktu, dan diujung seusai solat kau bicara dengan-Nya, “Ya Tuhan, angkatlah bebanku ini, sembuhkan aku, agar mampu bekerja lagi, agar bisa hidup seperti dulu lagi. Hidupku ini sungguh berat wahai Tuhan, hutangku banyak, anakku setiap hari menangis, aku tidak tega melihatnya, tolonglah hamba-Mu ini Ya Allah.”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Lalu di atas sana, para malaikat sedang berbincang-bincang,

“Kau lihat itu, si Fulan ? ternyata dia mau solat juga, setelah Tuhan kasih dia sakit dan sedikit goresan luka di hidupnya.”

Ternyata kisah si Fulan, menjadi perbincangan hangat di tengah malaikat, salah satu dari mereka kemudian menambahkan, “yang seperti si Fulan itu, banyak.. hampir rata-rata ya begitu. Saat dirinya merasa baik, berkecukupan, bisa makan, bisa beli ini dan itu, mereka tidak mau ingat, siapa yang memberi semua itu?”

Semua mengangguk, mengiyakan, “Iya, kau betul. Mereka memang begitu. Jangankan mengingat Tuhan, ingat pada tetangga sekelilingnya juga tidak. Apa mereka peduli dengan tetangga rumah yang tidak jauh dari tempatnya tinggal? Yang setiap harinya jarang punya uang, untuk beli beras dan lauk kadang tidak mampu, anaknya selalu menangis ketika lewat depan warung, anaknya selalu terdiam di tengah riang ketawa teman-temannya, padahal dalam hatinya menjerit karena melihat jajan yang enak di tangan kawannya, sedangkan di tangannya sendiri hanya tergenggam kehampaan sebagai anak yatim yang tidak dinafkahi oleh bapaknya.”

Melihat si Fulan sudah melipat sajadah, akhirnya malaikat mulai bertugas lagi, satu di antaranya menutup perbincangan, “Sudah, ayo bertugas lagi. Aku juga mendapat  perintah dari Allah untuk menemani si Fulan, menjaganya lagi, dan membawa kesembuhan untuk dirinya.”

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Namun celakanya, kita ini tidak sempat melatih diri untuk memaknai makanan sebagai karunia, sebagai rahmat, sebagai kenikmatan yang sungguh besar

Labil

Pastinya cowok agamis berevolusi menjadi buaya religius untuk mendekati wanita.

Inspirasi

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat.

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Community

Selamat kuucapkan. Berbahagialah rencana Tuhan lebih besar dari keinginanmu. Berbahagialah seperti bayi - bayi ibu yang terlahir.

Inspirasi

Selamat ulang tahun di hari ini, harapan demi harapan sudah terwujud satu demi satu, teruslah berjalan, berjuang, dan berdoa untuk masa depanmu, orang tuamu,...

Kritik

Seorang Gus yang sedang populer di jagad Youtube rupannya sedang dikecam banyak pihak. Pihaknya dilaporkan ke Bareskrim soal isi ceramahnya oleh Amir Hasanudin dari...

Kritik

Siapa yang kuat, ia yang berkuasa. Keadilan menjadi visi, kesejahteraan menjadi misi, simbol dan jargon menjadi kebanggaan diri sekaligus sebagai identitas jati diri kelompok.

Kritik

Hati-hati cabarisme itu lebih radikal daripada yang itu-itu.

Anekdot

Salah satu desa kemarin sempat geger, ramai dengan bunyi petasan. Tapi sayangnya aku tidak begitu paham, terbuat dari apa petasan itu. Salah seorang warga...

Advertisement