Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Ramadhan dan Kesalehan Kita

Bulan Ramadhan sudah tiba. Kita, umat Islam, menyebutnya sebagai bulan suci karena keutamaan serta keistimewaannya. Pengakuan itu berdasar pada suatu hadis; “barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka” (HR. an-Nasa’i). Bayangkan, sekedar “bergembira” atas kedatangannya saja membuat diri manusia (yang bergembira) selamat dari kobaran api neraka. Tentu saja, masih ada banyak keistimewaan lain yang menjadikannya berbeda dengan bulan lainnya.

Keistimewaan-keistimewaan bulan suci Ramadhan harus kita sambut baik. Dalam arti, perlu adanya kesadaran kolektif dari masing-masing individu (muslim) untuk menyambut bulan suci dengan cara-cara yang suci. Termasuk dari bagian cara-cara yang suci itu adalah tentu saja berpuasa, sholat tarawih, membaca al-Quran, dan sebagainya yang kesemuanya untuk meningkatkan ketakwaan serta kesalehan di hadapan Allah SWT.

Predikat saleh adalah dambaan setiap muslim. Sebab, berbuat saleh atau kebaikan merupakan anjuran agama Islam. Nabi SAW pernah bersabda, “setiap kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari Muslim). Masalahnya, apa dan bagaimana sebenarnya “saleh” itu?

Pada titik inilah sebagian kita kadang kurang tepat menerjemahkan makna kesalehan. Menganggap, bahwa “saleh” hanyalah ia yang mapan dalam ritualistik seperti sholat, membaca al-Quran, dan sebagainya dari ibadah mahdlah (ritual), yang menekankan pada relasi vertikal. Hal ini tentu saja sangat absah dan, bahkan, sangat dianjurkan dalam konteks hubungan setiap individu dengan Tuhannya. Tapi menjadi bermasalah ketika kemudian cakupan kesalehan dipersempit dalam hal-hal yang menyangkut ritual.

Konsekuensi logis dari penyempitan atas makna saleh ini, antara lain, adalah terpisahnya urusan muamalat (sosial) manusia dari komponen syariat Islam. Dengan kata lain, segala aktivitas diluar ritual pada akhirnya tidak dianggap sebagai bagian dari doktrin Islam. Padahal, Islam sebagai agama universal, mengatur tata perilaku manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia (dalam terminologi Islam kerangka ini populer dengan sebutan; hablun minallah wa hablun minannas).

Revitalisasi Kesalehan

Pada Ramadhan kali ini, genap kali kedua umat Islam menjalani puasa Ramadhan dalam situasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Sebagaimana Ramadhan sebelumnya, situasi pandemi seperti saat ini jangan sampai mengurangi semangat dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Justru, dalam situasi yang serba sulit dan tak menentu integritas kesalehan kita benar-benar diuji; apakah mengalami peningkatan, atau justru semakin jauh terhanyut oleh arus keadaan meninggalkan yang Maha Kuasa?

Ramadhan dalam situasi pandemi merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT serta dengan sesama manusia. Bentuk hubungan pertama berdimensi ritual sehingga hanya bisa dicapai melalui ibadah-ibadah ritual. Sedangkan hubungan yang kedua berdimensi sosial yang hanya bisa dicapai melalui solidaritas sosial sebagai bentuk kepedulian antar sesama makhluk ciptaan-Nya. Inilah yang dimaksud A. Mustofa Bisri dalam bukunya yang berjudul “Saleh Ritual, Saleh Sosial” (2016).

Saleh secara ritual sekaligus sosial harus berjalan secara beriringan, mengingat keduanya sama-sama merupakan anjuran syariat Islam. Dalam ibadah ritual seperti sholat, misalnya, kita memulainya dengan kalimat takbir (Allahu Akbar) yang berarti mengesakan Allah, dan memungkasinya dengan kalimat “assalaamualaikum” sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Ungkapan kalimat salam ke kanan dan ke kiri ini menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama manusia, dengan memastikan “keselamatan” bagi mereka. Ilustrasi ini memperlihatkan kepada kita bahwa sesungguhnya kesalehan ritual harus menumbuhkan kesalehan sosial dan, keduanya hanya bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan.

Saat ini masih cukup banyak orang-orang di sekitar kita yang terpuruk secara sosial-ekonomi akibat hantaman pandemi. Adalah tugas kita (yang berkemampuan lebih) untuk membangkitkan mereka dari jurang keterpurukannya. Islam telah menyiapkan formula yang lengkap untuk itu. Zakat fitrah, sodakoh, dan sebagainya yang sifatnya pemberian merupakan proyeksi Islam agar harta-benda tidak hanya berputar diantara orang-orang yang kaya saja (baca; QS. 59: 7). Ini semua merupakan wujud dari kesalehan sosial sebagai konsekuensi logis dari kesalehan ritual yang mapan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Urgensitas kesalehan sosial-khususnya dalam Ramadhan ditengah pandemi-sekurang-kurangnya karena dua alasan; pertama, keistimewaan serta keutamaan bulan Ramadhan meniscayakan pelipatgandaan balasan atas amal saleh yang dikerjakan oleh manusia. Atas alasan ini, semangat menjalankan ibadah-ibadah (ritual) Ramadhan harus juga dibangun dalam kerangka kepedulian sosial. Dengan demikian, sholat, puasa, dan bacaan al-Quran kita akan tertaut dengan relasi sosial yang belakangan relatif memudar.

Kedua, mengurai masalah ketimpangan sosial di sekitar kita. Adalah sesuatu yang jamak diketahui bahwa pandemi telah menyeret perekonomian banyak orang jauh merosot, apalagi mereka yang berada pada kelas menengah ekonomi ke bawah. Dalam titik inilah, saya kira, kesalehan sosial menemukan momentumnya sendiri.

Terakhir, saya ingin mengutip pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Sirajd, pada acara puncak Harlah NU ke-98 di Masjid Istiqlal Jakarta akhir Februari lalu, “percuma kita mengakui mayoritas beragama Islam, kalau kemiskinan masih kita lihat di depan mata kita”. Ada makna tersirat; sudah saatnya umat Islam Indonesia merevitalisasi kesalehannya ditengah problematika sosial-ekonomi yang menerobos ruas-ruas kemanusiaan.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya !

NB: Artikel ini sudah diterbitkan oleh koran Tribun Jateng pada edisi Senin, 12 April 2021.

Comments

Kamu juga membaca..

Labil

Tapi tidak, aku tidak ingin sakit hati. Kukembalikan lagi pada hari-hari yang biasa dengan amarah. Kucoba untuk sabar, ikhlas dan diam.

Kritik

Habis sudah bulan rahmat, bulan ampunan, dan bulan pembebasan. Semuanya berlalu begitu saja. Mungkin aku tiada merasa bahwa dalam perjalanan sebulan itu adalah diskon...

Advertisement