Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Mari Belajar Pada Madura

Berbuat baiklah pada mereka. Hanya itu modalnya, modal rasa kemanusiaan. Maka Madura akan jauh memperlakukan dirimu sebagaimana manusia yang istimewa.

Siapa yang pernah tinggal di Madura?
Bagi anda yang pernah tinggal di sana, tulisan ini mungkin penting untuk anda simak, sebagai sarana membangkitkan kerinduan dan nostalgia. Jika anda belum pernah menginjakkan kaki di sana, maka cukup diam, dan simak cerita ini baik-baik.


Anda tahu, bahwa cerita ini ditulis oleh saya, orang Jepara. Meskipun selama ini, mindset orang di luar Madura, terutama orang-orang di Jawa menganggap bahwa Madura itu kasar, banyak begal, carok dan sebagainya, saya tidak meyakini itu sepenuhnya. Dan anda tahu, anggapan semacam itu, tidak pernah berubah.


Saya juga heran. Dulu, sebelum saya berangkat ke Madura, Bu Lek saya bilang kalau Madura itu begini-begitu. Sekitar tahun 2015, tapi nyatanya saya sampai di Madura juga, tidak takut. Bahkan hingga tahun 2020 saya memutuskan pulang, nyatanya masih hidup, utuh, tak kurang sedikitpun. Tapi anggapan orang-orang di sini, pada Madura, masih sama, tak berubah sedikitpun.


Artinya, mereka semua yang beranggapan tentang Madura, tanpa tahu bagaimana kehidupan di sana. Saya katakan, bahwa mereka hanyalah manusia sok tahu, sok ngerti, mudah berkesimpulan padahal cuma lihat video sepenggal di yutub, mengimani kabar burung, dan sudahlah, intinya mereka gagal paham.
Peace..


Tidak salah jika anda mengatakan bahwa Madura tempatnya carok, tidak salah jika anda mengatakan bahwa Madura itu orangnya kasar. Tidak salah, tapi anda keliru jika anggapan itu diyakini secara penuh, hingga seolah-olah tidak ada kebaikan pada figur manusia Madura.
Itulah kenapa, anda yang belum tahu, jangan menyimpulkan dulu. Baca tulisan ini sampai kagum.


Sederhana saja, dan ini realita. Pertama kali saya datang di Madura, langsung berkenalan dengan orang Pamekasan. Ngobrol, kesana-kemari, saling tukar rokok, karena waktu itu saya bawa rokok khas Jepara, dan dia bawa rokok khas Madura.


“Coba ini mas, rokoknya orang Madura. Oepet.” Begitu cara dia menawarkan. Ternyata tidak hanya di Jepara, orang bisa fanatik pada merk rokok. Madura juga punya merk andalan, yang biasa dikonsumsi masyarakat sana.
“Iya, tak coba ya.. ini juga saya bawa rokok Jepara. Sukun.” Setelah kami saling coba, akhirnya sama-sama berkesimpulan, ternyata rokoknya hampir-hampir mirip, saya katakan, “Tapi harganya beda, masih mahalan Sukun mas.” Dia ketawa, dan anda tahu, hanya sekitar satu jam kita ngobrol, akhirnya saling akrab. Bahkan sebelum pamit, dia tawarkan, “Kapan-kapan tak ajak main ke Pamekasan, di sana banyak kelapa, bapak juga punya kebun kelapa di rumah.”


Lalu kita saling bersalaman. Itu hari pertama di Madura. Selebihnya, hari-hari terus berjalan, sangat biasa. Mungkin hanya persoalan bahasa, yang saya belum begitu paham di awal-awal tinggal di Madura.


Masyarakat sana, sangat enjoy dengan berbagai perbedaan. Terutama ketika berhadapan dengan orang luar daerah, mereka sangat mudah menghargai dan mengapresiasi orang lain. Seperti pada suatu ketika, saya ngobrol dengan Emak penjaga warung makan, “Sampean dari mana dek? Ndak tau basa madura ya?” Lalu saya jawab jujur, “Dari Jepara saya Bu’, belum bisa ngomong madura, baru seminggu di sini.”
Oooo.. Jepara.. Jawa Tengah ya? ngko’ andi’ tretan se dari jepara”
“Gimana Bu’ ?”
“Saya punya saudara, dari jepara. Dulu pernah tinggal di sana, berapa tahun ya.. lupa, sudah tua”


Obrolan semakin lama makin akrab. Kenal sama emak-emak, penjaga warung, sangat enak. Ngomongnya asik, lucu, murah senyum, akhirnya jadi langganan makan di sana. Saking akrabnya, saya kalau makan, tidak pernah diambilkan, disuruh ngambil sendiri, kadang nasinya disuruh nambah, lauknya ditambah, harganya sama.

Advertisement. Scroll to continue reading.

—–
Setelah beberapa tahun, keadaan semakin biasa, seperti daerah sendiri. Ngomong Madura lumayan paham, ngobrol sama tukang becak nyambung, sama dosen juga nyambung, apalagi sama pemilik warung makan dan warung kopi, lebih nyambung lagi.


Masyarakat Madura, dalam hal komunikasi, tidak tebang pilih usia. Tua muda, bisa ngobrol dengan asik, dimana-mana. Tidak ada yang saling unggul dalam pembicaraan. Saya yang notabennya dari luar daerah, masih muda juga, kadang ngobrol dengan masyarakat sana; ya begitu, saling tukar pendapat, saling tukar cerita dan seterusnya. Kita bisa saling menghargai satu sama lain dalam berkomunikasi.


Nah, paling asik saat kumpul dengan orang-orang Madura itu; kalau saling tukar cerita. Anda tahu, Madura itu gudangnya cerita humor, atau disebut dengan kelakar. Itulah kenapa beberapa buku secara khusus menggambarkan budaya kelakar Madura, seperti buku yang cukup masyhur ditulis oleh Emha dan Sujiwo Tejo. Secara apresiasi verbal, kelakar Madura sering disampaikan Alm. Gus Dur di setiap kesempatan pidato atau ceramah-ceramah keagamaan.


Di dalam cerita-cerita kelakar Madura, tersimpan makna yang cukup dalam tentang pribadi manusia Madura yang selalu ringan menghadapi persoalan, mudah bahagia dalam keadaan sesulit apapun, bahkan tersimpan hubungan spiritual ketuhanan yang sangat mesra.


Hidup di sana, banyak saudara, meskipun tidak sedarah. Itulah yang membuat kenapa solidaritas masyarakat Madura begitu tinggi, pada sesama orang Madura, maupun pada sesama manusia (luar madura) yang berhubungan baik, apalagi mendalam.
Berperilaku baik, dan mesra dengan orang-orang Madura, maka anda akan mendapat balasan kebaikan budi yang berkali lipat. Karena apa, berkawan dengan mereka sangat mudah, dan lebih-lebih jika anda dianggap saudaranya sendiri; jangankan soal makan, urusan keselamatan jiwa ragamu, menjadi tanggung jawab mereka.


“Lho, katanya ada carok? Katanya ada begal?”
Soal kriminalitas, semua daerah juga ada, tidak hanya Madura. Di Jawa juga banyak. Maling ada, bandar narkoba ada, pembunuh ada, penipu juga banyak. Madura itu hanya sebagian kecil dari seluruh kasus kriminal yang ada di Indonesia.


Bagi anda para pendatang di Madura, hanya butuh sopan santun. Berbuat baiklah pada mereka. Hanya itu modalnya, modal rasa kemanusiaan. Maka Madura akan jauh memperlakukan dirimu sebagaimana manusia yang istimewa.

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat.

Kritik Serius

Orang kecil selalu menggigil dalam balutan masalah yang tak berkesudahan. Perutnya semakin mengecil sedang kakinya semakin besar.

Kritik

Ternyata kekalahan tim di sepak bola kita, tidak melulu soal kualitas pemainnya cuk, tapi memang sengaja dijual untuk kepentingan tertentu.

Inspirasi

“Adik-adik.. goyang yuuk..” seru kakak itu, sebut saja namanya Butet. Kakak Butet sedang memandu adik-adik peserta ospek di dalam ruangan agar bergoyang dengan yel-yel...

Kritik Serius

Lorong ini memang sunyi. Ia! pada jam 8 malam seperti sekarang ini! yang ada hanya bambu-bambu menjadi penunggu lorong yang berumur beberapa tahun lampau....

Inspirasi

Sehingga pendidikan tidak hanya menjadi menara gading tetapi menjadi menara air yang akan menghujani bumi dan menumbuhkan kehidupan

Advertisement