Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik Serius

Nasib Anak Zaman yang Bukan-Bukan

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Kutulis untaian kata ini bersama kegelisahan-kegelisahan yang datang dari banyak orang. Tentang nasib seorang anak yang hidup di tengah keramaian bekas hutan, yang selama ini mereka mengira bahwa liar nya akar julang, atau ular berbisa bahkan macan kembang yang garang sangat berbahaya, ternyata tidak demikian. Pun bekas hutan yang mereka tinggali kini; lebih liar dibanding akar, lebih beracun dibanding bisa ular, bahkan lebih ganas dibanding macan kembang… Alkisah.

Maaf, ternyata aku tidak pandai meramu prolog yang bermajas layaknya si Em, atau Rasiki.

Pada inti pembuka, aku hanya ingin menyampaikan satu kabar bahwa; Indonesia telah Tiada, dan Indonesia kadang-kadang ada, bahkan Indonesia tiba-tiba mendadak ada lagi.

Baiklah, beberapa pekan lalu, chat berbunyi, dan ajakan ngopi datang lagi. Aku tidak bisa menolak, ajakan ngopi tak kalah nilainya dengan seruan dakwah Nabi, aku harus datang dan menemui.

Akhirnya malam kemarin, aku benar-benar bertemu dengan seseorang, mahasiswa. Sebenarnya, ada satu kemalasan dan keputus asaan dalam diriku ketika harus berhadapan dengan mahasiswa, namun lagi-lagi, ajakan ngopi tak kalah nilainya dengan seruan nabi, aku harus melayaninya bicara.

Percayalah, belum kuminum kopi yang nganga di dalam cangkir, satu pertanyaan sudah menghantam alam sadar, “Bagaimana cara menumbuhkan literasi temen-temen di organisasi, Kak?”

Akhirnya pelan-pelan kutarik nafas dalam, dan maaf; kuhembuskan asap kretek dari rongga yang basah. Kemudian aku terpaksa melangkah dalam kenangan masa silam, tentang nasib anak bangsa yang terjajah, dulu-sangat dulu; sebelum kau lahir.

Katakanlah titik sejarah dimulai tahun 1825, ketika Daendels datang bersama kongsi dagang VOC dan memberlakukan konsep keserakahan terhadap hak manusia dan semesta nusantara. Bayangkan saja, peraturan-peraturan yang tidak sesuai diterapkan, dan manusia nusantara kala itu tidak bisa berbuat banyak.

Aku pun sulit menggambarkan keadaan pada masa itu, mungkin kau sempat membaca karya pujangga sastra; Pramoedya Ananta Toer, “Tetralogi Buru” yang di dalamnya terejawantahkan 4 novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Atau kau hanya mampu untuk menikmati indahnya film Bumi Manusia karya Sutradara Hanung Bramantyo. Di sana bisa ditangkap suatu gambaran betapa menderita masyarakat pribumi akibat kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda yang menjajah nurani bangsa. Hukum, harus disesuaikan dengan keinginan Belanda, bahkan semua aspek dalam hidup harus menuju muara kepuasan Belanda kala itu.

Bertahun-tahun proses itu berjalan, dan keadaan tidak semakin baik. Nilai-nilai agung yang dulu sudah kokoh berdiri, harus runtuh dan tidak berlaku sama sekali. Raja-raja dipaksa untuk patuh dan tunduk pada keinginan Belanda dan VOC, namun ada beberapa raja yang tetap kokoh berdiri dalam pendiriannya. Mungkin salah satu dari sekian pejuang, kau mengenal sosok Raden Diponegoro, yang terkenal dengan perang padri yang beliau pimpin untuk melawan pasukan Belanda, atau Sultan Hasanudin, Kapitan Patimura, dan banyak lagi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Perlawanan-perlawanan dalam bentuk perang untuk menunjukkan suatu kekuatan dalam mempertahankan martabat tetap dilakukan, meski darah mengalir di sepanjang tanah nusantara, anak kehilangan bapa, dan istri kehilangan suaminya.

Hingga muncul sosok pembaharu yang dia datang dengan wawasan luas tentang pengetahuan dari Kasunanan Surakarta, Raden Ngabehi Ronggo Warsito atau dengan nama asli Bagus Burham. Dia datang dengan lentera yang tajam dan terang. Kemampuannya dalam bidang sastra jawa, sudah tidak bisa diremehkan lagi, dia adalah pujangga istana Surakarta, dengan gelar terakhirnya sebagai Kliwon Kadipaten Anom.

Berkat keterbukaan dirinya, hingga bisa berkawan dengan manusia berdarah asing seperti C.F Winter, Jonaz Portizer, CH Dowing, Jansen dan kawan asing lainnya sehingga mampu bersama-sama menyusun beberapa kitab seperti Paramasastra Jawi serta majalah Bramartani dan beberapa karya literatur lainnya. Perkawanan yang akrab itulah, kemudian membuahkan satu pola berfikir dan berjuang yang berbeda;

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Prinsip itulah yang akhirnya mampu memberikan satu gerakan yang berbeda dari sebelumnya, yakni melawan dengan kemampuan akal. Berkat arahan darinya, banyak raja-raja dan bangsawan yang pada masa itu berbondong-bondong untuk menuntut ilmu literasi barat, yang selama bertahun-tahun mereka terjajah dengan pengetahuan itu.

Malik Grembyang, atau titik balik dari pola perjuangan yang sebelumnya (jalur peperangan-jalur pendidikan). Akhirnya setelah tahun-tahun berjalan, banyak pemuda yang menuntut ilmu pengetahuan luar hingga muncullah sosok-sosok seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantoro, HOS Tjokroaminoto, RA Kartini, H Agus Salim, Soekarno, Moh Hatta, Tirto Adi Suryo dan banyak lagi nama-nama anak bangsa yang muncul dengan ketajaman pengetahuan dalam berjuang.

Dan aku, tidak mungkin mengatakan bahwa lahirnya kemerdekaan tidak direngkuh dengan pengetahuan anak bangsa kala itu. Justru dengan kemampuan pengetahuan dalam bersainglah, mereka mampu merumuskan dasar-dasar, prinsip dan nilai-nilai dalam bentuk nation atau negara sebagai pemersatu bangsa.

Lalu, kukembalikan pada pertanyaan yang terlontar di atas. Mungkin saja kau sudah tau apa jawabannya, atau justru jawaban dari pertanyaan itu adalah proses perenungan yang dalam tentang; apa itu literasi? Dan literasi dalam bentuk apa yang kau tanyakan?

Karena bagiku, kemampuan bapakmu untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga dengan bekerja, lalu didorong ibumu sebagai pengendali keuangan keluarga, adalah literasi. Atau lebih luas, kebudayaan masyarakat jawa yang mencakup nilai, norma, syiir, tembang, dan lagu tradisi adalah literasi yang sudah ada, tumbuh dan berkembang sedemikian tingginya.

Atau bentuk, perilaku bapakmu dalam bekerja itulah bentuk literasi dalam kontek seorang ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya. Munculnya teks-teks literatur jawa seperti kitab karangan Joyo Boyo, Eyang Ronggo Warsito, Ki Hajar Dewantoro dengan buku-bukunya, serta nama-nama besar lainnya yang tidak lepas dari hasil karyanya yang agung; itu juga literasi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Lantas, literasi seperti apa yang kau tanyakan. Jangan-jangan kau kini sedang lupa, bahwa buku-buku yang mengelilingimu, atau coretan-coretan yang muncul dari tangan itu kau anggap bukan literasi. Hingga saking bingungnya, kau hampir tidak paham dan tidak sanggup untuk menghasilkan literasi apapun.

Ah, jangan-jangan kau ini hanya bukan-bukan.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Inspirasi

Gaji 2-3 juta sebulan lebih dipilih, daripada hanya sekedar jadi buruh kuli atau hanya sekedar ternak dan bertani.

Community

Kuliah itu ada enaknya dan ada ndak enaknya, iya to?

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Kritik

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku.  Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU...

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Advertisement