Connect with us

Hi, what are you looking for?

Community

Tentang Rasa Cukup

Selamat kuucapkan. Berbahagialah rencana Tuhan lebih besar dari keinginanmu. Berbahagialah seperti bayi – bayi ibu yang terlahir.

Sedang tidak kemana – mana. Sekedar terhembus oleh rasa, dan kurasa itu kamu. Dimanapun kapanpun. Hatimu mungkin tak melihat tapi alam raya punya rasa. Hari berlalu dan  masih terbelenggu pada kebosanan yang sama. Tak ku katakan itu pada harimu mungkin saja itu pada hatimu sendiri. Selamat pagi, selamat malam , lewat begitu saja tanpa ada makna tanpa ada asa.  Dunia terlanjur berputar dengan porosnya dan tidak untukku, aku diam. Detik terhitung, dan aku sekali lagi tak beruntung. Melewati detik hanya sebagai kewajiban jantung berdetak untuk raganya, tak berarti.

Tak kuceritakan itu lainnya, itu aku sendiri ragaku jiwaku.  Harus aku memohon maaf pada semesta dan ragaku, pada duniaku pada kesempatanku sampai membawa pada arus kebosanan. Kau tau? Selama tiga tahun hamper lebih aku hanya berkutat pada hal yang sama; keyboard, suara printer, tendangan kaki – kaki itu pada semua yang bisa ditendang dan tertendang selalu mengisi gendang telingaku hamper pecah, hampir.   

Harus kukatakan mungkin atau memang harus kukatakan segera. Aku bosan! dan sejenisnya. Merasakan dunia seperti sedang baik – baik saja. Padahal kita memang sedang diberi kesempatan untuk tidak baik baik saja.  Sesama manusia disekelilingku satu dua dari mereka yang hanya tahu kata bosan yang sering  kerap terbisikan. Delapan sampai Sembilan lainnya hanya sibuk memberi semangat tanpa tahu semangat apa yang harus ku kerjakan. Dan kukatakan maaf.

Kesempatan yang tak lain semua bisa dapatkan harusnya tak membuatku bosan. Harusnya harus ku tegaskan. Tapi sekali lagi aku hanya bisa maaf. Duniaku melemah ketika semua yang kuteriaki hanya diam terpaku pada kepentingan masing – masing. Walaupun aku tahu aku juga berkepentingan pada diriku sendiri. Bagaimana tidak aku hanya menuntut manusia lainnya untuk mengerti aku, tapi tidak sebaliknya. Sekali lagi raga selalu kuucapkan maaf.

Sekilas mungkin aku hanya perlu menoleh kebelakang sedikit untuk menjadikan semua syukur nikmat dari yang Esa dan semesta. Aku butuh pertolongan tapi terlalu keras aku berteriak, terlalu keras aku meminta, terlalu. Dan kau tahu pertolongan itu dekat hanya pada sebuah keheningan, pada sebuah keikhlasan. Dekat yang membuat terluka. Maaf kali ini kusampaikan pada semesta. Aku kecil tapi tak tahu diri, tak tahu arti.

Harusnya mungkin; cukupkanlah pada semua yang ada pada kesempatan, pada raga, pada jiwa yang terlahir pada ruang ini. Dan kuyakini cukupkanlah. Cukuplah aku hanya butuh sembuh sebab aku tak mungkin pergi sebelum usai pada akhirnya. Aku tak mau menjadi manusia yang tak bertanggungjawab pada hidupku sendiri. Semua harus diperbaiki dan ;yang perlu diperbaiki adalah hati untuk raga. Yang perlu diperbaiki adalah syukur atas cukup. Yang perlu diperbaiki adalah cara menikmati. Bukan begitu?

Rencana bisa berubah harus bisa lebih dari ini, jalan bisa berubah, rasa bisa terubah. Dan tak harus terjebak pada rasa ini. Jalan masih panjang. Manfaat masih bisa diperbesar. Perjalanan masih perlu diisi tanpa terjebak masa ini. Melalui dengan haluan baru dan langkah kakimu masih menjangkau ,ragamu masih muda, semangatmu apa lagi. Ambisi masih bisa terisi. Mungkin kopimu belum kau habiskan pada tetes terakhir yang berarti.

Pada suatu hari tidak sekarang, tidak yang seberarti sekarang harimu mungkin akan terbalik, gelombang akan membawa  kikisan sembilu pada sebuah narasi yang memang telah tertoreh pada darah ini. Bersiap berlari jauh dari langkah kaki sekarang yang terporak porandakan. Esok pasti ada cahaya yang kembali dalam yang terlihat. Suara baru terdengar, jalan kembali baru dan terlahir kembali. Kita akan diberi kesempatan untuk memberi lagi pada arti yang sesungguhnya berarti dalam hidupmu, semestamu. Perjalanan ini diselimuti doa pada hari – hari yang biru sampai kita menjadi besar dan kembali. Hay hidup inikah aku yang baru? berdiri kembali dengan semegah senyumanku, tanganku terbuka lebar untuk siapapun. Aku kembali dan bayanganku yang selama ini tenggelam.

Selamat kuucapkan. Berbahagialah rencana Tuhan lebih besar dari keinginanmu. Berbahagialah seperti bayi – bayi ibu yang terlahir. 

Comments

Kamu juga membaca..

Inspirasi

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja, hingga tiada waktu untuk sambat.

Inspirasi

Selamat ulang tahun di hari ini, harapan demi harapan sudah terwujud satu demi satu, teruslah berjalan, berjuang, dan berdoa untuk masa depanmu, orang tuamu,...

Inspirasi

"Sedangkan di tangannya sendiri hanya tergenggam kehampaan sebagai anak yatim yang tidak dinafkahi oleh bapaknya."

Kritik Serius

Perihal kita hari ini yang sedemikian canggih dengan berbagai teknologi modern berbasis internet. Menjadikan perubahan adalah bagian hidup itu sendiri. Seperti hitung-hitungan dalam matematika...

Tips

Pemuda, Yang digadang-gadang selalu menjadi pilar kebangkitan bangsa. Salah satu bagian terpenting di setiap masa, sekaligus menjadi tantangan yang harus dimonitoring secara arif dan...

Community

Buat apa pendidikan formal, jika hanya melahirkan generasi dungu. Kau tahu, bahwa program pendidikan dan kurikulum yang demikian, hanya mampu melahirkan “manusia instan”.

Kritik

Manusia terdiri dari badan dan nyawa, hidup di dunia adalah anugerah besar dari Tuhan yang maha esa. Sungguh indah dinamika di dalamnya seperti pelangi...

Kritik Serius

Wahai bangsaku, wahai bangsaku Cinta tanah air bagian dari iman Cintailah tanah air ini, wahai bangsaku jangan kalian menjadi orang terjajah Sungguh kesempurnaan itu...

Kritik Santai

"Woalah, mas. Gak merana gimana to, lhawong saya ini jadi ganteng bisa, jadi wangi bisa, apalagi sekedar jadi pejabat, ya mudah. Kok tega sekali...

Kritik Serius

Kami rindu, rindu akan masa depan yang kita tidak pernah tahu. Siapa dapat memprediksi Indonesia di masa depan? ente bisa? (ketawa), jika wawasan dan...

Advertisement