Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Menjadi Muhammad Kecil, Betapa Sulitnya!

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam.

Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan, ternyata aku harus terpaksa pamit. Bukan soal tempat itu tidak cocok untukku, tapi aku yang terlalu bebal, dan tidak bisa diatur dengan agenda ngaji dan tidur terjadwal.

Maaf, lagi-lagi kusampaikan bahwa aku bukan manusia yang baik, dan sangat tidak layak untuk dijadikan teladan. Karena hanya engkau, Rasul, satu-satunya kiblat seluruh alam semesta.

Kendatipun, bayang dirimu kudapat tidak dari bangku formal, aku tetap ingin menyapamu di setiap detak jantung dan helaan nafas. Karena aku; sangat merindukanmu.

Dari sekian ruang yang kusinggahi, ternyata tidak cukup dan tidak tuntas; mengagumimu dengan hanya sekedar membaca solawat setiap malam jumat dan malam senin, tidak cukup dengan hanya memperingati kelahiranmu dalam balutan pengajian, tidak cukup dengan hanya pengkajian sejarah hidupmu di meja-meja diskusi.

Maaf, kurasa semua itu baik, tapi Muhammad sebagai suritauladan semesta alam, masih sangat jauh untukku menggapai satu simpul; bahwa aku sudah menyusuri jalan Muhammad.

Mengikutimu, Rasul, nyatanya aku terjebak dalam pemahaman kulit yang sangat luar. Betapa awam diri ini; yang menyimpulkanmu hanya sebatas cara berpakaian, bahkan soal istri yang berjumlah lebih dari satu. Maaf, kuharap engkau masih menganggapku.

Muhammad, aku mengenalmu sejak kecil, lewat cerita kyai kampung di surau-surau pelosok. Dan namamu melebihi hembusan angin, lebih cepat dari kilatan cahaya.

Tapi, lagi-lagi, aku yang mengaku-ngaku sebagai umatmu, sudah terlanjur percaya diri bahwa uluran tanganmu pasti kudapatkan di hari kelak, sekali lagi maafkanlah.

Dan engkau lihat, betapa aku yang begini ini, masih pantaskah engkau akui?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Setiap namamu dibahas dalam meja dialog, tiada dari mereka yang tidak kagum terhadapmu. Semuanya ingin berduyun-duyun mengikuti di belakangmu, bersilau lentera surga yang sesak membayangi alam imajinasi pasca kematian.

Dari sekian banyak kawan yang kurengkuh bahu mereka untuk berjuang, tapi hanya segelintir yang mampu memahami keutuhanmu, Rasul. Setiap kutanya; kenapa kau masih bergelimang kata dusta, sedangkan nabimu sangat menjauhi perbuatan dusta? Mereka selalu mengelak; “Pantaslah, dia adalah nabi yang dijaga dari dosa, sedangkan aku hanya manusia biasa.”

Atau kulempar tanya tentang kebiasaan mereka yang selalu mengumbar kebencian atas nama jihad; kenapa kau tidak seperti nabimu yang selalu mencurahkan kasih sayangnya dalam berdakwah? Mereka selalu membantah, bahwa Rasul tidak selalu menghadapi kaum kafir dengan senyuman, jalur perang juga ditempuhnya.

Dan sungguh, Muhammad, kekasihku, kuajak para pemuda di sekelilingku untuk menjajaki perjuanganmu yang sudah ahli sejak kecil dalam membangun pondasi kemandirian. Engkau yang lincah dan jujur dalam berdagang, sampai semua hartamu mampu menghidupi roda dakwah dan kemaslahatan umatmu. 

Tapi tidak, pemuda yang kutemui, yang darah, tulang dan keringatnya masih segar untuk berjuang, mereka tidak melihatmu sebagai manusia mandiri, yang berdiri di atas kaki sendiri.

Mereka malu untuk berdagang, mereka malas untuk bekerja, mereka terlalu hingar dengan buaian euforia perjuangan, Rasul.

Nilai-nilai yang engkau wariskan tentang pondasi-pondasi ekonomi, kemanusiaan, spiritual ketuhanan, hanya dikupas dan dimakan kulitnya.

Aku masih sangat yakin, engkau masih hidup di semua zaman, membuka dan mengunci keberuntungan Tuhan. 

Aku mengadu, atas kegelisahan yang membara dalam tungku kecil di dalam hatiku. Rasul, basuhlah aku dengan air yang keluar dari jemarimu, hingga aku basah dengan perjuangan suci yang kelak akan sampai pada buaian syafaatmu, setelah aku mati dan berhadapan dengan Tuhan.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Serius

Lha wong negara ini kan milik mbahnya, milik bapaknya, jadi santai-santai saja.

Anekdot

Saya membayangkan, datang ke istana, duduk di depan Pak Jokowi; terus ngomong perihal manusia, basa-basi, lalu ditutup dengan, "Pak, pinjem duitnya boleh?"

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Inspirasi

Gaji 2-3 juta sebulan lebih dipilih, daripada hanya sekedar jadi buruh kuli atau hanya sekedar ternak dan bertani.

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Kritik Serius

Sebagai Muslim yang baik, tentulah tidak rela membiarkan simbol-simbol agama dijadikan tempat untuk menebar kebencian hanya karena dangkalnya ilmu pengetahuan.

Advertisement