Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Putriku Hijrah Entah Kemana

Hijrah jangan jauh-jauh, entar tersesat!

Pagi itu Fatimah berdandan sangat cantik. Rapi sekali. Kalau boleh dibilang, mungkin seperti bidadari yang baru turun dari kayangan yang entah dimana keberadaannya. Kemolekan tubuhnya terlihat jelas setelah kerudung putih bertengger di kepalanya. Ibu Jannah dan Pak Djamal yang tak lain adalah kedua orang tua Fatimah, tampak sibuk mengemasi barang-barang putrinya yang mau dibawa ke pondok pesantren. Wajah Abbaz yang biasa tampak berseri berubah menjadi murung-terlihat jelas dari cermin di depan Fatimah.

Pagi itu Abbaz seperti orang yang akan kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya; Fatimah. Seorang gadis sekampungnya yang ia pinang sejak masih di bangku Sekolah Dasar dulu.

“Ibu Jannah, apakah keputusan Fatimah untuk mondok itu sudah bulat?” Tanya Ibu Aisyah, tetangga sebelah yang masih ada ikatan darah dengan Abbaz.

Heemm…. Entahlah, Buk. Sebenarnya keputusan ini bukan sepenuhnya datang dari anakku, Fatimah. Tapi ya, Ibu tahu sendiri kan! Daripada ia hanya jadi buah bibir orang-orang sekampung, sebaiknya kami taruk saja dia di pesantren.

Hidup dalam lingkungan yang kental dengan religiositas tinggi, Madura, bukanlah hal yang mudah bagi pemuda-pemudi seumuran Fatimah dan Abbaz untuk mengekspresikan ikatannya. Meski sudah terikat dalam ikatan ‘pertunangan’, namun tidak berarti keduanya bebas bertindak semaunya berdasarkan nafsu birahinya. Keduanya, tak jarang mendapati cemoohan, cacian, dan hujatan lantaran perilakunya yang melampaui batas nilai etis lingkungan yang religius.

“Nak, sebelum berangkat, kamu pamitan dulu sama Pak Surijan sana!” Perintah Ibu Jannah sambil menarik tangan buah hatinya ke kamar kakeknya yang bertahun-tahun lumpuh.

“Baik, Buk”. Sahut Fatimah.

Diluar kamar para sanak famili, kerabat dan tetangga kampung sesak memenuhi halaman rumah yang kering kerontang. Menunggu kesiapan Fatimah untuk berangkat ke pesantren.

“Buk, sudah pukul tujuh lewat. Rupanya orang-orang yang mau ikut nganter Dek Fatimah sudah pada siap. Mereka ingin segera berangkat, sebab sudah cukup lama menunggu”. Abbaz memberanikan diri mengutarakan gerutu orang-orang diluar sana.

“Iya, Nak. Ini tunanganmu cuma mau pamitan sama Pak Surijan, sebab kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan ikut ngantar ke pesantren”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Di sebuah ruangan tak ber-AC Fatimah langsung menggelar tangan Mbah Surijan yang tiada berdaya. Lalu, ia menciumnya dengan tulus dan membuat tangan Simbah memerah. Merah dengan lipstik cucunya yang kian memudar. Sesekali jari-jemari lelaki yang terbujur kaku itu bergerak yang entah apa maksudnya. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Tapi, apakah maksud isyarat itu? Fatimah, Ibu Jannah, dan tunangannya Abbaz hanya bisa mematung tanpa bahasa. Menunjukkan ketidakpahaman atas apa yang hendak disampaikan Mbah Surijan.

“Saya memang tidak memahami bahasa isyarat yang kakek lontarkan. Tetapi saya bisa merasakan kasih sayang serta doa terbaik seorang kakek terhadap cucunya yang hendak pergi untuk beberapa saat”. Ujar Fatimah tersedu-sedu.

Hati Abbaz terenyuh, tersandera oleh gelombang kesedihan yang mendalam. Ia hanya bisa membuntuti arah kaki Fatimah melangkah. Ketika kemudian perempuan berkulit sawo matang itu melangkahkan kakinya ke luar kamar, Abbaz pun juga ikut keluar. Seperti cerita roman kucing dan tikus dalam film kartun Tom & Jerry. Akhirnya ia berterus terang sebelum Fatimah benar-benar pergi meninggalkannya.

“Dek Fatimah, apa yang sebenarnya merasukimu? Tak ada angin dan hujan, tiba-tiba aku mendengar kabar kalau hari ini kamu akan mondok!”

“Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Keputusan ini terjadi secara tiba-tiba, tanpa perencaan. Itu sebabnya mengapa tidak pernah ada pembicaraan apa-apa sebelumnya mengenai hal ini. Maaf, Mas”.

Rupanya jawaban Fatimah membuat Abbaz sedikit lebih lega-minimal oleh karena unek-uneknya sedikit tersampaikan. Meski di sisi lain, jawaban tunangannya itu justru membuatnya semakin penasaran.

Eeh, tapi, Dek! Sambung Abbaz sembari menarik tangan Fatimah yang sepertinya hendak keluar.

“Apa lagi, Mas” Timpalnya singkat.

“Aku belum puas dengan jawabanmu. Memangnya, kenapa kok secara tiba-tiba bapak-ibumu ingin memondokkanmu ke pesantren. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Fatimah tak langsung menggubris pertanyaan lelaki di depannya itu. Ia tertegun. Keringatnya mulai melepas bedak tebal dari wajah bulatnya. Dan matanya kian berair. Ia menarik nafas agak panjang, mencoba menenagkan diri. Lalu, ia memundurkan badannya beserta ingatannya ke beberapa hari yang lalu.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Gini, Mas. Kedua orang tuaku tak kuat malu ketika kita ketahuan berduaan di tepi sungai malam itu. Dan mungkin kamu juga sudah tahu, kalau tindakan bodoh kita itu menjadi bulan-bulanan warga sekampung. Ya, meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang sebenarnya kita perbuat, tetapi kan, berduan pada malam hari di tempat yang gelap pula, aku rasa itu tindakan yang tidak bisa dibenarkan oleh siapapun, termasuk oleh lingkungan kita, Mas”.

“Jadi, karena kejadian malam itu, kita harus berpisah sekian lama, Dek?” Kata Abbaz penuh penyesalan.

Fatimah hanya mengangguk-angguk, air matanya semakin tak kuasa ia bendung. Seperti ada sesuatu yang sengaja mereka rahasiakan dari kebanyakan orang, termasuk dari kedua orang tuanya.

***

Pukul sebelas lewat tiga puluh menit Fatimah beserta rombongannya tiba di pesantren, tempat ia akan mendalami ilmu agama. Sebuah pesantren tua, yang masih satu wilayah (kabupaten) dengan Fatimah. Dari arah depan gerbang, bacaan “ahlan wa sahlan bi huduurikum” terlihat jelas menggunakan tulisan arab pegon. Membuat satu rombongan itu tenggelam dalam nuansa yang sangat religius dan kental dengan atribut-atribut keagamaan.

Nyai Maryam, yang merupakan pengasuh santri putri, tiba-tiba meluruskan langkahnya ke arah rombongan, untuk menemui lalu menerima Fatimah sebagai santri baru. Sontak para rombongan melepaskan duduknya, sebagai penghormatan atas kedatangan Nyiai. Ibu Jannah yang berada di barisan paling depan segera mengawali pertemuan itu dengan bersalaman. Lalu diikuti Fatimah dan rombongan yang lainnya. Bagi mereka, selain sebagai bentuk penghormatan, bersalaman dengan orang-orang alim keturunan Kyai diyakini akan mendatangkan keberkahan tersendiri dalam hidup.

“Nyai, maksud kedatangan kami kesini ini, tak lain untuk memasrahkan putri kami Fatimah”. Ibu Jannah memulai obrolan, dan semua mata seketika memandang ke arah Fatimah.

Nggeh, Buk. Kalau boleh tau, putri ibu itu yang mana ya?” Nyai Maryam ingin memastikan.

“Ini, Bu Nyai”. Tukas Ibu Jannah sembari menunjuk ke arah putrinya.

“Baik, Buk. Saya terima nak Fatimah sebagai bagian dari pesantren kami. Semoga betah, dan dimudahkan segala urusan belajarnya oleh Allah SWT”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Amiiiiin...!” Sahut mereka kompak.

Sebagaimana santri baru pada umumnya di pesantren, tentu Fatimah tidak mungkin langsung kerasan. Ia terombang-ambing bersama ingatannya yang masih tergantung di bilik rumahnya, bersama sekujur tubuh kaku Mbah Surijan di ruangan hampa, bersama jejak-jejak tubuhnya di tepi sungai yang gelap, dan bersama banyak hal yang masih berkecamuk dalam dirinya.

Ukhti Fatimah, janganlah terus-terusan menangis. Ukhti nggak kerasan ya?” Tanya Fadhilah, teman sekamarnya yang rupanya lebih senior.

“Nggak apa-apa, Mbak” Ujarnya, sambil menyembunyikan kedua bola matanya yang kian berair.

“Sudahi tangismu. Hapus air matamu. Lepaskan segala kegundahan di hatimu. Sesungguhnya kekasih Allah itu tidak pernah merasa takut dan bersedih. Apa ukhti tidak ingin jadi kekasih-Nya?” Lanjut Fadhilah dengan nada dakwah, bak ustadzah-ustadzah kondang di acara televisi yang biasa Ibu Jannah saksikan pada pagi hari.

Rupanya nasehat perempuan bercadar itu cukup berhasil membidik kegundahan Fatimah. Meski sebenarnya ia juga butuh waktu cukup panjang untuk membersihkan hatinya dari kisah-kisah kelam yang menyanderanya. Mungkin, ditengah suasana batinnya yang tengah berguncang hebat, sosok seperti Fadhilah bisa jadi sebagai solusinya.

Kamis malam itu suara adzan magrib mengalun tinggi ke langit gelap, mengguncang jiwa-jiwa yang kering di musim hujan. Tiba-tiba ingatan Fatimah terpental jauh ke kampung halaman, tepatnya ketika Abbaz melantunkan adzan magrib di sebuah surau dekat rumahnya. “Suara muadzin itu mirip suara tunanganku” Gumamnya.

Eh, ukhti kok malah bengong”. Fadhilah menepuk pundak Fatimah, lalu mengajaknya naik ke masjid untuk shalat berjamaah.

***

Dua puluh menit berlalu. Namun para santriwati masih anteng di shaf masing-masing sebagaimana semula. Mereka bersiap diri untuk bertawashul, yasinan, tahlilan lalu dilanjutkan dengan pembacaan sholawat kepada Baginda Nabi. Kalam-kalam ilahi beserta puji-pujian kepada para kekasih-Nya pun berdendang, menyeruak ke bilah-bilah kecil penjuru pesantren. Tetapi nampaknya hal itu membuat Fadhilah kegerahan. Dan, ia ingin segera keluar meninggalkan masjid.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Ayok kita keluar saja, ukhti“. Katanya kepada Fatimah yang duduk disampingnya.

“Loh, kan rutinitas pesantren masih berlangsung, Mbak?”

“Nggak apa-apa, ini tidak wajib kok!”

“Baik, Mbak”.

Sebagai santri baru, yang tidak tahu-menahu tentang aktivitas pesantren yang wajib diikuti. Apalagi, pihak pesantren memang tidak pernah melakukan sosialisasi terkait apa saja yang berkenaan dengan pesantren, bil khusus kepada santri baru. Wal hashil, apa yang menimpa santri baru cenderung bergantung kepada siapa teman karibnya. Sudah barang tentu karakter serta tingkah laku Fatimah sedikit banyak ditentukan oleh Fadhilah.

“Sejak kurang lebih dua tahun, ana memang tidak pernah ikut sholawatan, ukhti“. Kata Fadhilah.

“Memangnya kenapa, Mbak?” Timpal Fatimah penasaran.

“Bukannya kita sebagai muslim/ah seharusnya berpatokan pada al-Qur’an dan hadits? Kan, keduanya merupakan sumber hukum utama umat Islam!”

Putri bungsu ibu Jannah itu hanya bisa manggut-manggut. Diam seribu bahasa. Ia tak bisa menimpali penjelasan Fadhilah yang sebenarnya memang tak pernah ia dapati sebelumnya. Disinilah doktrin perempuan bercadar itu menemukan momentumnya. Wajar bila ia tampak begitu bersemangat untuk mengajak Fatimah kembali pada kemurnian hukum Tuhan.

“Jadi, seperti sholawatan, tahlilan, berjabat tangan seusai sholat, itu bukan ajaran Islam. Nabi utusan Allah pun tidak pernah mengajarkan demikian. Bukankah setiap yang tidak pernah Nabi ajarkan itu merupakan perbuatan bid’ah? Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat akan masuk neraka? Apa ukhti mau terjerumus ke dalam api neraka karena berbuat bid’ah?”

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Tidak, Mbak”.

“Makanya, mari kita hijrah dengan kembali pada al-Qur’an dan hadits. Lalu, tinggalkan amaliyahamaliyah yang tidak diajarkan dalam Islam. Biar iman ukhti tidak rusak.”.

“Tapi, Mbak, orang-orang di kampungku gemar sholawatan, tahlilan, saling berjabat tangan-bahkan seolah-olah seperti kewajiban yang harus ditunaikan!” Maksud hati Fatimah ingin membantah perkataan Fadhilah. Tapi, apalah daya, tikus sudah menguasai lumbung.

“Itu kesalahan besar dalam beragama. Sekarang, menjadi tugas ukhti untuk menyelamatkan mereka dari segala bentuk penyelewengan ajaran agama itu. Dengan kata lain, ukhti harus menyelamatkan mereka dari api neraka”.

“Oh, begitu ya, Mbak. Tapi, aku tidak bisa memahami bahasa Arab alias makna al-Qur’an dengan baik. Terus, gimana dong?” Respon Fatimah seolah-olah puas. Meski masih ada sedikit kendala.

 “Itu kan urusan gampang. Ukhti bisa pakek al-Qur’an dan hadits terjemahan. Ana punya kok”.

“Iya, Mbak”.

Huuuus….” Tegur Fadhilah kesal, sambil menempelkan telunjuknya diantara bibir tebal. Seperti ada kesalahan yang tengah dilakukan Fatimah. Lalu, ia melanjutkan bicaranya.

“Sebaiknya dari sekarang, ukhti jangan panggil ana ‘Mbak’, panggil saja ukhti. Biar nuansa Arabiyahnya lebih kerasa”.

“Baik, ukti Fadhilah”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Semua perkataan Fadhilah itu rupanya sudah terpatri dalam ingatan Fatimah. Ia tak henti-hentinya mencari pembenaran atas apa yang dikatakan teman karibnya itu. Iming-iming surga menjadi alasan yang kuat mengapa ia harus segera berbenah, bangkit dari keterpurukan hidup. Apalagi, ketika kemudian cucu Mbah Surijan itu teringat masa-masa di kampung halaman bersama Abbaz, tentulah ia merasa sangat berdosa. “Aku sudah kotor. Hidupku berlumuran dosa. Dan, tidak mungkin aku membiarkan dosa-dosaku makin bertambah karena bid’ahbid’ah itu tadi. Benar apa kata ukhti Fadhilah. Aku harus segera bertaubat. Kembali pada al-Qur’an dan hadits. Aku harus hijrah”. Batinnya.

Rupanya Fatimah pun mulai berbenah. Kesehariannya tak luput dari sentuhan-sentuhan doktrin islami dari Fadhilah. al-Qur’an dan hadits Nabi, seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan barunya kini. Dan, tak tanggung-tanggung, ia pun kerap menghafal ayat-ayat suci-Nya beserta beberapa hadits yang dianggapnya perlu. Hampir kurang lebih dua bulan di pesantren, bisa dibilang cukup banyak perubahan yang dialaminya.

Jumat pagi Pak Djamal tiba-tiba datang ke pesantren. Fatimah kaget ketika kemudian mengetahui kedatangan bapaknya, yang masih mengenakan sarung yang biasa digunakan pergi ke sawah. Lelaki paruh baya itu tampak tergesa-gesa. Secepat mungkin ingin menemui putrinya yang baru dua bulan di pesantren. Bicaranya tidak jelas. Gopoh sekali.

“Bapaaaaak..! Apa yang terjadi, kok?” Ujar Fatimah sambil mencium tangan lelaki berkumis tebal itu penuh cemas.

“Kakekmu, Nak”

“Kakek? Kenapa dengan Kakek Surijan, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kakekmu sudah tiada, Nak”. Jawabnya tersedu-sedu.

“Apa…? Kakek!” Air matanya pun tak kuasa ia bendung. Bak gerimis yang menjelma menjadi hujan.

***

Setibanya di kampung halaman, Fatimah mendapati sanak famili dan para tetangga sudah memadati halaman rumah. Suasana kian redup. Hening sekali. Tak ada gelak tawa yang terdengar, kecuali isak tangis beserta lantunan surah yasin yang kian menggelegar. Dengan wajah kusut, ia memasuki ruangan tempat jenazah kakeknya. Ia tak lagi melihat sekujur tubuh Mbah Surijan yang semula terbujur kaku, kecuali hanya sehelai kain putih yang menyelimuti jasadnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Buk, kenapa Kakek pergi secepat ini?”

“Yang sabar ya, Nak. Kini sudah waktunya Bapak kembali” Ibu Jannah mencoba melerai kesedihan Fatimah yang lemas di pangkuannya.

“Tapi, Buk, Fatimah nyesel tidak berada di samping kakek ketika akhir khayatnya”.

“Nggak apa-apa, Nak. Doakan saja semoga Pak Surijan, kakekmu, kembali dengan tenang ke sisi-Nya”.

Diluar rumah, orang-orang sudah siap untuk membawa jenazah Mbah Surijan ke peristirahatan terakhirnya. Sebuah TPU berukuran cukup luas yang tak terlalu jauh dari kediaman almarhum. Lantunan kalimat tauhid terdengar sangat kencang, mengiringi langkah kaki Fatimah menuju pemakaman sang kakek.

Setelah membacakan talqin dan adzan di telinga almarhum, Pak Djamal langsung naik ke permukaan, diikuti oleh timbunan tanah yang perlahan menutupi lubang berukuran satu setengah meter itu. Sementara dari arah barat, Kyai Hasan berjalan setengah kencang menghampiri tumpukan tanah berbentuk tubuh manusia itu. Seketika suasana menjadi hening. Kyai sepuh yang berpakaian putih-putih itu pun membaca surah fatihah sebagai pembuka bacaan tahlil untuk almarhum Mbah Surijan.

”Hentikan… Hentikan…” Tegas Fatimah menerobos ayat-ayat suci yang dilantuntan sang Kyai. Tak lama, ia melanjutkan bicaranya yang bernada protes itu.

“Apa-apaan ini, haah..? Kakek Surijan nggak usah dibacakan tahlil. Tahlil bukan ajaran Islam. Tahlil bukan sunnah Nabi. Itu perbuatan bid’ah. Sesat. Ayok bubar, bubar kalian”. Katanya tegas, penuh emosi.

Sontak para hadirin terkaget-kaget dibuatnya. Bagaimana mungkin sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya menganut Islam sunni, bisa menerima ketika amaliyahamaliyahnya dibid’ah-bid’ahkan oleh seorang perempuan yang baru mondok dua bulan. Mereka pun geram. Nyaris hadirin di pemakaman itu meluapkan amarahnya pada Fatimah. Cemoohan, makian, dan sumpah serapah dilemparkan kepadanya. Bahkan tak segan-segan, sebagian ada yang mau memukulinya karena saking marahnya.

“Kurang ajar” Celoteh salah seorang pelayat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Anak kemarin sore sudah berlagak orang Alim, sialan!” Kata pelayat yang lain.

“Usir dia dari kampung ini. Usiiir….!” Timpal sebagian yang lain.

“Nggak ada gunanya mondok, akhlaknya tak beradab”. Sambung seorang kakek tua lebih parah lagi.

Ditengah suasana yang cukup mencekam, Kyai Hasan menuju ke kerumunan warga yang mengelilingi Fatimah yang sudah tak berdaya. Pingsan.

“Sudah sudah…! Jangan main hakim sendiri. Jangan main klaim kebenaran. Sebaiknya Pak Djamal segera bawa putri Bapak ini ke Puskesmas saja. Untuk para pelayat, mari kita teruskan tahlilan”. Pungkas Kyai, menunjukkan kebijaksanaannya.

Pak Djamal, Ibu Jannah dan Abbaz tak butuh waktu lama untuk tiba di Puskesmas. Sebab, jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah Fatimah.

“Putri bapak kenapa?” Tanya Dokter paruh baya itu.

“Oh, itu, Dok. Tiba-tiba tadi dia pingsan”. Ujar Pak Djamal singkat.

“Baik. Saya periksa dulu ya, Pak!”.

“Iya, Dok”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Cobaan yang menimpa keluarga Pak Djamal kini tidak tanggung-tanggung. Setelah mereka kehilangan orang tua yang sangat disayanginya, kini giliran putri bungsunya yang harus dirawat di Puskesmas. Doa pengharapan tak henti-hentinya mereka lantunkan. Berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan putrinya yang berumur dua puluh tahun itu.

Gredeek….” Suara pintu berbunyi, dan Pak Dokter keluar dari ruang perawatan.

“Gimana keadaan putri saya, Dok! Nggak apa-apa kan?” Ibu Jannah sangat cemas, khawatir dengan kondisi kesehatan putrinya. Tapi rupa-rupanya kekhawatiran itu tiba-tiba sirna ketika Pak Dokter menimpalinya dengan senyuman. Menunjukkan kebahagiaan.

Alhamdulillah, putri Ibu ngak apa-apa. Cuma masuk angin dan kecapean aja kok”

Alhamdulillah” Kata mereka bertiga kompak.

Suasana mulai mencair. Normal seperti semula. Tidak tegang. Pak Dokter menatap tajam wajah Ibu Jannah dan Abbaz yang berada di depannya. Pandangannya seperti akan membawa kabar gembira.  

“Oh iya, selamat ya, Buk!”.

“Maksudnya, Dok?”

“Putri Ibu hamil dua bulan. Selamat..!”

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Kritik

yang berhijab kepalanya, belum tentu hatinya. Yang religi lagunya, belum tentu akhlaknya.

Labil

Sebagaimana namanya dia ibarat purnama yang diterjemahkan ke dalam bahasa bermajas, juga kembang desa.

Labil

Saya tidak bisa menahan keinginan untuk mendatangi Ayu dan kalau bisa meminangnya dalam waktu dekat.

Labil

Nyatanya, janda lebih menggoda, bukan?

Labil

“Ceritakan saja apa yang kau mau dan apa yang telah terjadi dan kenapa kau semakin cantik kalau menangis.”

Labil

Hey dik bagaimana kabarmu, apakah kamu rindu tulisanku? Jika iya, maafkan saya dik. Belakangan ini, selepas keluar dari penjara (kampus), saya tak sempat dan...

Labil

Hai kau yang katanya pengagum senja apakah benar demikian, apa kau tau arti dari pengagum itu apa? Jika tidak tau cari tau dulu lah,...

Anekdot

Menunggu sama dengan memerpanjang waktu. Perpindahan dari Senin ke Selasa terasa lebih panjang dari pada seminggu. Tapi waktu tidak berhenti, apalagi mundur.

Labil

Kini kamu sudah berubah, dulu sudah kuramal kamu pasti berubah. Itu hukum alamnya. Kamu kan artis dan setiap artis yang berkerudung itu sudah hijrah......

Kritik

Jilbab atau busana yang menutupi bagian aurat perempuan muslimah hingga kini masih menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtilaful ulama (kontroversi ulama). Perbedaan pendapat ini...

Advertisement