Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kritik

Sudalah, Ikhlaskan Saja Natuna Pada China

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Apakah kamu, yang marah-marah saat Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia dijamah oleh China. Kamu tidak terima, sehingga menyampahi media sosialmu dengan kata-kata buruk kepada Jokowi, kepada Prabowo, dan kepada Luhut Panjaitan. Kamu jengkel ya, memang kenapa kalau Indonesia jadi milik China. 

Maaf deh, marahmu, jengkelmu, dan ketidakterimannmu itu nonsense. Gak guna dan tidak bisa mengubah apapun. Lagipula hanya wong cilik, responmu itu buang-buang waktu. Sumpek saya melihatnya. Apa dengan cara begitu, kamu lakukan dengan maksud bela negara dan biar semua orang tahu kalau kamu paling paham situasinya. Iya?

Alah, bisamu paling hanya menyalahkan presiden, menyalahkan Menhan, atau menyalahkan petinggi di sana karena gak becus ngurus negara. Mengatakan pengelola negara yang bodoh lah, kuper dan telmi lah. Dari dulu kamu seperti itu, sedikit-sedikit menyalahkan, menuntut, protes dan sebagainya. Itu semua demi kepuasanmu sendiri kan. Sebenarnya kamu gak serius dan bercanda kan?.

Sudalah biarkan saja China menguasai Indonesia. Bumi itu diciptakan untuk manusia kok, manusia manapun. Kita diajari tentang ‘kemanusiaan’ dan baik kepada semua orang, tentu termasuk bangsa China. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk berpecah belah dan bukan untuk berperang, tapi saling mengasihi dan menerima dengan baik sebagai tamu di rumah kita. 

Hanya manusia saja yang serakah. Membagi bumi dengan sekat-sekat negara. Bukankah tuhan menciptakan langit satu dan matahari satu. Kalau bangsa China ke Natuna dan dia sekedar cari makan, katakanlah ‘mancing’ untuk dibawa pulang, kenapa harus diusir. Kenapa manusia suka sekali dengan peperangan dan siapa yang mengajarimu tentang ‘membela mati-matian bumi kita’ dengan ajaran nasionalisme. Siapa?. Ngaku!

Layani dengan baik, seperti kita dilayani sebagai tamu Allah di tanah suci Mekkah. Kamu hanya butuh kenyang dan Indonesia dianugerahi keberkahan sumberdaya alam yang melimpah. Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis. Freeport dikeruk sejak nenek saya masih mudah hingga beliau mati, belum habis. Seperti itu, tidak boleh rakus, karena hidup hanya sementara. Anak cucu tak mungkin kelaparan. Percaya deh, Tuhan telah menyediakan segalanya yang tak akan habis dimakan sampai kiamat datang. China itu negara sahabat dan demi persahabatan kenapa kamu yang repot?

Ada pepatah mengatakan, “belajarlah sampai ke negeri China”, sudah saatnya kamu belajar. China sudah bertamu di teras ‘rumah’. Belajarlah sungguh-sungguh agar tidak menyesal. Barangsiapa yang tidak belajar, maka niscaya akan menyesal. Apa kamu masih marah, terus jengkel?

Dengarkan aku, Indonesia jangan coba-coba menantang China. Prabowo dan Luhut sudah tahu itu. Meliter Indonesia tidak akan mampu melawan. Kekuatan meliter China 20 kali lipatnya meliter Indonesia. Duh, Indonesia gak ada apa-apanya. Wong Indonesia masih ‘ngemis’ ke mereka; Amerika dan China. Tanpa China dan Amerika, kita tidak akan merasakan kemajuan teknologi, kemajuan ekonomi, dan kemajuan berpikir.

Sudahlah, damai aja napa sih? Ikhlaskan saj, asal jangan ke rumahku, sebab di rumahku itu ‘bebas ngamen’. Mulai sekarang ayo berdamai dengan diri sendiri, karena aku peduli kamu. Nanti kamu bisa stress kalau terus protes. Nanti kita kavling tanah Indonesia seperti di Irak dan Libya lalu kasi ke mereka. Misalnya, Amerika meminta Jawa, kita kasi. China minta Sumatera, kita berikan. Inggris memilih Kalimantan, monggo ambil. Rusia pilih Sulawesi, biakan saja. dst. Betapa indahnya berbagi.

Kalau kamu tidak menurut padaku, dan menduduhku yang bukan-bukan sebelum menyelesaikan tulisan ini. Betapa bodohnya. Aku beritahu satu hal lagi; kamu itu menggemaskan. Ethos perjuanganmu yang ‘ketiduran’ namun sangat bersemangat merespon keadaan. Dulu pertengahan tahun 2017, jelas-jelas pemerintah Indonesia menawarkan Bitung, Sulawesi Utara melalui skema investasi pelabuhan. Pemerintah mempersilahkan. Wow, itu cuma contoh akal sehat pemerintah. Protes sana gih.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sejak reformasi, China menjelma menjadi on country two system. Elaborasi sosialis dan kapitalis. Swasta boleh kapitalis, pemerintah yang sosialis. Expansi bisnis ke luar negara china, dan meliter China di belakangnya. Watak mereka itu ekspansionis. China berambisi membangun infrastrukturnya sendiri, membangun jalur transportasinya sendiri di luar negeri. Praktis, mimpi Indonesia sebagai poros maritim dunia ada dalam bayang-bayang China. Nggak apa-apa, laut kita masih banyak.

Dan tidak lama lagi setelah China, India dan Rusia akan menyusul sebagai kekuatan dunia. Kita tonton saja, seperti menonton televisi, yang mempertontonkan kesibukan politisi dalam urusan politik dalam negeri dan lupa acuh dengan politik luar negeri. Politik luar negeri China berubah dari defensif menjadi agresif. Indonesia kok lemes gitu ya, mungkin kamu jengah, bahkan Jepang saja gemes dengan sikap Indonesia, apalagi kamu. Aku memahamimu.

Ini prediksi World Bank tahun 2025, Tiongkok akan menjadi kekuatan ekonomi nomer satu di dunia. Dan pada tahun 2050, akan menjadi kekuatan militer nomer satu di dunia. Sedangkan prediksi saya, Indonesia akan tetap gaduh dengan urusannya, seperti yang sudah-sudah. Tetap santuy, kayak kaum rebahan, gitu aja lebih baik. Nggak usah ikut-ikutan

Kalau tetap pada pendirianmu. Pulang, kamu bukan kapal perang. Mandi, bersih-bersih, bekerja, menanam bunga, membajak sawah, berbisnis, berkarya, lulus kuliah, menikah, menjadi kaya, bantu orang, berabdi negara, tidak korupsi, belajar, tidak buang sampah sembarangan, tidak mabuk dan sebagainya dan sebagainya. 

Makanya jangan disitu terus. Agar 10 tahun kemudian, di 2030 Indonesia menjadi negara maju. Melebihi China dan Amerika. Menjadi negara yang ngutangin bukan ngutangan. Karena hutang Indonesia ke China capai 59,61 persen selama setahun terakhir, maka untuk sementara lebih baik miring ke Amerika, dia sahabat lama. Jika miring ke Amerika, Jepang, korea, Vietnam dan sekutu lainnya pasti bantu kok. Tapi buat apa, gitu aja kok repot.

Strategi harus cantik, bukan memohon lewat jalur diplomatik. Jelas-jelas China yang salah, sebagai ketetapan United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982. China tidak akan merespon penyelesaian lewat jalur diplomatik dengan pemerintah Indonesia. Tidak akan. Tapi kenapa suka membesar-besarkan masalah, apa tidak lebih baik kita ngopi dan menikmati kretek CK?

Bangsa China juga makhluk tuhan. Sedekahkan saja sebagian dari wilayah Indonesia kepada China dan diiringi dengan lagu Indonesia Raya Stanza 2 dan 3. Banyak-banyaklah beramal karena pahalanya banyak.

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Anekdot

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Anekdot

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet… Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement