Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Punggawa Berkalung Emas Biru

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet…

Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari sekian banyak keluh kesah petani. Dan kau tahu; lirik yang disenandungkan Maksum itu; adalah jiwa masa bodoh atas segala perlakuan dan peraturan-peraturan para punggawa.

Entahlah, meski bulan-bulan di tahun ini begitu panas, rumput kering, air berkurang, padi kurang berisi, tapi lembaran emas biru milik Maksum justru mencapai puncak kualitas terbaik dibandingkan tahun-tahun lalu.

“Emas biru ini cong, sudah menghidupimu sedari kecil. Susumu, makanmu, sekolahmu, kau kira dari mana? Kalau tidak dari emas biru ini.”

Musa hanya mengangguk-angguk, dia lahir dari rahim istri Maksum, dan ibu dan dirinya memang bisa hidup 20 tahun dalam rumah tangga, dengan emas biru itu.

Panas matari dan angin menyemai syahdu dedaunan emas, dan Maksum dengan gendongan tangki air masih keliling sambil sesekali meraba daun-daun emas yang tidak lama lagi akan dipanen.

“Meski hargamu anjlok, tapi ladangku sudah penuh dengan akarmu. Kurawat kau, dan kupanen meski tak seperti dulu.”

Kurang lebih 4 hektar, ladang emas milik Maksum, dan hasilnya luar biasa di tahun-tahun dulu, sebelum menginjak tahun 2000 an.

Bisa jadi, dia sangat memuncaki tangga nasibnya di tahun 90 an. “Jangankan tisu, uang saja, kubuat lap seka mulut sehabis makan.” Kelakar Maksum ketika mengenang masa-masa kebahagiaannya dulu. Tapi Musa hanya bengong, karena dia belum hidup di masa itu. Yang dia tahu; hanyalah tangis bapaknya tiap malam di atas sajadah, ketika diam-diam dia mendengar di balik pintu kamar. Uang Semester kuliahnya didapat dari hasil hutang.

“Maksum… Maksum… kau ini jangan buta jadi orang. Kalau emasmu tidak kubeli, mau kau jual kemana? Masih untung ada aku..”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kata seorang tengkulak di salah satu gudang dekat rumahnya, Maksum selalu terbayang tiap malam. Dalam hatinya selalu menolak, bahwa emas yang ditanam, harusnya laku dengan harga mahal, apalagi musik kemarau dingin di tahun ini. 

Bulan lalu, gabungan petani yang senasib dengannya sudah berani aksi di depan gedung pemkab. Maksud mereka sudah kutangkap dari tulisan merah besar di selembar kain putih yang ditenteng barisan petani, “Naikkan harga emasku, kau punggawaku, pikirkanlah nasib kami.”

Sementara kusaksikan penderitaan Maksum dan kawan-kawannya, ternyata api derita itu juga terjadi di kalangan pemilik pabrik lintingan emas yang selama ini nekat merangkak di tengah persaingan pabrik-pabrik yang kencang berlari.

Sebutlah satu di antara mereka, bernama Sadam. Pabriknya sudah tutup 5 tahun yang lalu, dan kini  dia lebih memilih jualan bakso di depan kantor kecamatan, “Ndak apa-apa jualan bakso, ini lebih nyaman dibanding usaha pabrik linting emas, banyak monopoli.”

Pernah sekali aku makan di warungnya, dan benar, bakso yang dimasaknya pun sudah tidak ada lagi rasa emas sedikitpun, murni rasa bakso. 

“Iya cong, soal emas sudah kulupakan, ndak mau lagi urusan dengan preman-preman jalanan.”

Cerita itu kudengarkan sambil menguyah bakso yang lumayan kenyal berisi daging sapi.

“Sebenarnya, di awal-awal saya juga kasihan sama Maksum, dulu waktu pabrik masih jalan, semua hasil panen miliknya masuk ke gudang saya.”

“Iya kah?” Sahut saya sembari kuminum es teh murni tanpa emas biru.

“Iya, tapi apa boleh buat, bertahun-tahun saya rugi. Barang sudah jalan, tapi hilang di pasaran, uang tidak tahu lari kemana. Hasil ndak ada, pajak ke pemerintah wajib kubayarkan tiap tahun. Sudahlah, saya tinggalkan itu.”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Geleng-geleng sudah… kau boleh mengikutiku, gelengkan kepalamu, heranlah. Bahwa kenyataan emas biru yang dulu dibanggakan, kini justru mencekik pelan para petani dan penggiling yang merangkak.

Karena punggawa, tidak lagi ibu yang merawat, tidak lagi bapak yang menafkahi. Mungkin mereka sudah menjelma ibu tiri yang rela menelantarkan bayi-bayi merangkak, disepak dan dibuang di aliran sungai derita.

Dan Maksum juga pernah berbisik kepadaku, “Emas ini, biarlah laku dengan harga seadanya, yang penting anak istriku bisa makan. Kujalani hidup ini dengan sabar, sembari kutunggu datangnya punggawa yang benar-benar serius memikirkan nasib para petani sepertiku.”

Mungkin sebuah investigasi bisa jadi benar, yang pernah kubaca di salah satu buku hasil penelitian, karya PEA, tentang monopoli emas biru. Bahwa terjadi penyempitan pasar, penajaman pajak untuk pelinting, dan hanya menyisakan pelinting-pelinting besar yang sanggup membayar punggawa berapapun, asal emas biru di kalangan petani bisa dibeli murah, dan pelingting-pelinting kecil bisa digugurkan di tengah jalan.

Entahlah, benarkah mereka orang asing, mungkin kau lebih tau dan lebih jelas mengatakannya. Yang pasti punggawa sudah glamor hidupnya, karena kemana-mana lehernya dihiasi emas biru yang kelap-kelip, meski tidak jelas keindahannya.

Kau harus geleng-geleng, layaknya si Maksum, yang hingga kini selalu geleng kepala, sembari melantunkan lagu kesukaannya; Pak Domo, Pasukan Doger Monyet. Karena punggawa, kini tak obahnya pasukan monyet yang girang dengan alunan musik derita, dan tidak malu dengan hiasan kalung yang tidak layak dikenakannya.

Baiklah, kau jangan percaya dengan semua ini, Bahaya.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement