Connect with us

Hi, what are you looking for?

Labil

Selain Lapar, Puasa di Bulan Ini Dipaksa Sabar

Tapi tidak, aku tidak ingin sakit hati. Kukembalikan lagi pada hari-hari yang biasa dengan amarah. Kucoba untuk sabar, ikhlas dan diam.

Sungguh, aku tidak mengira suara itu akan keluar dari mulut seorang bapak yang selama ini kuhormati. Ketika dia susah, kubantu semampuku. Ketika dia lelah, tak enggan tanganku memijitnya. Dan jauh di luar ketidaktahuannya, aku berdoa sedari pagi hingga malam; untuk memohonkan ampun, memohonkan kesehatan, bahkan memohonkan keberkahan hidupnya.


Memang tidak seberapa penting, hanya sebatas itu yang bisa kuberikan selama ini. Mungkin juga hanya sebungkus rokok dalam sehari, kuberikan itu dengan bahagia. Melihatnya dengan segelas kopi di meja, dan terselip sebatang rokok menyala di jarinya, sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa bapakku sudah lega hari ini.


Bahkan tidak pantas jika aku sampai sakit hati. Toh, selama ini telingaku biasa dengan kata-kata kasar dari mulutnya. Aku menyadari bahwa selama ini hidupku dibesarkan dari keringatnya sepanjang hari. Nafkah yang dia perjuangkan dari pagi hingga malam, dari hasil padi hingga kuli.


Sudah menjadi watak baginya, tatkala jiwanya lelah, hatinya resah, kata kasar pasti dilontarkan. Itu sudah biasa kusaksikan sedari kecil. Meskipun aku yang kecil itu juga turut membantu, sebisaku, dengan segala kelemahan, kekurangan dan kebodohanku, tidak cukup menjadi tameng yang bisa mencegah amarah. Tetap, jika bapak marah, ya sudah, aku menjadi sasaran di depannya.

Berkali-kali aku berfikir, apakah memang begini, nasib keluarga kami? Apa karena kami tidak keluarga kaya, tidak punya banyak uang, sekali panen hanya cukup untuk makan dan membayar utang, lantas itu menjadi sebab bapakku selalu marah pada anaknya ?


Tapi tidak, aku bukan kuda yang hanya tahu satu jalan di depannya. Meski aku tidak pandai di sekolah, bahkan tahun kemarin tidak mampu lulus kuliah, aku tetap mampu menjadi anak yang punya keluasan dalam memandang. Aku lebih memilih sabar, ketika bapak marah; aku memilih diam, dan mengikhlaskan semuanya, tanpa ada sakit hati yang menjadi buih dendam. Tidak, aku sangat jarang melawannya, karena kupikir itu percuma, dan aku tidak mau menyulut api pertengkaran, apalagi dengan bapakku.


Apa karena diriku yang tidak lagi kecil ini, belum mampu memberikan kebahagiaan untuknya? Di usia 24 tahun ini, memang belum punya pekerjaan tetap. Sudah setahun ini mencoba dagang, tapi karena modal yang pas-pas an, dan mungkin karena kemampuan dagang yang masih amatiran, hasil dari berdagang selama ini belum cukup untuk memberikan sehelai baju dan sarung untuk lebaran yang akan datang.

Jangankan dia, bapakku, Aku pun sedih melihat diriku. Padahal banyak kawan-kawan sepantaran yang sudah mapan finansial, sudah punya pekerjaan tetap, yang kantoran, yang bisnis, dan lain-lainnya. Mereka sudah bisa kirim uang setiap bulan, sudah bisa beli motor dan handpone untuk adik-adiknya. Apalagi, mereka pasti kirim sehelai baju dan sarung untuk lebaran sebentar lagi.

Sedangkan aku, bisa apa?
Mungkin karena hal-hal itu, yang membuat bapakku sama sekali tidak bangga dengan anaknya ini. Masih menjadi sasaran empuk untuk selalu dimarahi. Diperintah ke sana kemari, dicambuk kata kasar layaknya sapi dikebiri.


Tapi tidak, aku tidak ingin sakit hati. Kukembalikan lagi pada hari-hari yang biasa dengan amarah. Kucoba untuk sabar, ikhlas dan diam.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Tapi, sore tadi.. kalimat yang dilontarkan, tidak hanya amarah seperti biasanya. Ada sisi-sisi yang dibandingkan, bahkan merendahkan diriku sebagai anak dan sebagai lelaki.


Kudengar itu, sekejap, perih, ada tangis yang lirih di dalam batinku. Kalimat itu, dilontarkan tidak begitu keras, tapi menggugurkan segala kesabaran dan keikhlasan yang sudah kubangun selama ini.


Dan di atas motor, malam ini, pipiku basah, aku enggan berbuka puasa di rumah. Aku merasa tidak pantas memakan nasi dari keringatnya. Karena aku belum mampu memberi kebahagiaan untuk kehidupannya.

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat.

Inspirasi

Kamu harus punya musuh. Benar! kata pepatah; lebih baik punya 1000 teman daripada 1 musuh. Pepatah itu memiliki arti sebaiknya anda tidak punya musuh....

Inspirasi

Bulan Ramadhan sudah tiba. Kita, umat Islam, menyebutnya sebagai bulan suci karena keutamaan serta keistimewaannya. Pengakuan itu berdasar pada suatu hadis; “barang siapa yang...

Kritik

Habis sudah bulan rahmat, bulan ampunan, dan bulan pembebasan. Semuanya berlalu begitu saja. Mungkin aku tiada merasa bahwa dalam perjalanan sebulan itu adalah diskon...

Community

“Wahai orang-orang yang beriman, berpuasa diwajibkan atas kalian sebagaimana juga diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, dengan harapan kalian bertaqwa”, QS. al-Baqarah:183. Ada beberapa makna...

Advertisement