Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Nama Hewan yang Terkenal dengan Cara yang Buruk dan Tidak Penting

Jangan menistakan nama hewan!

Kalian boleh membaca lirik berikut ini seperti melantunkan lagu, dengan telinga mendengarkan tepuk tangan.

“Pok Ame-ame

Belalang kupu-kupu

Siang makan nasi

Kalau malam minum susu.”

***

Dulu, belalang dan kupu-kupu menjadi hewan yang cukup terkenal berkat lagu yang katanya untuk anak-anak itu. Meskipun banyak anak  hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya minum susu di malam hari, dan tak sedikit anak membayangkan rasanya makan nasi dengan sayur, ikan tongkol, ayam, dan lauk-pauk bergizi lainnya.

Meski demikian, tangan kami bisa fasih menghitung jumlah hewan yang kami kenal, biasanya melalui permainan tradisional yang kami sebut ‘ABCD-an’.

Dalam permainan itu ada seorang yang bertugas menunjuki jemari kami sambil menyebut abjad secara berurutan. Misal pilihan jatuh pada huruf “C”, hewan seperti cicak, cacing, cumi-cumi, dan cendrawasih selalu jadi rebutan. Lalu, misal yang dipilihkan huruf “K”, kami bisa teriak bersama memanggil kerbau, kalajengking, kura-kura, dan kucing.

Itu adalah cerita lima belas tahun lalu. Saat ini, predikat “hewan menarik dan terkenal” saya ambil dari yang sering masuk ke telinga, atau yang sering saya baca di media sosial. Tidak penting membicarakan subjektifitas dalam penentuan spesifikasi menarik-tidak menarik dan terkenal-tidak terkenal. Yang lebih penting adalah soal bagaimana bisa mereka menarik dan terkenal.

Saya kembali membayangkan sedang bermain ABCD-an. Namun yang muncul hanya huruf “C” dan “K”. Jutaan orang meneriakkan kata “cebong” saat huruf “C” keluar, dan kata “kampret” saat dipilihkan huruf “K”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Cebong dan kampret sama sekali tidak menarik untuk anak-anak dan tetap tidak menarik sampai kapan pun, bahkan bisa dipastikan tereliminasi dari nama hewan pada permainan ABCD-an. Lantas bagaiman bisa cebong dan kampret menjadi primadona mantan anak-anak di media sosial?

Semua tahu dua hewan itu merupakan imbas politik culas di negara kita. Seorang kakek-kakek, saya pernah mendengarnya, ia mengatakan bahwa orang akan sangat tekun memperhatikan hal apapun pada orang yang disukai atau pun dibenci. Saya tidak percaya kakek-kakek itu bisa menerawang kejadian saat ini: cebong dan kampret muncul akibat jutaan orang tiba-tiba sangat tekun dan perhatian pada yang disuka dan sekaligus dibenci.

Melihat apa yang diucapkan si kakek, itu artinya, orang yang suka mengutuk kampret lalu memuji cebong, atau sebaliknya, mereka memiliki banyak motif. Kita boleh katakan, mereka memiliki kepentingan.

Saya akan ambil contoh kasus dari teman saya, sebut saja namanya si Cacing. Ia adalah orang yang hari-harinya riang gembira, baik dengan kawan, dan suka minum kopi. Beberapa waktu lalu, si Cacing banyak memuji cebong dan mengutuk kampret. Ia bawa surga dan neraka lengkap dengan isinya. Saya iseng menekuni jejak digitalnya, baik di twitter, facebook, dan beberapa akun instagram abal-abal miliknya. Kau tahu, si Cacing mirip kecoa yang digoreng dengan suhu sedang di atas tungku. Hari-harinya selalu terlihat kepanasan. Ia terlihat sangat membenci kampret dengan seluruh kebusukannya.

Ketika si Cacing ngopi, ia tetap si Cacing seperti biasanya: ramah, baik, dan riang gembira. Ini aneh dan tidak wajar, dan perihal keanehan itu, saya menanyakan kepada si Cacing, dan ia dengan sangat enteng dan terlihat tanpa beban menjawab: “Hanya main-main, coy!”

Itu adalah jawaban yang menjengkelkan. Orang dewasa memainkan ketidaklucuan, lalu membiarkan sisa mainannya menjadi sampah yang tercecer di mana-mana, tanpa pembersihan, adalah bentuk kekanak-kanakan. Mungkin, kaliantahu, mereka memang sejak kanak-kanak tidak pintar bermain tebak-menebak nama hewan dengan lucu.

Dua hewan itu memang sudah tidak lucu untuk dimainkan. Namun mereka sudah kadung menular, bahkan pada remaja, terlebih jamaah media sosial. Banyak yang sedikit kurang waras. Mereka menjadi kaum sinisme baru, dengan teriakan yang tidak bermutu. Gejala buruk itu terlihat ketika mereka secara tiba-tiba menjadi pendoa, yang mendoakan siapapun yang berbeda untuk di azab Tuhan, dan mendoakan siapapun yang berpaham sama untuk masuk surga. Saya kira memilih menjadi pendoa memang tidak bisa disalahkan, dan memang mereka bukan model orang yang bersedia dianggap bersalah.

Setelah saya mendalami cara mereka melempar cacian atau doa, kategori yang cocok untuk disandarkan kepada pendoa dan pencaci itu adalah pecinta pasal ‘seenaknya sendiri’ (Pasal 1: saya selalu benar. Pasal 2: jika saya salah, kembali ke pasal 1).

Dalam hal menalar, premis yang mereka pakai tidak tepat dan sangat buruk dalam hal meyakini kesimpulan. Misal saya ambil contoh premis 1 begini: Semua manusia normal bisa berteriak. Lalu premis 2 begini: Kerbau bisa berteriak. Maka, bagi mereka mengambil konklusi “kerbau adalah manusia normal” merupakan  hal yang wajar dan logis. Mungkin jika mereka disodorkan soal matematika 12x = 4, mereka bisa sangat yakin bahwa nilai x adalah minus delapan (-8), dengan nalar serampangan bahwa 12 – 8 = 4. Mereka bisa dengan senang hati dan keras kepala meyakini jawaban salah tersebut.

Dari kesalahan cara ‘penalaran’ itu saya merekomendasikan kepada mereka untuk masuk di kelas Sebelas (X1) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk belajar matematika dengan penuh semangat. Di sana akan diajarkan logika matematika; diberitahukan bagaimana ‘kalimat terbuka’ dan bagaimana menanggapi hasilnya. Juga, penting untuk memahami perihal pernyataan, kesimpulan, kemajemukan, dan anakan-anakan kalimat yang butuh kewarasan dalam melihatnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sampai di sini, saya sedang membayangkan mereka duduk dan mendengarkan pelajaran dengan baik-baik, meskipun saya tidak yakin telinga mereka difungsikan dengan baik. Setidaknya, saya masih sudi membayangkan mereka dalam kondisi tidak menjadi pendoa yang buruk, atau menjadi penghafal dua nama hewan yang tidak bersalah dengan cara yang salah.

Mungkin, jika cebong dan kampret bisa berbicara seperti manusia, bukan tidak mungkin cebong dan kempret melaporkan mereka atas nama ‘penistaan’ dan ‘pencemaran nama baik’. Sungguh, ini sangat tidak penting dan buruk untuk ditiru.

Comments

Kamu juga membaca..

Advertisement