Connect with us

Hi, what are you looking for?

Inspirasi

Seseorang Bertanya Padaku, “Apa enaknya hidup di desa?”

Gaji 2-3 juta sebulan lebih dipilih, daripada hanya sekedar jadi buruh kuli atau hanya sekedar ternak dan bertani.

Baik, tema saat ini, adalah desa. Sebelum pemaknaan menjadi liar, jangan kau artikan banyak-banyak tentang desa. Siapa yang boleh menjawab pertanyaan itu? Yang pasti, adalah orang-orang yang benar-benar merasakan kehidupan di desa, tidak hanya sekedar lahir, numpang makan, numpang tidur, sampai dia besar terus hilang. Bukan, bukan mereka.. sekalipun, kalau kau tanya mereka, pasti dijawab, “di desa itu enak. Adem, kumpul keluarga, kumpul temen, dll.” Tidak jawaban itu yang hendak kubahas.


Jawaban itu, hanyalah jawaban tidak bermutu, dari orang-orang yang tidak nyaman di desa, lalu menghilang, memilih hidup di luar, karena uang dan prestise lebih mahal. Mungkin, dia terpaksa menjawab karena sedang momen lebaran, sedang dia tidak mungkin pulang. Jadi, wajar.


Hidup di desa, kan tidak enak? Lapangan kerja di sini sedikit, sinyal kadang sulit, kalo malem sepi, jauh dari pusat hiburan, jauh dari bioskop, fashionnya ya gitu-gitu aja. Ah, sudahlah.. jawab jujur, di desa itu gak enak.
Ndeso.


Survey cabarisme (tidak ilmiah dan tidak akurat) membuktikan bahwa; kebanyakan remaja yang baru lulus SMA/SMK atau lulus dari Perguruan Tinggi lebih memilih merantau ke kota. Karena di sana lebih terjamin lapangan kerja, dan tempat strategis untuk memperbaiki finansial. Setidaknya, ketika dia pulang saat lebaran (sekitar satu-dua minggu di rumah) orang-orang bisa memandangnya wah, dompet sedang tebal-tebalnya, penampilan sudah pasti maco dan kece.


Jangan klaim bahwa itu benar.
Setidaknya, aku yang merasakan. Iya, aku pernah merantau setelah lulus SMA, ke Madura. Waktu itu niatku kuliah. 4 tahun lebih berjalan, akhirnya aku memutuskan pulang dalam keadaan tidak lulus.


Singkat cerita, tetangga-tetangga tahu kalo memang aku gagal sarjana. Selama 2 tahun di rumah, banyak hal yang kulakukan; berdagang, ikut tani, kadang bantu kuli, kadang juga nyamar jadi penulis (ilmiah dan non ilmiah), ikut-ikut kegiatan sosial masyarakat, dan.. banyak.


Dimana kawan-kawanku? Ada yang merantau, lumayan juga. Ada yang kerja di kota yang sama, tapi bukan di desa, mereka pulang seminggu sekali untuk menyapa orang tua.
Nah, kawan-kawan perantauan, setiap kutanya, pasti mereka jawab ingin hidup di desa nanti, setelah punya modal lumayan, bikin usaha buat hidup di desa. Semua kutanya, kecuali mereka yang sudah beristri orang kota, dan terlanjur bangun rumah di sana.


Kayaknya memang begitu, rata-rata orang tua di sini, mayoritas mereka pernah merantau. Lalu pulang ke desa, cari istri/suami, bangun rumah, sudah. Hidup seadanya, bertani, kuli, jadi guru, ternak, berdagang, kerja di kelurahan, di kantor deket deket desa, dan sebagainya.


Apa tidak ingin ke kota?
Orang-orang yang tidak sanggup bertarung dengan nasib di desa, maka dia pasti cari kerja di kota. Gaji 2-3 juta sebulan lebih dipilih, daripada hanya sekedar jadi buruh kuli atau hanya sekedar ternak dan bertani.


Iya kalau jadi pegawai, guru PNS. Sudah dijamin. Enak-enak saja hidup di desa. Kata bapak, “kamu sudah disekolahkan, makan biaya banyak, jangan seperti bapak. Cuma jadi tani, kalo bisa lebih dari bapakmu yang bodo ini.”
Nah, berkat kalimat itu.. akhirnya, pekerjaan kuli dan tani menjadi tidak enak, dan sudah pasti hilang dari kamus cita-cita anak sekolahan.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Tidak. Kenapa kehidupan di desa, dari dulu hingga sekarang, hanya diartikan kuli dan tani? Kenapa kehidupan enak itu hanya diukur dari status pekerjaan pegawai?


Kubuktikan ya.. anggap, selama di rumah aku sebagai pengamat. Sekalipun kawan-kawan banyak yang hidup di kota. Masih ada kok, mereka yang masih muda, berani memutuskan hidup di desa.


Samping rumah, dia justru tidak betah jadi perantau. Pernah merantau, tiga bulan pulang. Lalu ternak puyuh petelur, bersama keluarga. Dua tahun sudah berjalan, nyatanya dia betah-betah saja hidup di desa.


Masih dekat rumah, pernah merantau juga beberapa tahun, lalu pulang dengan skill mumpuni. Akhirnya buka konter HP, bisa servis, jual beli HP, kadang punya sampingan jual beli motor. Dia masih muda, nyatanya betah-betah saja hidup di desa.


Depan rumah, baru lulus SMK, jurusan otomotif. Sempet jadi supir alat-alat berat, terus memberanikan diri buka bengkel motor, akhirnya ramai. Pelanggannya banyak, lha wong malam takbiran aja masih sibuk dandan motor. Nah loh, dia betah-betah saja hidup di rumah.


Ada juga yang buka warung kopi, pernah merantau di medan beberapa tahun. Lalu pulang, hingga sekarang bisa hidup dari jualan warung angkringan, katanya dia siap nikah tahun depan. Artinya, betah-betah saja hidup di desa.


Siapa lagi? Ada, dia sekarang ternak sapi, tiap hari cari rumput, beberapa tahun lalu kerja di PLTU, hasil tabungannya dia belikan sapi. Dia rawat beberapa bulan, lalu dijual, beli lagi, jual lagi.


Semua dari mereka, yakin masih muda. Lewat tulisan ini, kuakui jempol pada mereka. Keren.
Bagaimana jika mindset seperti mereka ini di tumbuhkan pada muda-mudi di desa yang masih segar semangatnya? Maka sangat indah kehidupan di desa. Ada perkumpulan, yang maju pemuda. Ada kegiatan agustusan, pengajian di hari besar pemuda juga yang maju. Ada kegiatan sosial, pendidikan, budaya, pemuda juga yang maju.


Dan akhirnya, orang tua hanya perlu duduk, makan snak waktu ada pengajian, sembari bersyukur, “Alhamdulillah, muda mudi sudah mampu mandiri. Mereka hidup di desa tidak nganggur, kerja seadanya tapi mereka bersyukur. Yang usaha, tidak lupa ngasih kerja ke temannya. Yang jadi guru tidak lupa mengamalkan ilmunya.”


Sudah ketemu jawabannya?

Advertisement. Scroll to continue reading.
Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

"Kita boleh pintar berdebat dalam teori mata perkuliahan, tapi orang sukses sedikit sekali berbicara dia lebih menyimpan kepintarannya, serta lakukanlah sesuatu yang besar dan...

Inspirasi

Sekarang banyak caleg muda, entah dari partai apa, mayoritas poster yang dipajang seumuran denganku dan aku tidak mau menilai itu jelek atau ganteng karena...

Tips

Pemuda, Yang digadang-gadang selalu menjadi pilar kebangkitan bangsa. Salah satu bagian terpenting di setiap masa, sekaligus menjadi tantangan yang harus dimonitoring secara arif dan...

Community

Hai gaes, apakah kemarin kamu ikut merayakan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober? Kalau saya sengaja tidak ikut merayakannya. Semua...

Inspirasi

Kau pun harus ingat dengan sindiran ini, “Banyak orang bertanya, bisnis apa yang bagus?” dan begini jawabannya, “Bisnis bagus adalah yang dibuka, bukan ditanya...

Community

Hari Sumpah Pemuda (28/10) . Hampir seluruh pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari...

Advertisement