Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Para ‘Vampir’ Idealis di Siang Bolong

Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi satu orang lewat, menyodorkan, meminta bantuan, mengemis meminta uang.

Aku menyebut sebagai organisasi peminta-minta dan organisatoris bermental peminta-minta dan itu lumrah terjadi di kalangan mahasiswa. Lebih parah, organisasi vampir, penghisap sesama.

Mungkin pendapatku ini hanya dilandaskan pada sudut pandang sempit dan subyektif, ketika sang idealis mencoba menepis. Kamu hanya butuh sedikit lebih kritis, sedikit lebih peka, sedikit lebih sadar dan normal.

Perbedaan antara vampir dengan mereka adalah sama-sama manusia berbeda dimana vampir hidup tanpa jiwa dan menghisap intisari kehidupan (biasanya dalam bentuk darah) dari makhluk hidup lain

Idealisme kaum terdidik kini semakin terjerembab, tidak pantas jika masih disebut sebagai idealis. Kaum terdidik hanya berhasil menciptakan rongsokan yang disebut agen perubahan (agent of change), Sang Pelopor, Cadangan Keras (iron stock), dan status mahasiswa.

Malah dengan mengatakan dirinya sang idealis justru semakin feodal. Feodal adalah sikap seseorang yang ingin dipandang lebih, dihormati lebih dari yang lain, merasa dirinya lebih tinggi dari pada orang lain dan kuasa untuk menentukan segalanya termasuk apa yang harus dikerjakan oleh orang lain.

Jamak terjadi, pemuda yang disebutkan Soekarno mampu mengguncang dunia, nyatanya gagal mengguncang kesadarannya sendiri. Ya, benar pemuda yang mengatakan dirinya aktifis beberapa telah menjelma menjadi si vampir.

Menurut mitos, vampir tidak tampak di cermin karena mereka tidak memiliki jiwa. Dalam cerita fiksi modern, vampir bisa menjelma menjadi kelelawar, serigala, bahkan gumpalan gas, dan harus menjauhkan diri dari sinar matahari.

Pemuda idealis mungkin sudah punah ditelan zaman. Mati dan hidup lagi serupa vampir. Idealism adalah suatu keyakinan atas suatu prinsip berdasarkan pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan.

Idealisme tidak hanya soal pemikiran atau isi kepala, tapi idealisme dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Mustahil seseorang bisa dianggap idealis jika pikiran, ide, sikap dan perilakunya menunjukkan sebaliknya. Setumpuk buku habis dibaca dan diskusi yang berbusa-busa tidak berarti menjadi parameter idealisme seseorang. Apalagi bertindak bodoh.

Dulu, pemuda didambakan sebagai sosok dealis, sebagai agen perubahan. Sayangnya perubahan dapat terjadi hanya bila ada keberanian untuk melakukannya. Pemuda saat ini hidup untuk apa, katanya aktifis nyatanya kesana-kemari masih menenteng kardus minta sedekah atas nama donasi untuk sosial.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Gerakan yang tidak mencangkok lewat akarnya, akhirnya akan wassalam sekedar seremoni saja. Buka mata lebar-lebar! rakyat miskin, orang-orang kelaparan, buruh tani dan kaum lemah, kau tidak pantas besar kepala untuk membela mereka. Lucu. Emang bisa apa? emang punya apa? emang bisa kasi solusi apa?

Mereka atau dia menjelma menjadi middle class elite, sebuah kelas yang, kata Karl Marx, dipandang serupa dengan elite borjuis.

Kau tau dulunya mahasiswa adalah sahabat orang kecil, sahabat para pengamen jalanan, sahabat para pengemis, sahabat masyarakat miskin. Tetapi sekarang mahasiswa telah menjadi pesaing mereka.

Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi satu orang lewat, menyodorkan, meminta bantuan, mengemis meminta uang.

Penggalangan dana katanya, untuk bakti sosial, untuk mubes atau untuk kegiatan lainnya. Mental peminta-minta. Kreatifitas yang mati dan menginginkan segala sesuatu dengan instan, menjadi peminta-minta intelek adalah solusi praktis dan atas nama gerakan mahasiswa. Paham kau!

Aku kira, jika tidak demo ya meminta-minta. Cukup sampai segitu saja kecerdasan akalnya. Sebab mereka tidak cukup punya banyak ide kreatif dan sebab mereka mungkin memang tidak punya skill lain yang bisa diandalkan.

Praktis, hal itu menjadi kebiasaan turunan. Kau tau, vampir-vampir kecil telah lahir. Biasanya yang selalu teriak untuk membela masyarakat miskin dan kaum tertindas, padahal nyatanya dirinya sedang fakir.

Ingat! Vampir yang kumaksud adalah soal mental. Jika terus dipelihara, akan menjadi bumerang. Maka mental semacam itu harus dibunuh segera!

Comments

Kamu juga membaca..

Community

Kuliah itu ada enaknya dan ada ndak enaknya, iya to?

Kritik

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu,” demikian lagu Chrisye mengalun, menemani malamku.  Besoknya, massa Mahasiswa akan berangkat untuk demo terkait RUU...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Inspirasi

Tuhan telah meniupkan ruh-ruh perdamaian pada setiap insan yang mengatakan dirinya sebagai manusia NU.

Inspirasi

Dan kau, wahai anak bangsa. Bangkitlah dari keterpurukanmu; yang mudah sakit tipes, yang mudah kena debede, padahal makanmu sudah enak-enak.

Inspirasi

... seperti kopi dengan hitam dan pahitnya.

Kritik Santai

“Iya memang seharusnya begitu bung, iya nggak harus begitu juga kali sahabat, memangnya harus seperti itu yah kakanda”

Tips

Tenanglah, ini bukan soal Take Home yang harus membuat makalah 15 halaman, dengan ukuran kertas A4, font Times New Roman 12, rata kanan-kiri, dan...

Kritik

Siapa lagi yang kucari untuk mengadu, jika semuanya sama. Mereka hanya bisa bersolek di muka, bergincu di bibir, nyaring saat teriak, dan akhirnya kosong.

Advertisement