Connect with us

Hi, what are you looking for?

Anekdot

Yakinlah, Bima Akan Segera Datang

Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.

“Sabar, tidak ada sikap yang paling mendamaikan hati, melainkan sabar dan ikhlas.” Suara Bima terdengar, pada jiwa yang sedang nestapa, merasakan getar suara itu seperti mendengar hujan di tengah malam; tidak hanya sejuk, hujan di malam hari sangat dinanti sepasang merpati.


Andai suara Bima terdengar lagi di masa-masa genting seperti ini, tentu kita rakyat Hastina; tidak mungkin gundah dan tidak mungkin bingung menghadapi persoalan semacam ini.
Negeri Hastina sedang dirundung lara, rakyat-rakyat seolah dipaksa memilih; antara diam dalam kelaparan atau bekerja untuk kematian.


Setiap hari, suara tangis bergemuruh di ladang Kurawa. Mereka tak mungkin melawan, jiwa dan raga mereka tak mungkin mempan bertanding dengan hukum. Aturan dibuat layaknya senapan, dirangkai dan dipergunakan untuk berburu hewan-hewan liar.


“Akulah hewan liar itu, Bima. Dan kami semua yang di ladang-ladang ini, yang setiap hari diburu moncong senapan. Biarlah kami mati demi nafkah anak-anak kami.”
Kalimat-kalimat itu, keluar setiap hari, setiap detik, terdengar saling bergantian, dan tangis-tangis mereka jatuh selebat hujan.


Bima, yang dinanti-nanti, tak kunjung tiba. Setelah sekian lama pergi, bersama seorang kakak dan tiga adiknya. Jauh meninggalkan mahkota raja, menapaki hari-hari di tengah hutan belantara. Mereka berlima pergi bukan karena kalah, melainkan untuk mencari bumi pengasingan, menjauhkan diri dari pilar kekuasaan sebab tipu daya kaum durjana.


Namun, sebab kepergian Bima, negeri Hastina semakin hari semakin habis. Tanah-tanah dijual, sawah-sawah digadaikan, dan kini; setelah tiada lagi alam yang bisa dijadikan uang, mau tidak mau rakyat dirampas hak kehidupannya.
“Dengan air mata mana lagi, agar kamu bisa datang membela kami, Bima ?” Doa-doa berderu setiap malam, mengharap agar Bima segera datang.


Benar, Bima memang sosok urakan. Perilakunya tidak mencerminkan kesopanan, dia tidak punya bahasa halus saat berbicara dengan siapapun. “Tapi kami sadar, apa gunanya kata-kata halus dan manis, jika mereka hanya sok peduli dengan kami, mereka hanya manis di depan kami, tapi semua itu berakhir dengan perampasan hak kehidupan kami, Bima?”


Mungkin, Bima hampir saja datang. Dia beserta kakak dan tiga adiknya sudah pernah sepakat untuk kembali. Mereka sudah sampai di Hastina pura pada suatu malam. Karena tidak mungkin pada tengah malam itu, mereka bertemu dengan rakyat, maka dipersilahkan istirahat untuk semalam di sebuah rumah peristirahatan. Rumah itu sengaja disiapkan oleh pihak kerajaan.


Tapi siapa sangka, Sengkuni memang tidak pernah habis akal busuknya. Dia bakar rumah itu, hingga api berkobar-kobar. Semua rakyat bangun dan menyaksikan, mereka baru menyadari bahwa orang-orang di tengah api adalah keluarga Bima. Dan kabar dari kerajaan; Bima dan seluruh keluarganya sudah mati. Semua rakyat diharap kumpul untuk menyaksikan pemakaman.


Peristiwa malam itu berhasil mengelabuhi seluruh bangsa, bahwa Bima dan keluarganya memang mati di rumah yang terbakar.
Tapi tidak dengan Semar, dia tahu bahwa Bima dan keluarganya masih hidup. Pada malam itu; Bima dengan sangat cepat mengemasi semua barang, dan dengan sangat sigap dia rengkuh semua keluarganya. Hingga akhirnya berhasil keluar dari rumah dan kerajaan berkat lorong kecil yang ditunjukkan oleh seekor musang.

Advertisement. Scroll to continue reading.


Kabar dari Semar, sempat dianggap sebagai kabar yang mengada-ada. Tapi lambat laun, rakyat mulai berfikir ulang, dan kini mereka mulai percaya bahwa Bima masih hidup. Dia dinanti-nanti untuk kembali.

Comments

Kamu juga membaca..

Kritik Santai

Bolehkah kita menjadi manusia merdeka tanpa intervensi, kecuali Tuhan itu sendiri?

Kritik

Biar kalau keluar rumah, kita sama-sama kompak, menjalankan protokol kesehatan

Kritik

Semestinya, pemerintahan tahu, bahwa tak ada pinjaman yang tak sarat kepentingan. Tentu, selalu ada kepentingan dan agenda tersembunyi yang biasanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah...

Kritik

Karena birokrasi korup itu sangat cocok dikelola oleh orang-orang yang tak punya cinta.

Kritik

Berbagi sedikit dengan bangsa lain, aku kira tidak jadi masalah dan tidak akan habis

Inspirasi

Terlepas dari segala ke-awam-anku tentang hadits dan sumber-sumber kitab, aku tetap ingin mengetahuimu, Rasul, hingga mendalam. Aku sudah mencicipi bangku pesantren, beberapa tahun berjalan,...

Inspirasi

Panggung sudah menipumu, eksistensi palsu ibarat bius yang mematikan saraf kaki realitas.

Anekdot

Ini salah siapa, ini dosa siapa, tanyakan pada Pak Domo, Pak Domo, Pasukan Doger Monyet… Nyanyian itu, mungkin adalah satu-satunya lagu yang tersisa, dari...

Kritik Serius

“Sampai kapan kita akan melawan penjajah dengan pertumpahan darah, jika kita tidak segera bergegas untuk melawan di wilayah pengetahuan?”

Community

Demokrasi usai diselenggarakan, sementara. Baik para peserta, undangan maupun tuan rumah pesta pada tidak sabar menanti hasilnya (hasil pesta). Mungkin saja saya yang kurang...

Advertisement